Catra Cendekia, Warta

Hipertensi Anak Meningkat, Pengaruh Pola Makan?

catrawarta.com — Kasus hipertensi tak hanya menimpa dewasa atau orangtua. Dulu, memang begitu. Ada anggapan tensi tinggi atau hipertensi dan sampai stroke...

Mother checks her daughters fever in bed placing a hand on her forehead while the daughter lies under a gray blanket and the mother holds a tablet
SAKIT: Ilustrasi orangtua perlu makin peduli pada kesehatan anak terlebih saat sakit.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comKasus hipertensi tak hanya menimpa dewasa atau orangtua. Dulu, memang begitu. Ada anggapan tensi tinggi atau hipertensi dan sampai stroke merupakan penyakit orangtua. Kini, hal itu tak sepenuhnya benar. Anak-anak pun bisa mengidap hipertensi.

Beberapa waktu lalu, seorang siswa sekolah dasar pingsan. Orangtua segera membawa ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan beberapa saat, ternyata tekanan darah anak sangat tinggi. Beruntung, setelah mendapat perawatan beberapa hari dapat sembuh.

Kini, anak tersebut harus rutin control dan tak boleh makan minum sembarangan terutama yang instan dan kemasan. Nah, kondisi itu tak hanya dialami satu anak. Ada banyak anak yang juga mengalaminya.

Dokter spesialis anak, Bambang Edi Susyanto mengungkapkan data, hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan pada periode 1 Januari – 3 Mei 2026 yang mendeteksi ratusan ribu anak usia sekolah mengalami indikasi tekanan darah tinggi.

Hasil Harus Diulang

Hasil skrining awal tersebut menurutnya belum bisa langsung disimpulkan sebagai diagnosis hipertensi pada anak. Ia mengatakan, hasilnya memang harus diulang dan tidak otomatis menunjukkan anak mengalami hipertensi.

”Tekanan darah perlu diperiksa beberapa kali pada kondisi yang tepat dan pada hari yang berbeda karena ada banyak faktor yang bisa memengaruhi hasil pengukuran, mulai dari kelelahan hingga aktivitas fisik sebelum pemeriksaan,” papar Bambang yang juga dosen Fakultas Kedokteran dalam keterangan tertulisnya.

Namun demikian, ia mengungkapkan tingginya jumlah anak dengan hasil tekanan darah di atas normal tetap menjadi sinyal penting. Fenomena tersebut menunjukkan adanya persoalan kesehatan yang lebih luas, terutama berkaitan dengan perubahan pola hidup anak dan keluarga.

Bambang menilai perubahan pola konsumsi makanan, kebiasaan kurang bergerak, hingga meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses turut memengaruhi meningkatnya risiko hipertensi pada usia anak dan remaja. Kondisi kesehatan anak tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan yang dibangun dalam keluarga.

Masalah Anak dan Keluarga

”Hasil screening tetap penting sebagai warning atau alarm. Ini menunjukkan ada masalah pada anak-anak kita, dan lebih jauh lagi ada masalah pada keluarga. Anak-anak sangat dipengaruhi pola hidup di rumah, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, sampai kebiasaan sehari-hari. Kalau lingkungan keluarganya tidak sehat, anak juga akan ikut terdampak,” paparnya dikutip dari siaran pers UMY.

Hipertensi pada anak, jelasnya, dibedakan menjadi hipertensi sekunder dan hipertensi primer. Hipertensi sekunder biasanya pada anak usia lebih kecil dan berkaitan dengan penyakit tertentu, seperti gangguan ginjal atau kelainan bawaan.

Hipertensi primer lebih banyak ditemukan pada anak usia remaja dan erat kaitannya dengan faktor genetik yang diperburuk oleh pola hidup tidak sehat.

Tantangan terbesar dalam kasus hipertensi anak menurut Bambang, gejalanya yang sering tidak khas sehingga kerap luput dari perhatian orangtua. Banyak anak tidak menunjukkan tanda yang jelas meski tekanan darahnya sudah meningkat. Karena itu, keluarga, orangtua harus tanggap melihat kondisi anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *