catrawarta.com — Guru profesional, sejahtera, dan terus berkembang menjadi prioritas utama pemerintah agar pendidikan semakin bermutu. Namun, gaji guru honorer Rp 100.000an masih ada dan mereka tetap berkarya di tengah keprihatinan. Bukan hanya guru, fasilitas sekolah seadanya juga masih banyak.
Bahkan lebih miris lagi, banyak guru di daerah pelosok yang harus berjalan kaki ke sekolah, begitu pula para muridnya. Jangan tanya sepeda motor, sepeda onthel saja tidak ada. Jangan tanya angkutan umum karena sangat jarang ada transportasi umum di pelosok.
Kini, nasib guru berada di titik nadir terutama mereka yang non pegawai negeri atau non ASN. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bakal mengakhiri karya guru non ASN hingga 31 Desember 2026. Dalam Surat Edaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dalam surat tertera guru non ASN tetap melaksanakan tugas pada Satuan Pendidikan yang diselenggarakan pemerintah daerah. Penugasan guru non ASN dilaksanakan sampai dengan 31 Desember 2026. Tidak ada keterangan apakah setelah itu masih ditugaskan mengajar atau tidak.
Janji Politik
Tahun 2023, ada janji politik yang menyatakan setiap guru akan mendapat tambahan gaji Rp 2 juta per bulan selama 13 bulan. Pernyataan itu disampaikan secara langsung oleh pengusaha Hashim Djojohadikusumo. Semua guru, termasuk honorer. Bahkan, ia menyatakan pernyataan direkam karena pemerintahan Prabowo-Gibran tidak akan bohong.
Namun demikian kenyataan di lapangan tidak seindah yang dibayangkan. Masih banyak guru, terutama yang honorer, jauh dari kata layak. Ada yang sudah puluhan tahun mengajar dengan gaji di bawah UMK. Ada pula yang tak hanya jauh tetapi sangat jauh sekali karena hanya ratusan ribu rupiah per bulan.
Kendati demikian, mereka tetap mengabdi karen tak ingin anak-anak kehilangan akses pendidikan. Para guru tetap mengajar meski jauh dari fasilitas layak.
Pendidikan Bermutu
Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam rilisnya memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, menyatakan 2 Mei sebagai momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.
Peringatan tahun ini menegaskan kembali bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, tetapi sebuah upaya besar untuk membentuk manusia seutuhnya.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, bersama sejumlah pejabat di lingkup Kabupaten Boyolali, hadir di SMP Negeri 1 Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah untuk merayakan peringatan Hardiknas.
Mengutip pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, yang dibacakan oleh Nunuk, guru merupakan kunci dalam mewujudkan transformasi pendidikan nasional. Kualitas sumber daya manusia Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kualitas guru, sehingga upaya membangun guru yang profesional, sejahtera, dan terus berkembang menjadi prioritas utama pemerintah.
Kemendikdasmen terus mendorong pemenuhan kualifikasi, peningkatan kompetensi, serta kesejahteraan guru sebagai kunci utama pembelajaran yang berkualitas. Transformasi pendidikan hanya dapat terjadi apabila guru tidak hanya diposisikan sebagai pelaksana kebijakan, tetapi sebagai subjek utama perubahan.
Karena itu, seluruh kebijakan pengembangan guru dirancang untuk memastikan bahwa setiap guru di Indonesia memiliki akses terhadap peningkatan kompetensi, kesejahteraan, dan ruang belajar yang berkelanjutan, sebagai fondasi utama dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua.

Ancaman terhadap Jurnalis Semakin Kompleks 