Warta

Menaker Dorong Balai K3 Proaktif, Fokus Tekan Fatalitas Kecelakaan Kerja

catrawarta.com — Kecelakaan kerja yang dialami para buruh atau pekerja, utamanya di sektor perusahaan swasta masih sering terjadi. Oleh karena itu, Menteri...

Menaker Yassierli meninjau Balai Besar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (BBK3) Jakarta. (Humas Kemenaker)

catrawarta.comKecelakaan kerja yang dialami para buruh atau pekerja, utamanya di sektor perusahaan swasta masih sering terjadi. Oleh karena itu, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan pentingnya transformasi peran Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan kecelakaan kerja di Indonesia.

Ia meminta seluruh jajaran Balai K3 untuk tidak lagi bersifat reaktif, melainkan proaktif dalam mengidentifikasi dan mengendalikan potensi risiko di tempat kerja. “Upaya promotif dan preventif harus diperkuat secara masif. Balai K3 harus bergerak lebih aktif dalam pengawasan dan edukasi agar angka fatalitas dapat ditekan secara signifikan,” ujarnya ketika memberikan keterangan pers, di Jakarta, Rabu (15/4/2026)

Yassierli menekankan, perlindungan tenaga kerja tidak cukup dilakukan setelah insiden terjadi. Namun,  pendekatan promotif dan preventif harus menjadi prioritas utama guna menekan angka kecelakaan kerja, khususnya yang berujung fatalitas.

Perlu Penguatan Peran Balai K3

Ia menilai, penguatan peran Balai K3 menjadi krusial karena setiap kecelakaan kerja tidak hanya berdampak pada korban secara individu, tetapi juga berimplikasi luas terhadap keberlangsungan keluarga pekerja serta menurunkan kepercayaan terhadap sistem perlindungan ketenagakerjaan secara keseluruhan.

Menaker Yassierli menggarisbawahi,  Balai K3 perlu bertransformasi menjadi institusi yang tidak sekadar menjalankan fungsi teknis, tetapi juga mampu membaca tren risiko, membangun budaya keselamatan kerja, serta menghadirkan strategi pencegahan yang efektif di lapangan.

Untuk mencapai target tersebut, pihaknya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, menurutnya, tidak dapat bekerja sendiri dalam menurunkan angka kecelakaan kerja. Keterlibatan dunia usaha dan mitra strategis seperti Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3) menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem K3 nasional.

“PJK3 bukan pesaing, melainkan mitra strategis. Kolaborasi ini penting agar tujuan besar kita, yaitu menurunkan angka kecelakaan kerja secara nasional, dapat tercapai,” katanya.

Peningkatan Kapasitas Sumberdaya Manusia

Selain memperkuat sinergi, Yassierli juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan Balai K3.  Pegawai tidak cukup hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga harus memiliki kemampuan manajerial dan analisis data yang kuat.

Menurut Menteri, para penguji dan pengawas K3 perlu berkembang menjadi profesional yang komprehensif dengan penguasaan terhadap budaya K3, Sistem Manajemen K3 (SMK3), manajemen risiko, hingga statistik. Hal ini penting agar setiap rekomendasi yang dihasilkan tidak berhenti pada temuan teknis semata, tetapi mampu menjadi dasar kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan para pejabat fungsional, mulai dari instruktur, pengawas, hingga mediator, untuk terus meningkatkan kompetensi seiring dengan jenjang karier. Semakin tinggi posisi, kata dia, orientasi kerja harus bergeser ke arah perumusan kebijakan yang berdampak luas.

Dengan dorongan transformasi tersebut, pemerintah berharap Balai K3 mampu menjadi motor utama dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, produktif, dan berkelanjutan di seluruh sektor industri di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *