Warta

Hari Trenggiling Sedunia, “Jejak Trenggiling Jawa di Tengah Ancaman Perdagangan Ilegal”

catrawarta.com — Ia tidak bertaring, tidak bercakar tajam, dan tubuhnya tertutup sisik keras. Namun di balik penampilannya yang tenang, trenggiling jawa menyimpan...

Trenggiling jawa manis javanica
trenggiling jawa (Manis javanica)

catrawarta.comIa tidak bertaring, tidak bercakar tajam, dan tubuhnya tertutup sisik keras. Namun di balik penampilannya yang tenang, trenggiling jawa menyimpan kisah tentang tekanan luar biasa yang kini menempatkannya di ambang kepunahan.

Setiap Sabtu ketiga bulan Februari, dunia memperingati World Pangolin Day atau Hari Trenggiling Sedunia. Peringatan ini pertama kali digagas komunitas konservasi internasional pada 2014 untuk meningkatkan kesadaran global terhadap ancaman perdagangan satwa liar. Pada 2026, misalnya, momentum tersebut jatuh pada 21 Februari.

Bagi Indonesia, peringatan ini bukan sekadar agenda simbolik. Ia menjadi pengingat bahwa salah satu spesies asli Nusantara, trenggiling jawa (Manis javanica), kini berstatus sangat terancam punah dan semakin jarang ditemukan di alam liar.

Status Kritis dan Tren Penurunan Populasi

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), Manis javanica dikategorikan sebagai Critically Endangered (Kritis) dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah. Status ini diberikan karena penurunan populasi yang sangat tajam dalam beberapa dekade terakhir.

IUCN dan sejumlah lembaga konservasi menyebutkan bahwa populasi trenggiling jawa diperkirakan menurun lebih dari 80 persen sejak akhir 1990-an hingga 2019, terutama akibat perburuan dan perdagangan ilegal.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa tidak ada angka pasti jumlah individu yang tersisa di alam. Trenggiling adalah satwa nokturnal, soliter, dan cenderung menghindari manusia, sehingga sangat sulit dipantau secara langsung. Ketiadaan data absolut justru menjadi tantangan besar dalam perumusan kebijakan perlindungan.

Sebagai gambaran tekanan global, data perdagangan dari Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) menunjukkan ratusan ribu trenggiling telah diperdagangkan secara legal sebelum pelarangan total diberlakukan pada 2016. Sejumlah organisasi pemantau memperkirakan angka perdagangan ilegal jauh lebih besar, mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta individu dalam dua dekade terakhir secara global.

Persebaran di Indonesia dan Asia Tenggara

Trenggiling jawa atau Sunda pangolin memiliki wilayah persebaran di:

  • Sumatra
  • Jawa
  • Kalimantan
  • Serta beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam

Di Indonesia, habitatnya mencakup hutan primer, hutan sekunder, hingga kawasan perkebunan yang masih memiliki tutupan vegetasi. Namun, laporan perjumpaan di alam semakin jarang.

Penelitian pemodelan habitat menunjukkan bahwa meskipun secara teoritis masih tersedia kawasan yang cocok bagi trenggiling, fragmentasi hutan dan aksesibilitas wilayah oleh manusia meningkatkan risiko perburuan.

Mengapa Diburu?

Ancaman utama terhadap trenggiling jawa adalah perdagangan ilegal. Sisiknya dipercaya memiliki khasiat dalam pengobatan tradisional di beberapa negara Asia, meskipun secara ilmiah sisik tersebut hanya tersusun dari keratin — zat yang sama dengan kuku dan rambut manusia.

Organisasi pemantau perdagangan satwa liar TRAFFIC menyebut trenggiling sebagai mamalia yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia. Permintaan terhadap sisik dan dagingnya mendorong jaringan perburuan lintas negara yang terorganisir.

Di Indonesia, trenggiling termasuk satwa yang dilindungi penuh berdasarkan regulasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pelanggaran terhadap perlindungan satwa ini dapat dikenakan sanksi pidana sesuai Undang-Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Namun, sejumlah kasus penyitaan sisik dan daging trenggiling yang diungkap aparat menunjukkan bahwa praktik ini masih berlangsung.

Peran Ekologis yang Sering Terlupakan

Secara ekologis, trenggiling memiliki fungsi penting sebagai pengendali populasi semut dan rayap. Seekor trenggiling dewasa dapat mengonsumsi ribuan serangga dalam satu malam. Peran ini membantu menjaga keseimbangan ekosistem, terutama di kawasan hutan tropis.

“Trenggiling bukan hanya spesies unik, tetapi bagian dari sistem ekologis yang lebih besar. Kehilangannya bisa memicu dampak berantai yang tidak langsung terlihat,” ujar seorang peneliti mamalia dari lembaga riset nasional dalam sebuah diskusi publik tentang keanekaragaman hayati.

Hari Trenggiling Sedunia menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap trenggiling jawa bukan sekadar isu satwa liar, tetapi persoalan yang melibatkan ekonomi gelap, mitos kesehatan, penegakan hukum, hingga kesadaran publik.

Ketiadaan angka pasti tentang sisa populasi bukan berarti ancaman itu kecil. Justru sebaliknya, keterbatasan data di tengah tren penurunan drastis menunjukkan betapa rentannya spesies ini.

Jika laju perburuan dan perdagangan ilegal tidak ditekan, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya mengenal trenggiling jawa dari gambar dan catatan ilmiah.

Momentum tahunan ini, pada akhirnya, bukan sekadar peringatan simbolik. Ia adalah kesempatan untuk memahami satu spesies yang diam-diam berada di ambang hilang dari hutan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *