catrawarta.com — Media sosial menjadi ruang berbagi yang menarik di kalangan banyak orang. Adapun media berjejaring sosial ini pertama kali yang digunakan ialah platform Sixdegree lalu muncul blog pada tahun 1999 yang membuat pengguna kian berkreasi.
Selanjutnya, media sosial kemudian semakin berkembang dan mengalami perkembangan pesat seperti munculnya Friendster, LinkedIn, MySpace, Facebook, hingga saat ini yang paling populer yakni Instagram yang ditemukan pada tahun 2010.
Achris Bogan dalam bukunya ‘Social Media 101 Tactic dan Tips to Develpo Your Business Online’ pun mendefinisikan media sosial sebagai perangkat komunikasi dan kolaborasi yang memungkinkan munculnya kreativitas yang lebih unik dan interaksi lebih dalam.
Seiring berkembangnya waktu, pengguna media sosial pun menjadi kian aktif untuk berbagi dan berinteraksi dengan teman sesama platform. Namun menariknya, perkembangan media sosial di masa kini turut diwarnai dengan fenomena ‘zero posting’ alias penggunanya sama sekali tak melakukan interaksi ataupun sekadar berbagi aktivitas. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Kyle Chayka dalam The New Yorker.
Meskipun demikian, para pengguna dengan kecenderungan aktivitas demikian ini tetap aktif di media sosial. Namun mereka lebih memilih untuk melakukan hal-hal pasif seperti scrolling, melihat story, dan sebagainya.
Aktivitas ini bahkan hampir dilakukan sebagian besar Generasi Z atau kalangan pemuda di rentang usia 16-25 tahun di masa kini. Laporan yang dikutip Financial Times mengungkap, penggunaan media sosial ini bahkan menurun sekitar 10 persen di berbagai negara, terutama dalam hal berbagi konten pribadi.
Beda halnya dengan pengguna yang sama sekali berhenti atau meninggalkan media sosial. Dalam hal ini, orang yang tak lagi menggunakan media sosial memang tak lagi menyentuh platform untuk berinteraksi dengan pengguna lainnya.
Masifnya Tren Zero Posting
Rupanya, fenomena zero posting ini bukan sekadar sikap pengguna yang malas untuk berbagi. Namun, ada faktor psikologis dan sosial yang cenderung berperan besar dalam membentuk sikap generasi muda di masa kini.
Perubahan lingkungan dari media sosial ini sendiri perlahan membuat pengguna merasa cenderung kewalahan hingga frustasi. Linimasa kini banyak dipenuhi promosi, iklan, hingga kesempurnaan dari para pengguna yang disebut dengan istilah ‘influencer’.
Sehingga, media sosial banyak dirasa bukan lagi sebagai ruang interaksi sosial, melainkan tempat konsumsi informasi hingga memamerkan banyak hal sempurna. Selain sulit mendapat atensi, para pengguna dengan kecenderungan pasif ini lantas merasa lelah dengan tekanan sosial media yang terasa lebih baik dibandingkan kehidupan mereka sendiri.
‘Zero posting’ kemudian muncul dan menjadi tameng mental dari para pengguna pasif yang mengonsumsi banyak konten-konten berbasis iklan hingga kesempurnaan. Survei Harris Poll pada 2026 lalu juga turut menemukan bahwa pengguna Gen Z memilih untuk berdiam diri tanpa posting untuk mengamankan kesehatan mental mereka sendiri dari sorotan miring, komentar negatif, hingga menjauhi rasa tak nyaman buntut dari membandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lain usai mengunggah konten.
Selain itu, generasi masa kini juga kian melek literasi soal budaya digital di masa kini. Mereka kian paham jika informasi yang mereka tanamkan di internet bisa jadi jejak digital di masa yang akan datang. Kesadaran ini memang membuat fenomena ‘zero posting’ meledak, namun kabar baiknya para pengguna kini memiliki kewaspadaan untuk lebih berhati-hati dalam berbagi informasi pribadi.

Prabowo Tetapkan Perpres Soal Kebijakan Pertahanan, LGBT Jadi Ancaman 