Idea Catra

Memilih Guru Agama di Tengah Krisis Moral dan Rusaknya Otoritas Keagamaan

catrawarta.com — Di tengah maraknya kebangkitan pesantren dan dakwah Islam, umat Islam juga sedang menghadapi kenyataan kemerosotan moral sebagian oknum kiai dan...

Old man with white beard and turban teaching two boys in a dim warm lit room with a manuscript on a rug
Ilustrasi: Memilih Guru Agama di Tengah Krisis Moral dan Rusaknya Otoritas Keagamaan. Pexels.com

catrawarta.comDi tengah maraknya kebangkitan pesantren dan dakwah Islam, umat Islam juga sedang menghadapi kenyataan kemerosotan moral sebagian oknum kiai dan guru agama. Belakangan publik diguncang berbagai kasus pelecehan seksual, kekerasan, penipuan, hingga penyalahgunaan kekuasaan di lingkungan pesantren. 

Kasus terbaru di Pati, Jawa Tengah, misalnya, membuka mata banyak orang setelah seorang oknum kiai diduga mencabuli puluhan santriwatinya sendiri. Peristiwa seperti ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanah ilmu dan agama.

Fenomena itu menjadi peringatan keras bahwa tidak semua orang yang memakai simbol agama layak dijadikan panutan. Banyak lembaga pendidikan agama rusak bukan karena ilmunya kurang, tetapi karena pemimpinnya terjebak politik, kekuasaan, ekonomi, popularitas, dan cinta dunia. Ketika agama dijadikan alat mencari pengaruh, uang, atau kekuasaan, maka keberkahan ilmu hilang. Padahal ulama salaf sejak dahulu telah mengingatkan bahwa kerusakan agama sering dimulai dari rusaknya ulama.

Karena itu, memilih guru agama tidak boleh asal kagum, viral, atau sekadar terkenal. Dalam tradisi Islam, memilih guru adalah urusan serius karena guru bukan hanya mengajar ilmu. Guru membentuk arah hidup, akhlak, bahkan keselamatan akhirat muridnya.

Imam Az-Zarnuji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim menegaskan bahwa seorang penuntut ilmu harus selektif dalam mencari guru. Beliau menganjurkan memilih guru yang paling alim, wara’, dan lebih tua atau lebih matang pengalaman hidupnya. Nasihat ini sepertinya sederhana, namun sesungguhnya sangat dalam. Sebab kerusakan ilmu sering bermula dari salah memilih guru.

Guru Bukan Sekadar Pengajar, Tapi Pewaris Cahaya

Dalam Islam, ilmu bukan hanya kumpulan teori. Ilmu adalah cahaya yang hidup dalam hati. Karena itu, ulama salaf tidak hanya melihat kepintaran seseorang, tetapi juga adab, ibadah, dan akhlaknya.

Imam Malik pernah berkata: “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Sementara Abdullah bin Mubarak mengingatkan: “Sanad adalah bagian dari agama. Kalau tidak ada sanad, siapa pun bisa berkata sesuka hatinya.”

Karena itu, kejelasan sanad keilmuan menjadi sangat penting. Seorang guru agama harus memiliki riwayat belajar yang jelas. Guru belajar kepada siapa, kitab apa yang dikaji, bagaimana akhlaknya, dan bagaimana tradisi ilmunya. Ilmu agama tidak lahir dari potongan video pendek atau sekadar kemampuan retorika. Ilmu diwariskan melalui talaqqi, keteladanan, dan keberkahan majelis.

Allah berfirman: “Maka bertanyalah kepada ahlul dzikr (orang yang berilmu) jika kalian tidak mengetahui.”

(QS. An-Nahl: 43)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memerintahkan umatnya belajar kepada orang yang benar-benar ahli, bukan kepada sembarang orang.

Kriteria utama guru ngaji bukan hanya alim, tetapi juga wara’. Wara’ adalah sikap hati-hati terhadap perkara haram, syubhat, riya’, kesombongan, dan cinta dunia berlebihan.

Guru yang wara’ menjaga lisan, makanan, harta, dan perilakunya. Ia tidak mudah menghina orang lain, tidak gemar ghibah, tidak suka memecah belah umat, serta tidak menjadikan agama sebagai alat mencari popularitas atau kekuasaan.

Imam Syafi’i pernah mengadukan buruknya hafalan kepada gurunya, lalu gurunya menasihati agar meninggalkan maksiat. Sebab ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada hati yang kotor.

Karena itu, penting memilih guru yang ucapan dan perbuatannya sejalan. Ia mengajarkan shalat lalu menjaga shalatnya. Ia mengajarkan tawadhu lalu hidup sederhana. Ia berbicara tentang zuhud tetapi tidak diperbudak kemewahan dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah orang alim yang ilmunya tidak bermanfaat.” (HR. Thabrani)

Ilmu tanpa amal akan kehilangan keberkahan. Sebaliknya, guru yang mengamalkan ilmunya akan melahirkan murid yang hidup ilmunya. 

Hindari Guru yang Gemar Menyesatkan dan Memecah Belah

Ulama salaf juga mengingatkan agar menjauhi guru yang bodoh, mengikuti hawa nafsu, suka berdusta, atau gemar menyerang pihak lain.

Ciri guru yang tidak sehat adalah ceramahnya dipenuhi kebencian, celaan, provokasi, dan merasa kelompoknya paling benar sendiri. Dakwahnya sibuk membongkar aib orang lain tetapi lalai membersihkan hati sendiri. Padahal Rasulullah ﷺ diutus untuk menyempurnakan akhlak, bukan memperluas permusuhan.

Guru yang baik akan menenangkan hati murid, menguatkan tauhid, menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasulullah ﷺ, serta mengajak manusia semakin lembut kepada sesama. Guru yang baik tidak mudah berimprovisasi. Setiap ceramahnya, selalu berpegang pada kitab-kitab agama. 

Lingkungan belajar juga sangat menentukan. Carilah pesantren dan guru yang egaliter, memuliakan santri sebagai amanah. Santri objek kekuasaan. Rasulullah SAW adalah teladan utama kesetaraan (egalitarianisme).  Beliau menempatkan diri sebagai pelayan umat (khadimul ummah), pelayan ilmu bukan penguasa yang minta dilayani.

Tradisi pesantren dibangun di atas khidmah, kasih sayang, dan keteladanan. Kiai yang baik melayani umat (santri), memperhatikan perkembangan santri, membimbing dengan sabar, dan menjaga hubungan batin dengan murid-muridnya.

Dalam banyak pesantren salaf, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual. Keberhasilan pendidikan juga lihat dari iman, ilmu, ibadah, dan ikhlas.

Guru yang baik tidak hanya mengajar di kelas. Guru sebaiknya hadir dalam kehidupan santrinya. Mendoakan, membina, menegur dengan kasih sayang, dan memberi teladan hidup.

Jangan Mudah Berpindah Guru

Dalam Ta’lim al-Muta’allim juga dijelaskan pentingnya keteguhan hati dalam belajar. Setelah menemukan guru yang baik, murid dianjurkan istiqamah dan sabar. Jangan mudah berpindah-pindah guru hanya karena bosan atau tergoda popularitas.

Ilmu membutuhkan kesabaran panjang. Hubungan murid dan guru bukan hubungan transaksional, melainkan hubungan ruhani dan pendidikan akhlak.

Para ulama besar dahulu bertahun-tahun duduk di hadapan satu guru demi memperoleh keberkahan ilmu. Mereka tidak tergesa-gesa ingin terkenal atau merasa paling pintar.

Peran Besar Orang Tua dalam Keberhasilan Anak Menuntut Ilmu

Ketika orang tua menyerahkan anak belajar agama kepada kiai atau pesantren, sesungguhnya orang tua juga sedang menjalani perjuangan ruhani. Tugas orang tua tidak berhenti saat anak masuk pondok.

Orang tua harus terus meridhai, mendoakan, dan menirakati anaknya. Dalam tradisi ulama pesantren, doa orang tua adalah benteng utama keselamatan anak.

Banyak ulama menganjurkan agar orang tua rutin menghadiahkan bacaan Al-Fatihah untuk anak setelah shalat wajib. Ada yang mengamalkan 11 kali, bahkan sebagian kiai seperti KH Chudlori menganjurkan hingga 41 kali sebagai bentuk doa dan tirakat batin.

Selain itu, orang tua dianjurkan memperbanyak silaturahim kepada ulama dan orang saleh, berziarah kepada makam para wali, alim ulama, leluhur, serta memperbanyak doa agar anak dijaga Allah dari fitnah zaman.

Semua itu bukan sekadar tradisi budaya, tetapi bentuk pengharapan kepada Allah agar anak mendapat keberkahan ilmu dan dipertemukan dengan guru yang lurus.

Tujuan utama mencari guru agama bukan mencari status sosial, gelar, atau kebanggaan dunia. Ilmu agama adalah jalan mendekat kepada Allah.

Guru yang baik akan mengarahkan murid agar tidak bergantung kepada uang, jabatan, dan pujian manusia. Ia mengajarkan zuhud, tawakal, keikhlasan, serta cinta kepada Allah dan Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Karena itu, memilih guru sejatinya adalah memilih arah hidup. Jika gurunya benar, ilmunya benar, akhlaknya benar, maka insya Allah perjalanan hidup murid juga akan lurus.

Di tengah zaman penuh fitnah, popularitas, dan kegaduhan dakwah digital, umat Islam perlu kembali kepada tradisi ilmu para ulama salaf. Belajar dengan adab, memilih guru dengan hati-hati, menjaga hormat kepada alim ulama, dan memohon pertolongan Allah dalam setiap langkah.

Sebab ilmu yang berkah tidak hanya membuat seseorang pintar berbicara. Ilmu berkah membuat hati semakin takut kepada Allah, semakin lembut kepada manusia, dan semakin dekat kepada jalan keselamatan. (Berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *