Warta

Intelektual Kalah dengan Cinta, Mahasiswi Dibacok Mahasiswa di UIN Suska

catrawarta.com — Ruang sidang di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN) Suska Riau, Pekanbaru, pada Rabu pagi, 26 Februari 2026, semula...

Potongan gambar video yang menampilkan pembacokan di depan ruang sidang uin suska riau kamis 26 februari 2026
Potongan gambar dari video yang menampilkan pembacokan di depan ruang sidang UIN Suska Riau, Kamis, 26 Februari 2026.

catrawarta.comRuang sidang di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN) Suska Riau, Pekanbaru, pada Rabu pagi, 26 Februari 2026, semula hanya dimaksudkan sebagai ruang prosedural. Sebuah ruang di mana mahasiswa duduk, mendengar, menunggu giliran, dan menjalani tahapan akademik yang telah ditentukan. Namun sekitar pukul 10.30 WIB, fungsi itu terputus.

Seorang mahasiswi berinisial RRR diserang oleh sesama mahasiswa, MF, yang datang membawa kapak. Serangan itu terjadi tanpa percakapan panjang, tanpa tanda yang cukup untuk dikenali sebagai peristiwa yang akan segera terjadi. Luka di bagian kening dan tangan menjadi bukti pertama, sebelum ruang itu sendiri berubah menjadi tempat evakuasi. Korban dilarikan ke fasilitas kesehatan. Pelaku diamankan tidak lama setelahnya.

Dugaan awal mengarah pada konflik pribadi. Sebuah sebab yang, dalam kehidupan sehari-hari, sering berada di wilayah yang tidak terdokumentasi. Ia hidup dalam percakapan singkat, dalam pesan yang tidak tersimpan lama, dalam ketegangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Konflik personal biasanya tetap berada di ruang personal. Namun kali ini, ia muncul di ruang yang dirancang untuk hal lain.

Ruang sidang adalah simbol keteraturan. Ia dibangun untuk memastikan bahwa setiap proses berjalan sesuai urutan. Bahwa argumen disampaikan melalui kata-kata, bukan melalui tindakan fisik. Bahwa perbedaan diselesaikan melalui prosedur, bukan melalui konfrontasi. Namun simbol tidak selalu identik dengan kenyataan. Ia hanya menunjukkan apa yang diharapkan, bukan apa yang pasti terjadi.

Mahasiswa sering dipahami sebagai bagian dari komunitas intelektual. Sebuah komunitas yang diasumsikan bergerak melalui rasionalitas. Tetapi rasionalitas tidak pernah sepenuhnya menghapus dimensi lain dari manusia. Di dalam setiap individu, terdapat lapisan pengalaman yang tidak selalu dapat diatur oleh norma institusional. Kampus mengatur jadwal, kurikulum, dan evaluasi. Ia tidak mengatur seluruh isi batin penghuninya.

Yang terasa mengganggu dari peristiwa ini bukan semata tindakan kekerasannya, tetapi kedekatannya dengan keseharian. Pelaku dan korban tidak berasal dari dunia yang jauh. Mereka adalah bagian dari lingkungan yang sama. Mereka berjalan di koridor yang sama, duduk di ruang yang sama, dan hidup dalam ritme institusi yang sama. Kekerasan itu tidak menembus kampus dari luar. Ia muncul dari dalam.

Setelah peristiwa ini, ruang sidang itu akan kembali digunakan. Kursi akan kembali ditempati. Prosedur akan kembali dijalankan. Secara fisik, tidak ada yang berubah secara permanen. Namun ingatan tentang peristiwa itu akan menetap sebagai kemungkinan.

Ia menjadi pengingat bahwa di balik setiap sistem yang tertata, selalu ada sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dipastikan. Bahwa institusi dapat membentuk struktur, tetapi tidak pernah sepenuhnya menghapus ketidakpastian yang dibawa oleh manusia itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *