Warta

Tingkatkan Cakupan Vaksinasi, 11 Provinsi KLB Campak

catrawarta.com — Sebanyak 11 provinsi di Indonesia menyatakan adanya kejadian luar biasa (KLB). Selain itu, 17 kabupaten/kota juga menyandang predikat yang sama....

VAKSINASI: Ilustrasi vaksinasi pada anak agar terhindar dari campak.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comSebanyak 11 provinsi di Indonesia menyatakan adanya kejadian luar biasa (KLB). Selain itu, 17 kabupaten/kota juga menyandang predikat yang sama. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan ketika merasakan gejala.

Data tersebut merupakan hasil laporan Kementerian Kesehatan RI. Kementerian melaporkan terjadi peningkatan suspek campak dengan jumlah total kasus seluruh Indonesia mencapai 8.224. Kasus sebanyak itu terjadi pada rentang Waktu 1 Januar hingga 23 Februari 2026.

Dokter anak Dr dr Rr Ratni Indrawanti SpA(K) memaparkan berdasarkan data kementerian, 13 KLB campak pada 6 provinsi telah terkonfirmasi laboratorium. Kasus KLB campak terbanyak ada di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

”Jumlah besar peningkatan kasus perlu perhatian serius meskipun belum tentu langsung masuk kategori sebagai darurat kesehatan apabila masih dapat dikendalikan,” tandas Ratni.

Ia menjelaskan, kondisi darurat kesehatan terjadi ketika ada peningkatan kasus secara cepat dan meluas hingga menimbulkan dampak serius seperti kematian. Kecuali itu, kesulitan dalam pengendalian.

Penanganan Harus Optimal

Pada kasus campak yang muncul di sejumlah daerah di Indonesia, pemerintah diharapkan masih bisa mengendalikannya. Dengan catatan, ada upaya penanganan yang maksimal di seluruh daerah KLB.

Menurut Ratni, dari lebih 8.000 kasus yang muncul memerlukan perhatian dan penanganan secara serius. Hasilnya, kasus dapat ditangani dengan surveilans yang baik, cepat, serta peningkatan cakupan vaksinasi, sehingga dapat dikendalikan.

”Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus campak yakni menurunnya cakupan vaksinasi,” ujarnya.

Ia melihat penurunan tersebut karena beberapa hal. Seperti, keterbatasan akses layanan kesehatan, jarak yang jauh, hingga berkurangnya kegiatan imunisasi. Penyebaran informasi yang keliru mengenai vaksin ikut memengaruhi kepercayaan masyarakat. Akibatnya ada saja yang tak mau imunisasi.

Ratni menegaskan, campak tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan. Ia menekankan, apabila tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia atau radang paru-paru hingga kematian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *