Catra Budaya, Warta

KRT Sumodiningrat, Panglima Keraton yang Gugur di Geger Sepehi

catrawarta.com — KRT Sumodiningrat adalah bangsawan Kesultanan Yogyakarta sekaligus panglima pasukan yang gugur dalam peristiwa Geger Sepehi pada 20 Juni 1812. Ia...

Makam ditetapkan sebagai cagar budaya Bantul

catrawarta.comKRT Sumodiningrat adalah bangsawan Kesultanan Yogyakarta sekaligus panglima pasukan yang gugur dalam peristiwa Geger Sepehi pada 20 Juni 1812. Ia merupakan cucu Sri Sultan Hamengkubuwono I dan menantu Sri Sultan Hamengkubuwono II. Dalam sejarah Jawa namanya tidak banyak ditulis, tetapi perannya nyata dalam fase kritis runtuhnya kedaulatan keraton akibat serbuan Inggris.

Menurut Yaser Arafat, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sumodiningrat dikenal dalam sumber kolonial dan babad Jawa dengan julukan Singo Barong. Julukan ini merujuk pada karakter keras, berani, dan tidak mudah tunduk. Secara nasab ia merupakan keturunan Kiai Ageng Penjawi yang bersambung ke Syaikh Maghribi, jalur elite spiritual dan politik Mataram Islam.

Sumodiningrat adalah putra KRT Jayaningrat I, menantu Sultan Hamengkubuwono I. Ia sendiri menikah dengan GKR Bendara, putri Sultan Hamengkubuwono II, namun tidak memiliki keturunan. Jejak hidupnya lebih kuat tercatat melalui sikap politik dan pilihan moral, bukan garis darah.

Saat Inggris menguasai Jawa di bawah pemerintahan Thomas Stamford Raffles, Yogyakarta berada dalam tekanan besar. Banyak elite memilih jalan kompromi demi menyelamatkan posisi dan harta. Sumodiningrat mengambil sikap berbeda. Ia menolak tunduk dan memilih perlawanan bersenjata.

Perlawanan itu memuncak dalam Geger Sepehi, konflik antara pasukan keraton dengan tentara Inggris yang diperkuat serdadu India (sepoy) dan Legiun Mangkunegaran. Babad Sepehi, karya Pangeran Mangkudiningrat—putra Sultan HB II yang terlibat langsung dalam peristiwa—mencatat bahwa Sumodiningrat turun langsung sebagai panglima lapangan dan gugur di tengah pertempuran.

Kesedihan pengikutnya terekam dalam surat yang kemudian dikutip sejarawan Peter Carey: “Koyo kewan neng wono mboten ingkang gadah wono.Mereka merasa kehilangan arah, seperti binatang hutan yang kehilangan hutannya. Ungkapan ini menunjukkan posisi Sumodiningrat bukan hanya sebagai atasan tetapi sebagai figur pelindung.

Jenazah Sumodiningrat baru dievakuasi pukul 22.00 malam. Para punggawanya memandikan dan menguburkannya di Jejeran, sekitar 10 kilometer selatan Yogyakarta. Ia dimakamkan di tanah pamutihan miliknya di Pasarean Astana Gedong, Wonokromo, Bantul, di sisi barat Masjid Kagungan Dalem Mi’rajul Muttaqinallah yang dahulu dikenal sebagai Masjid Sumadiningratan. Makamnya berada dalam cungkup khusus di dekat makam Kiai Kriyan (Kiai Wonokriyo), ulama besar Mataram Islam dan leluhurnya.

Dalam hal kepribadian, Sumodiningrat dikenal tegas dan konsisten. Ia menolak permintaan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada masa sebelumnya dan tidak bersedia tunduk kepada Inggris. Ia menjalankan etika bangsawan Mataram: jabatan adalah amanah, bukan alat mencari selamat.

Keberpihakannya kepada rakyat tampak dari pilihannya turun ke medan perang bersama prajurit. Ia tidak menggunakan rakyat sebagai perisai politik, dan tidak berlindung di balik status darah biru. Dalam pandangan Jawa, sikap ini mencerminkan ksatria sejati yaitu berani bertanggung jawab atas keputusan sendiri.

Patriotisme Sumodiningrat tidak lahir dari gagasan nasionalisme modern, tetapi dari kesadaran darma. Ia melihat penjajahan sebagai ancaman terhadap martabat rakyat dan tatanan hidup. Karena itu, ia memilih melawan, meski sadar konsekuensinya adalah kematian.

Melalui SK Bupati Bantul Nomor 667 tahun 2025, makam KRT Sumodiningrat ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Penetapan ini menegaskan bahwa sejarah tidak hanya milik tokoh besar yang menang, tetapi juga milik mereka yang gugur mempertahankan prinsip.

KRT Sumodiningrat adalah contoh bangsawan yang berpihak, panglima yang bertanggung jawab, dan pejuang yang memilih mati di medan perang daripada hidup dalam kompromi. Sejarah mencatatnya singkat, tetapi sikapnya jelas. Dan kita sebagai generasi penerus harus meneladani keberpihakannya pada kebenaran.

Nisan Makam KRT Sumadiningrat di Makam Wali Jejeran Wonokromo Pleret Bantul Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *