catrawarta.com — Dua nama yang menjadi judul di atas merupakan pejuang antikorupsi. Keduanya meninggal di tangan-tangan sadis yang kemungkinan merupakan kaki tangan mafia korupsi.
Yang pertama, Paulus Iwan Budi, ASN Kota Semarang yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan. Terbakar dengan sebagian anggota tubuh dimutilasi termasuk kepala yang sampai sekarang tidak ditemukan. Rencananya, ia akan memberi kesaksian kasus korupsi di Kota Semarang.
Kedua, Ermanto Usman, vokal menyuarakan korupsi di tubuh salah satu perusahaan besar yang ia duga melibatkan sejumlah elite. Mereka memiliki kesamaan, peduli pada kasus korupsi dan meninggal diduga karena persoalan tersebut.
Kota Semarang terkenal sebagai smart city. Banyak cctv terpasang di hampir seluruh wilayah. Namun, saat kasus Iwan terjadi pada tahun 2022, sebagian cctv konon kabarnya tidak menyala. Akibatnya perjalanan korban sampai ke lokasi penemuan di pantai Semarang tidak terdeteksi.
Hanya sebagian kecil cctv yang bisa menayangkannya. Bahkan di lokasi penemuan, mereka yang melintasi daerah tersebut harus melewati penjagaan, tapi lagi-lagi Iwan tidak terdeteksi.
Sinyal Kuat Pelaku
Polisi telah melakukan berbagai upaya, Kapolda waktu itu Irjen Pol Ahmad Lutfi yang sekarang menjadi Gubernur Jawa Tengah sudah memberi sinyal kuat dugaan pelaku. Begitu pula Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa saat itu juga telah memberi tanda dan menyatakan polisi sudah memiliki bukti awal kuat.
Namun demikian, semua seperti menabrak tembok besar. Tak satupun yang akhirnya bisa menuntaskan kasus Paulus Iwan Budi Prasetyo. Keluarga pasrah, mereka lelah karena banyak ”tekanan”. Untuk membuat acara doa di rumah saja, ada pihak yang melarang.
Hingga kini, kasus tersebut tertutup rapat. Para petinggi kepolisian dan juga TNI telah berusaha membuka tetapi tidak mempan. Seperti ada penghalang yang tak bakal bisa mereka tembus.
Pembunuhan Ermanto
Hampir sama dengan kejadian Paulus Iwan, belum lama menimpa pensiunan PT Jakarta International Container Terminal (JITC), Ermanto Usman. Ia ditemukan meninggal di rumahnya, Bekasi, setelah diserang orang tidak dikenal. Polisi menyatakan menemui sejumlah kendala dalam proses pengungkapan.
Anggota DPR RI Rieke Dyah Pitaloka turun gunung. Ia mengungkapkan ada keanehan yang menimpa keluarga Ermanto. Ada orang yang beberapa kali menghubungi dan menyatakan ingin bertemu istri korban. Padahal istri korban masih dalam kondisi kritis akibat serangan orang tak dikenal.
”Istri Ermanto merupakan saksi kunci sekaligus korban. Bagaimana mungkin saksi yang sedang kritis dipaksa untuk diwawancara?” tanya Rieke dalam akun media sosialnya, @riekediahp.
Kasus penghilangan nyawa banyak terjadi di Indonesia, dan sampai sekarang tidak terungkap. Peristiwa 1998 juga membayang sampai sekarang, sejumlah aktivis hilang dan tidak kembali. Keluarga Paulus Iwan, Ermanto dan juga banyak lagi lainnya berharap ada kebesaran hati aparat untuk berani mengungkapnya. Semoga!

Demokrasi Berisik di Media Sosial 