catrawarta.com — Setiap 19 Februari dunia memperingati Hari Tarik Tambang Internasional. Di balik kesederhanaannya, permainan ini menyimpan filosofi sosial yang kuat bahwa kemenangan hanya lahir dari kekompakan, tidak ada ruang bagi ego, tidak ada kemenangan individual.
Nilai gotong royong, persatuan, dan keadilan sosial adalah inti dari Pancasila. Tarik tambang menjadi metafora konkret sila ketiga “Persatuan Indonesia” dan sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Dalam satu regu, yang kuat menopang yang lemah. Semua bergerak ke satu arah.
Namun realitas hari ini menunjukkan hal sebaliknya. Gotong royong semakin sering terdengar sebagai slogan seremonial, bukan praktik keseharian. Individualisme menguat seiring modernisasi dan kompetisi ekonomi. Orang lebih sibuk memastikan dirinya tidak kalah, daripada memastikan semua tidak terjatuh.
Empati dan simpati—dua fondasi moral gotong royong—ikut terkikis. Dalam banyak peristiwa sosial penderitaan orang lain lebih cepat menjadi bahan tontonan dan obrolan ketimbang aksi cepat untuk membantu. Media sosial mempercepat polarisasi dan memperlebar jarak emosional. Kita mudah menghakimi tapi lambat memahami.
Ketimpangan sosial memperparah keadaan. Dalam logika tarik tambang, mustahil meminta satu regu solid jika sebagian besar merasa terus menahan beban, sementara sebagian kecil menikmati hasil tanpa ikut menarik. Ketidakadilan membuat solidaritas rapuh. Ketika rasa keadilan hilang, semangat kebersamaan ikut luruh.
Polarisasi politik dan identitas juga memperlihatkan bahwa bangsa ini sering kali tidak lagi berada dalam satu regu. Energi habis untuk saling menjatuhkan. Narasi saling curiga mengalahkan kepercayaan. Perbedaan pilihan politik berubah menjadi permusuhan sosial. Tali persatuan ditarik ke dua arah yang berlawanan.
Krisis empati ini berbahaya. Bangsa yang kehilangan empati akan kehilangan daya tahan sosial. Tanpa simpati, kebijakan publik terasa kering. Tanpa gotong royong, pembangunan hanya menjadi proyek angka, bukan kesejahteraan bersama.
Tarik tambang mengajarkan bahwa kemenangan bukan soal siapa paling kuat, tetapi siapa paling setia pada tujuan bersama. Ia menuntut disiplin, solidaritas, dan kesediaan berkorban.
Pertanyaannya, “Apakah kita masih menarik tali ke arah yang sama? Atau justru sibuk membuktikan siapa yang paling benar, paling kuat, dan paling layak menang sendiri?” Jika gotong royong terus memudar dan empati semakin sirna, maka yang putus bukan sekadar tali permainan tapi jalinan kebangsaan itu sendiri.

Hari Trenggiling Sedunia, “Jejak Trenggiling Jawa di Tengah Ancaman Perdagangan Ilegal” 