catrawarta.com — Kawasan Menteng membara, Minggu (26/7) pagi. Bentrokan maut berlangsung di Jalan Tambak, Keluragan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat terjadi dan menewaskan satu orang.
Dilaporkan, bentrokan ternyata dipicu oleh hal sepele, munculnya cekcok soal sarapan nasi uduk. Seorang warga merasa dia tidak dilayani dengan baik saat membeli seporsi sarapan uduk di lapak penjual yang berlokasi di Jalan Matraman Dalam.
Keributan antara penjual dan pembeli ini lantas merembet dan memicu bentrokan dengan warga sekitar. Lalu ada perusakan gerobak dari kelompok yang membela si pembeli hingga balasan dari kubu si penjual.
Catatan Bentrok di Menteng
Soal bentrokan, Menteng memang bukan kali pertama. Kawasan ini seringkali disebut menjadi titik panas oleh Polisi karena pernah terjadi peristiwa serupa dalam beberapa waktu terakhir.
Gesekan di kalangan pemuda ini tercatat pernah terjadi pada bulan Mei 2025 lalu. Bentrokan massal pecah di kolong perbatasan Jalan Tambak dan Manggarai.
Penyebabnya, tak lain hanya masalah sepele soal petasan. Mainan ini dengan sengaja dilempar dan jadi provokasi bentrokan dari arah RW 12 ke RW 04.
Keisengan para pemuda ini berubah menjadi amarah saat kelompok pemuda yang dituju tersulut provokasi. Mereka kemudian saling serang menggunakan batu, botol, hingga senjata tajam. Ada juga soal kembang api yang sengaja dibakar di tengah jalan hingga membuat amarah kedua belah pihak tak kunjung padam.
Sementara di bulan September 2019 lalu, aksi tawuran besar juga pernah Meletus persisi di jembatan perbatasan Jalan Tambak. Kala itu, ada tiga kelompok warga yang terlibat, termasuk warga Menteng Tenggulun.
Lagi-lagi, penyebabnya hanya masalah sepele yakni aksi saling ejek antar pemudanya di media sosial. Ada juga yang menyebut soal ejekan dilemparkan saat para pemudanya nongkrong di sejumlah titik.
Tawuran pun pecah disertai dengan aksi lempar batu hingga bom molotov di atas rel kereta api. Kawasan itu memanas dan tak kondusif.
Belum lagi soal catatan gesekan konflik agraria yang juga seringkali membuat kawasan ini memanas. Kawasan Pegangsaan hingga Menteng Pulo ini ditengarai memang menjadi titik pusat konflik yang membuat warga berebut lahan kosong untuk dijadikan basis operasi hingga ruang penghidupan.
Bentrokan maut dengan ormas seringkali dipicu oleh kontrol atas aset ekonomi informal seperti lahan parkri hingga uang keamanan di sejumlah titik lokasi. Kawasan Menteng yang padat penduduk ini memang menjadi sarang konflik yang berakar dari sensitivitas warga terhadap hal yang dianggap tak sesuai dengan pandangan.
Dalam penelitian ‘Studi Kasus Tawuran di Wilayah Manggarai, Jakarta Selatan’ di Jurnal Kriminologi Universitas Budi Luhur, bentrokan Menteng ini bisa disebut terjadi karena masyarakatnya dalam kondisi frustasi sosial yang akut.
Sehingga, senggolan kecil saja bisa bertindak sebaagi pemicu dari bom waktu kejenuhan ekonomi atas hidup yang sempit hingga minimnya ruang ekspresi positif bagi pemuda.

Presiden Prabowo Terima Pengunduran Diri Gubernur BI Perry Warjiyo 