catrawarta.com — Presiden Prabowo Subianto kini tengah menerima sorotan tajam. Pidatonya yang geram soal reaksi keras masyarakat menilai Indonesia suram berbuntut viral di media sosial.
Dengan tegas dan lantang, Prabowo mengungkap jika masyarakat bisa mencari negara lain apabila merasa negara Indonesia suram. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Prabowo dalam pidatonya saat menghadiri acara puncak peringatan Hari Koperasi ke-79 2026 di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7) lalu.
“Yang ragu-ragu silakan duduk di rumah saja. Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang,” tegasnya.
Dia menilai, masyarakat seharusnya bersatu untuk memajukan Indonesia agar menjadi negara maju. Rakyat yang memiliki kekuatan bisa mulai untuk membantu yang lemah.
“Kalau di Indonesia mohonlah mari, mari kita bersatu, mari kita gotong royong, mari kita bekerja sama. Yang kuat bantu yang lemah, yang lemah kerjasama yang baik. Insyaallah kita akan bangkit, saudara-saudara,” tambahnya.
Lebih lanjut, dia menuturkan jika karakter asli masyarakat Indonesia yakni saling memaafkan, mengasihi, memahami, dan membantu. Sehingga, menurutnya, saling bertikai bukan jalan keluar terbaiknya.
“Tidak ada keberhasilan dengan pertikaian. Tidak ada. Untuk apa kita bertikai? Kita ini satu keluarga. Apapun latar belakang kita, apapun suku kita, apapun latar belakang kita, apapun partai kita, semua partai banyak patriot dan semua partai banyak bajingannya juga,” tandas Prabowo.
Gaya Komunikasi Dikritik Akademisi
Jika melihat sekilas ke belakang, Prabowo rasanya bukan sekali saja dengan lantang dan berani melontarkan omongan yang cukup pedas. Pada saat berbicara dalam Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6) lalu, dia juga sempat melempar kata ‘ndasmu’.
Meski langsung diimbuhi permintaan maaf atas umpatannya dan bergurau soal menghapus rekaman video itu, sayangnya momen itu telah menjadi jejak digital yang meluas.
Kemudian, ada juga ketika Prabowo pada Februari 2025 lalu mengklarifikasi dirinya soal boneka Jokowi. Kala itu, dia juga menepis desas-desus ini dengan nada yang cukup tinggi.
Soal gaya komunikasi Prabowo ini, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Nurudin angkat bicara. Menurut Nuzurudin, sebenarnya secara sosiologis dalam adat Jawa, mengumpat merupakan hal yang masih wajar ketika jengkel.
Namun ketika hal ini dilakukan oleh orang nomor satu di negeri, dia menyebut jika hal ini kurang etis dan bernilai negatif.
“Cara seseorang berbicara sering kali menunjukkan cara ia berpikir dan memimpin. Pemimpin yang tenang biasanya menjawab kritik dengan argumentasi berdasar data,” jelas Nurudin, melansir dari lama resmi UMM, Senin (13/7).
Baginya, ada langkah konkret dan mendesak yang harus segera Istana lakukan. Lingkaran Istana harus memberikan informasi yang faktual dan nyata jika memang gaya komunikasi Prabowo ini seringkali menimbulkan keresahan di dalam masyarakat sendiri.
“Presiden membutuhkan menteri yang berani menyampaikan fakta, bukan sekadar kabar yang menyenangkan. Membutuhkan penasihat yang mampu mengatakan, ‘Pak, data di lapangan tidak seperti itu,”
Sebab, Presiden merupakan orang yang seharusnya paling dipercaya oleh publik. Setiap katanya disebut Nurudin punya makna dan bisa menjadi pesan tersendiri bagi banyak orang.
“Setiap kata Presiden memiliki makna. Pesannya bukan sekadar suara. Melainkan pesan yang didengar jutaan orang,” tandasnya.

Tahun Ajaran Baru, Sejumlah Sekolah Mulai Tolak Program MBG 