catrawarta.com — Perpustakaan “ARUM”—akronim dari Anak, Remaja, dan Umum—dirintis sekitar tahun 2010 di Perumahan Puspa Indah, Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak awal, perpustakaan ini dimaksudkan sebagai wadah kegiatan anak dan remaja di lingkungan tersebut.
Kala itu, jumlah anak dan remaja di perumahan cukup banyak. Sebagian sudah kuliah, lainnya masih duduk di bangku SMA, SMP, hingga sekolah dasar. Melihat potensi tersebut, ibu-ibu PKK menggagas pendirian perpustakaan dalam sebuah pertemuan warga.
Berbagai upaya dilakukan untuk mewujudkannya. Mulai dari membuat lemari buku, mengumpulkan koleksi, hingga mendata dan mengelompokkan buku layaknya perpustakaan pada umumnya. “Kami juga mengundang pustakawan untuk memberikan pelatihan tentang pengelolaan perpustakaan, pembuatan katalog, dan hal-hal teknis lainnya,” ujar Ny. Endah Prabawati, salah satu perintis Perpustakaan ARUM, Kamis (23/4/2026).
Mencari Donasi Buku
Pengurus juga aktif mencari donasi buku. Mereka mengajukan proposal ke penerbit dan mendatangi pameran buku yang saat itu kerap digelar di berbagai tempat seperti Gedung Wanita, UNY, dan JEC. “Biasanya panitia pameran mengumpulkan donasi buku untuk dibagikan. Kesempatan itu kami manfaatkan, sehingga perpustakaan kami mendapat tambahan koleksi,” kenang Endah.
Setelah semua siap, Perpustakaan ARUM resmi dibuka dan menempati salah satu sudut Gedung Serbaguna di Perumahan Puspa Indah. Pengelolaannya dilakukan secara bergantian. Pengunjung bisa membaca secara lesehan di aula, sementara peminjaman buku dikenai biaya sewa yang masuk ke kas perpustakaan.
Pada periode 2010 hingga sekitar 2018, jumlah pembaca dan peminjam tergolong cukup baik. Namun seiring waktu, aktivitas perpustakaan mulai menurun. Banyak pengelola awal yang melanjutkan studi, bekerja di luar kota, atau menikah, sehingga tidak lagi aktif. Di sisi lain, generasi setelah tahun 2020 dinilai kurang tertarik untuk terlibat. “Mengajak anak-anak sekarang untuk aktif kembali cukup sulit,” ungkap Endah.
Keberadaannya Memberi Manfaat
Meski demikian, Perpustakaan ARUM tetap bertahan. Walau jumlah pengunjung menurun dan sebagian besar bukan dari generasi muda, melainkan orang dewasa hingga lansia, keberadaannya masih memberi manfaat. “Tidak apa-apa meskipun pembacanya berkurang. Yang penting perpustakaan ini tetap ada,” kata Endah.
Hingga kini, Perpustakaan ARUM masih menjadi bagian dari aktivitas Gedung Serbaguna. Di tempat yang sama, setiap tanggal 29 diselenggarakan Posyandu Lansia, dan setiap minggu kedua ada Posyandu Balita. Keberadaan perpustakaan setidaknya melengkapi kegiatan sosial warga.
Meski koleksi buku sudah lama tidak bertambah, sebagian masih relevan—mulai dari tema sosial, ekonomi, humaniora, kesehatan, hingga keagamaan.

Kolaborasi dengan BPJS, Koperasi Merah Putih Garda Terdepan Akses Kesehatan 