catrawarta.com — Perang Amerika Serikat dan Israel yang menyerang Iran belum ada kepastian bakal berakhir. Semua pihak sama-sama menahan diri. Namun demikian, Iran menegaskan ketidakinginannya untuk gencatan senjata.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengungkapkan dalam akun instagram iraninindonesia, negaranya tidak mengatakan gencatan senjata. Mereka ingin mengejar sesuatu yang lain.
”Kami ingin memastikan bahwa kali ini persoalan benar-benar berakhir sepenuhnya, sehingga musuh tidak lagi berani berpikir untuk mengulangi tindaka sepert ini,” tandas Araghchi.
Ia mengatakan, Amerika Serikat harus memahami dengan jelas dengan bangsa seperti apa mereka berhadapan. Bangsa Iran tidak pernah ragu untuk membela dirinya dan memiliki kesiapan untuk melanjutkan perlawanan di mana pun diperlukan.
Araghchi mengatakan, negaranya tidak menginginkan gencatan senjata bukan karena mencari perang tetapi karena kali ini perang harus berakhir. Sedemikian rupa sehingga musuh-musuh Iran tidak akan pernah berpikir untuk mengulangi serangan dan agresi.
”Dan saya pikir sampai sekarang mereka telah belajar pelajaran yang baik dan mengerti dengan bangsa mana mereka berurusan yang tidak ragu untuk membela diri dan siap untuk melanjutkan perang sampai ke manapun dan menyeretnya ke manapun,” tegasnya.
Narasi Tentang Nuklir
Sementara itu, pakar Hubungan Internasional UMY, Dr Ahmad Sahide menilai narasi dominan yang menyebut kepemilikan senjata nuklir oleh Iran sebagai ancaman utama bagi stabilitas Timur Tengah bukan sebagai fakta objektif.
Hal tersebut dipandang lebih sebagai konstruksi politik yang sengaja dibangun oleh Amerika Serikat dan Israel demi kepentingan geopolitik mereka.
”Persepsi yang berkembang selama ini tidak sepenuhnya mencerminkan realitas netral. Ada bias kepentingan yang kuat dalam pembentukan opini publik global terkait program nuklir Teheran,” jelasnya seperti disampaikan Humas UMY kepada media.
Ciptakan Stabilitas Kawasan
Ia menjelaskan wacana nuklir Iran justru berpotensi menciptakan stabilitas melalui mekanisme deterrence atau penangkalan. Dengan kekuatan yang setara, negara-negara di kawasan akan berpikir ulang untuk memulai konfrontasi terbuka yang bersifat destruktif.
Melalui kacamata teori realisme dalam Hubungan Internasional, Sahide menekankan kekuatan militer merupakan jaminan keamanan utama bagi sebuah negara. Dalam dunia yang anarkis, negara harus mandiri dalam melindungi kedaulatannya.
Jika nantinya Iran benar-benar menguasai senjata nuklir, Sahide memprediksi dinamika keamanan kawasan akan mengalami pergeseran besar. Negara-negara tetangga, terutama Arab Saudi, dipastikan akan merombak total strategi keamanan dan kebijakan geopolitik mereka.

Plt Bupati Pati Usul Cabut Izin Pesantren Diduga Cabuli Puluhan Santri, Proses Hukum Sedang Berjalan 