catrawarta.com — Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lombok Tengah mengungkap kronologi insiden kebakaran yang melibatkan lima santri di Pondok Pesantren Rosyidatussaulatiyyah Al-Ibrahimi NW, Desa Aik Darek, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Peristiwa yang terjadi pada 13 Desember 2025 itu menyebabkan empat santri mengalami luka bakar, sementara seorang santri meninggal dunia setelah beberapa waktu menjalani perawatan akibat luka bakar berat.
Berdasarkan laporan Kementerian Agama, kejadian bermula sekitar pukul 13.45 Wita saat waktu istirahat siang. Lima santri diketahui berkumpul di sebuah ruangan di lingkungan pondok pesantren.
Salah seorang santri, Moh. Reyhan, meminta temannya membeli bensin yang rencananya digunakan untuk meluruskan kayu bengkok sebagai bahan pembuatan ketapel.
Kelima santri kemudian masuk ke dalam ruangan dan mengunci pintu agar aktivitas mereka tidak diketahui oleh pengasuh maupun pimpinan pondok pesantren.
Di dalam ruangan tersebut, mereka menuangkan sebagian bensin ke dalam wadah plastik mika kosong, sementara botol berisi bensin diletakkan di sampingnya dalam keadaan terbuka.
Api kemudian dinyalakan untuk membakar bensin di dalam wadah tersebut. Namun, botol bensin diduga tersenggol hingga memicu percikan api yang menyambar kasur bekas yang berada di belakang para santri. Api dengan cepat membesar dan memenuhi ruangan sehingga menyebabkan para santri mengalami luka bakar.
Kementerian Agama mencatat Moh. Reyhan tidak mengalami luka bakar, sedangkan Yusuf Sapi’i mengalami luka ringan pada bagian kaki. Sementara itu, Sahril Sobirin mengalami luka bakar sekitar 60 hingga 70 persen dan sempat menjalani perawatan selama sepekan di RSUD Praya sebelum dipulangkan ke rumah.
Kondisinya kemudian terus menurun hingga akhirnya meninggal dunia pada Februari 2026, sehari menjelang bulan Ramadan. Santri lainnya, Ahmad Deven Ramadhan, mengalami luka bakar sekitar 30 hingga 40 persen dan sempat menjalani operasi. Adapun Sahid Al Hudri mengalami luka bakar sekitar 20 hingga 30 persen.
Kementerian Agama menyebut pihak pondok pesantren telah memfasilitasi mediasi antara keluarga para santri yang terlibat dan keluarga korban dengan disaksikan oleh kepala dusun dan ketua RT setempat.
“Hasil mediasi menghasilkan kesepakatan damai, keluarga pelaku memberikan santunan sebesar Rp5 juta kepada masing-masing korban,” demikian bunyi laporan tersebut.
Namun seiring proses damai, kasus itu telah masuk ranah hukum. Polda NTB telah menyidik kasus tersebut meski belum menetapkan siapa yang bertanggungjawab atas insiden menyebabkan seorang anak meninggal dunia dan lainnya mengalami luka bakar.
Dalam perkembangan terbaru, kreator konten dan presenter Denny Sumargo mengundang dua korban kebakaran tersebut untuk hadir dalam program siniar yang dipandunya. Namun keberangkatan kedua korban bersama ibu mereka melalui Bandara Internasional Lombok pada Rabu (8/7/2026) dilaporkan batal.
Menurut informasi yang beredar, kedua korban bersama orang tuanya kemudian dibawa oleh aparat ke Rumah Sakit Bhayangkara Mataram untuk menjalani perawatan lebih lanjut. Melalui media sosial, Denny Sumargo menyampaikan bahwa kedua anak tersebut akhirnya tidak jadi tampil dalam program siniar yang dipandunya.

