catrawarta.com — Kasus bunuh diri di Indonesia rata-rata dalam sebulan mencapai 100. Jumlah yang luar biasa banyak karena satu kasus saja sudah banyak. Karena itu, perlu pencegahan dengan berbagai cara supaya kasus menurun bahkan zero.
Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) UGM, Nurul Kusuma Hidayati M Psi Psikolog mengatakan, dari jumlah tersebut, sekitar 7,66 persen kasus bunuh diri terjadi pada remaja berusia di bawah 17 tahun.
Ia menjelaskan, kelompok usia yang paling rentan melakukan aksi bunuh diri yakni masyarakat dengan usia produktif, 30-59 tahun, dengan jumlah sekitar 594 orang. Pusiknas Bareskrim Polri mengidentifikasi lima kategori profesi dengan jumlah kasus bunuh diri paling banyak.
Para petani menempati urutan pertama dengan 107 orang, diikuti oleh karyawan swasta sejumlah 91 orang, dan wiraswasta 83 orang. Sementara itu, buruh harian lepas tercatat sebanyak 54 orang, dan yang tak kalah memprihatinkan adalah pelajar atau mahasiswa dengan jumlah kasus bunuh diri mencapai 50 orang.
Angka Hanya Gambaran
”Angka tersebut hanya bagian dari gambaran sebenarnya, bukan data seutuhnya. Laporan kasus bunuh diri di Indonesia cenderung masih rendah dan banyak under-reporting, sehingga kasus tidak terlapor bisa jadi lebih banyak daripada angka resmi,” papar Nurul.
Tahun 2025, angka bunuh diri sudah mencapai lebih dari 1.000 kasus di Indonesia. Sudah sepatutnya hal tersebut menjadi semacam ”wake-up call” yang serius bagi masyarakat. Begitu pula para pemangku kepentingan agar bisa bersama-sama melakukan antisipasi.
Fenomena tersebut menurut Nurul dapat menjadi dasar untuk melihat sejumlah hal penting akibat tekanan psikologis yang semakin kompleks. Beban ekonomi, psikologis, tuntutan sosial, hingga tekanan akibat tuntutan gaya hidup dan harapan yang tinggi yang tidak terkelola dengan baik menjadi salah satu bentuk kompleksitas masyarakat.
Akses Penanganan Psikologis
Menurutnya, tidak semua individu dengan gangguan mental mendapatkan akses penanganan psikologis yang memadai. Angka-angka kasus bunuh diri saat ini bukan hanya statistik, tetapi merupakan kebutuhan krusial untuk meningkatkan literasi kesehatan mental, dan membangun sistem kesehatan mental yang terintegrasi.
”Perlu upaya yang mencakup upaya promosi, prevensi, kurasi, dan rehabilitasi pada keluarga, masyarakat, komunitas, sekolah, tempat kerja, maupun layanan kesehatan masyarakat,” jelas Nurul.
Menyinggung pelaku bunuh diri berasal dari kelompok usia produktif, ia menyebut fase ini secara umum merupakan fase hidup yang produktif, namun penuh dengan beban dan tanggung jawab. Sering kali disebut sebagai fase ”tanggung jawab ganda”.
Ia memberi gambaran, seperti karier sedang berada di puncak tuntutan dan komitmen, sementara di sisi lain tanggung jawab terhadap diri dan keluarga juga sedang besar-besarnya. Pada kelompok usia ini, tekanan tidak bersumber dari satu masalah saja, namun sudah merupakan akumulasi dari berbagai hal.
Cenderung Lebih Rentan
Nurul memaparkan, pada fase-fase produktif tersebut, mereka cenderung lebih rentan mengalami masalah atau gangguan kesehatan mental. Salah satunya membuat mereka berpikir untuk melakukan tindakan ekstrem sebagai bentuk penyelesaian.
Persoalan lain, stigma masyarakat terkait kesehatan mental. Salah satu yang sering terjadi, masalah kesehatan mental sering dipersepsikan sebagai kondisi lain seperti dianggap aib keluarga atau gagal dalam mendidik.
Akibatnya, orang lebih memilih untuk menutup diri karena merasa tidak memiliki ruang aman untuk berbagi. Stigma masyarakat menjadi hambatan terbesar. Literasi kesehatan mental yang rendah, pandangan mengenai usia produktif harus tangguh dalam menjalani hidup, dan ketakutan akan dianggap lemah membuat individu enggan untuk mengakses layanan psikologis.
”Guna melakukan proses pencegahan bunuh diri, perlu upaya secara sistematis melibatkan seluruh pihak, seperti keluarga, masyarakat, tempat kerja, institusi pendidikan, serta pihak pengambil kebijakan. Menurut WHO, pencegahan bunuh diri yang efektif harus berbasis komunitas dan multi sektor. Ini merupakan tanggung jawab bersama,” tandas Nurul.

Intelektual Kalah dengan Cinta, Mahasiswi Dibacok Mahasiswa di UIN Suska 