Catra Wisata, Warta

Daerah Punya Karakter, Tak Perlu Penyeragaman Atap Bangunan

catrawarta.com — Meskipun mendapat banyak kritik dan masukan, program gentengisasi tetap jalan seperti program MBG. Pemerintah mulai melaksanakannya dari Jatiwangi, Majalengka dengan...

Ilustrasi rumah khas daerah Banten.(Sumber: Dinas Pariwisata Banten)

catrawarta.comMeskipun mendapat banyak kritik dan masukan, program gentengisasi tetap jalan seperti program MBG. Pemerintah mulai melaksanakannya dari Jatiwangi, Majalengka dengan total 14 truk dan 75.000 genteng yang dikirim ke sejumlah daerah.

Pakar teknik sipil Dr Ashar Saputra mengatakan program gentengisasi perlu kajian secara lebih mendalam. Ia mengungkapkan ada tiga aspek utama yang harus dipertimbangkan, yakni aspek teknis, sosial budaya, dan keberlanjutan.

”Ketiganya tidak bisa dipisahkan dalam perencanaan kebijakan pembangunan. Saya tidak langsung mengomentari program gentengisasi tetapi melihatnya dari tiga pendekatan karena setiap material pada atap memiliki konsekuensi yang berbeda,” papar Ashar.

Karakteristik Berbeda

Genteng dan seng memiliki karakteristik yang berbeda, dari sisi kinerja maupun sifat fisiknya. Seng berbentuk lembaran sehingga dapat digunakan pada atap dengan kemiringan rendah, bahkan hingga sekitar 5 persen, tanpa risiko kebocoran.

Genteng membutuhkan kemiringan atap tertentu agar dapat berfungsi dengan aman. Menurutnya, genteng umumnya baru aman digunakan pada kemiringan lebih dari 30 persen. Itu sebenarnya sudah menunjukkan adanya perbedaan teknis yang mendasar.

Ada lagi yang lain, perbedaan berat material juga menjadi faktor penting. Genteng tanah liat, genteng keramik, maupun genteng beton umumnya memiliki bobot yang lebih berat sehingga risikonya struktur atap dan bangunan harus dirancang lebih kuat.

Di daerah yang memiliki kecenderungan bencana seperti gempa, atap yang ringan jauh lebih aman dibandingkan yang berat. Di sini, seng jauh lebih ringan sedangkan genteng tanah sangat berat dan berisiko tinggi.

”Struktur harus mampu menahan atap karena ketika terjadi gempa, massa yang besar juga meningkatkan risiko berat,” tandasnya.

Kelemahan seng, saat terjadi angin kencang berisiko mudah terbawa. Jadi, menurut Ashar tidak ada material yang sepenuhnya tanpa risiko, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Aspek Sosial Budaya

Ia menilai aspek sosial budaya juga tidak bisa diabaikan. Indonesia memiliki keragaman suku, budaya, serta kepercayaan yang memengaruhi bentuk rumah dan materialnya. Beberapa wilayah di Indonesia, masih terdapat kepercayaan, orang yang masih hidup tidak boleh tinggal di bawah material yang berasal dari tanah.

Hal itu membuat masyarakat setempat memilih material atap selain genteng tanah. Persoalannya bukan pada teknis atau estetika, tetapi sosial budaya. Kareanya, tidak bisa kemudian melakukan penyeragaman.

Penggunaan atap seng maupun tanah dapat memengaruhi karakteristik bangunan daerah. Banyak daerah di Indonesia timur yang lebih nyaman menggunakan atap dari daun atau kulit kayu. Dengan demikian, Ashar menegaskan tidak perlu melakukan seragamisasi pada atap bangunan karena masing-masing punya kekhasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *