Catra Cendekia, Catra Milenia

Banyak Juga Penderita Gangguan Jiwa, yang Terdeteksi 28 Juta Orang!

catrawarta.com — Penderita gangguan jiwa ternyata tidak sedikit. Angkanya ternyata sangat mengejutkan, 28 juta jiwa! Persoalan tersebut tak bisa dianggap sepele kalau...

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS PKU Muhammadiyah Gamping, Dr Warih Andan Puspitasari.(Foto: istimewa)

catrawarta.comPenderita gangguan jiwa ternyata tidak sedikit. Angkanya ternyata sangat mengejutkan, 28 juta jiwa! Persoalan tersebut tak bisa dianggap sepele kalau ingin bangsa ini maju dan berkembang. Kesehatan mental menjadi kunci utama kemajuan bangsa.

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat sekitar 28 juta masyarakat Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan realitas tersebut pada rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Gedung Parlemen RI, Jakarta.

”Pernyataan Kemenkes justru mencerminkan meningkatnya perhatian dan kepedulian pemerintah terhadap isu kesehatan jiwa sebagai bagian penting dalam kebijakan kesehatan nasional. Data tersebut, dapat menjadi pijakan strategis untuk penguatan layanan kesehatan jiwa,” papar Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS PKU Muhammadiyah Gamping, Dr Warih Andan Puspitasari.

Setara dengan Kesehatan Fisik

Jumlah tersebut menurut Warih, bukan untuk menimbulkan kepanikan, tetapi sebagai alarm kesehatan jiwa yang perlu mendapat perhatian setara dengan kesehatan fisik. Data epidemiologi itu penting sebagai dasar perencanaan kebijakan dan pengembangan layanan kesehatan jiwa.

Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Psikiatri UMY ini mengungkapkan, spektrum gangguan jiwa sangat luas. Mulai dari gangguan ringan hingga berat, serta dapat dialami oleh seluruh kelompok usia, dari anak-anak hingga lansia. Setiap kelompok usia memiliki faktor risiko yang berbeda-beda.

Secara epidemiologis, gangguan yang paling banyak dialami masyarakat yakni gangguan kecemasan dan gangguan depresi dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

Sementara itu, gangguan jiwa berat seperti gangguan psikotik atau skizofrenia jumlahnya relatif lebih kecil, tetapi dampaknya signifikan sehingga lebih mudah dikenali oleh masyarakat.

Sering Kali Tidak Tertangani

”Gangguan mental berat memang lebih mudah terlihat karena dampak perilakunya yang nyata. Namun, gangguan kecemasan dan depresi justru jauh lebih banyak dan sering kali tidak tertangani,” jelasnya.

Ia menekankan, gangguan jiwa bukanlah bentuk kelemahan individu. Ini masalah kesehatan yang dapat dicegah, dideteksi sejak dini, diobati, dan dipulihkan dengan manajemen serta dukungan yang tepat.

Mengenai penyebab, Warih mengatakan gangguan jiwa tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Faktor biologis, seperti ketidakseimbangan neurotransmiter, gangguan fungsi otak, atau trauma pada sistem saraf pusat, dapat berinteraksi dengan faktor psikologis dan sosial.

”Tekanan ekonomi, pola asuh, ketahanan mental, dukungan sosial, serta stres kehidupan juga turut meningkatkan risiko gangguan kejiwaan,” imbuhnya.

Ketimpangan Jumlah Psikiater

Warih menyoroti timpangnya rasio jumlah psikiater dibandingkan dengan jumlah penduduk, yang berdampak pada belum meratanya akses layanan kesehatan jiwa, terutama di wilayah-wilayah tertentu.

”Rasio psikiater dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia masih sangat jauh dari ideal,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai langkah mendesak yang perlu dilakukan pemerintah, memperkuat upaya promotif dan preventif. Misalnya, peningkatan literasi kesehatan jiwa, promosi gaya hidup sehat, manajemen stres, deteksi dini melalui puskesmas. Tak ketinggalan, penyediaan layanan kesehatan jiwa yang terjangkau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *