catrawarta.com — TERJADI kemacetan saat libur Natal dan Tahun Baru (NATARU) 2025.
Sebagian besar adalah kendaraan bermotor roda empat dari luar DIY yang melewati Malioboro dan ruas jalan lain di kota Yogyakarta. Hotel/penginapan terinfomasikan penuh. Juga wisatawan yang melimpah ruah (blundag) hilir mudik di Malioboro dan tempat-tempat ikonik lain di kota Yogyakarta. Itu yang diberitakan oleh berbagai media mainstream dan sosial belakangan ini. Terbukti di stasiun Kereta Api (KA).TUGU beberapa waktu lalu, terlihat pemandangan yang berbeda dari keseharian, penumpang dari berbagai daerah berdesak-desakan keluar dari stasiun. Tidak ada data yang pasti, tapi disebutkan dikisaran 150 ribu hingga 200 ribu pelancong setiap hari memadati kota Yogyakarta.
Itu yang di kota Yogyakarta. Belum lagi di berbagai destinasi wisata unggulan yang berada di luar kota Yogyakarta. Sebut saja destinasi wisata ON THE ROCK di Kabupaten Gunung Kidul yang baru diresmikan beberapa hari lalu. Terlihat pelancong mengantri dengan beragam komentar kagum pada tujuan wisata teranyar ini. Meskipun sedikit berlebihan, terungkap pernyataan yang viral tentang “satu Indonesia ke Yogyakarta,” bahkan disebut “satu dunia ke Yogyakarta.” DIY memang istimewa, termasuk dengan suguhan potensi wisata alam (keindahan pantai dan pegunungan), sejarah, seni dan budaya, kuliner dan pusat/tempat belanja oleh-oleh. Dari tujuan wisata pilihan menjadi tujuan wisata utama. Kini, sektor pariwisata menjadi “mesin” baru pertumbuhan ekonomi DIY.
Pemandangan berlawanan terjadi di destinasi wisata tertentu di Indonesia, terlihat lengang, sepi dari pengunjung, terutama wisatawan nusantara (kalau berita itu benar).
Sebaliknya, beberapa negara malah ramai-ramai melakukan kampanye intensif dan memberikan berbagai kemudahan pada pelancong, termasuk dukungan transportasi udara berbiaya terjangkau.
Hal yang sama dilakukan oleh Yogyakarta dengan memanfaatkan kemudahan keterjangkauan transportasi darat dan udara. Tidak kalah pentingnya dalam pengelolaan destinasi wisata senantiasa bertumpu pada keberadaan SDM kreatif yang menyiapkan dan menampilkan kegiatan-kegiatan “atraktif.” Ini mungkin sisi lain yang menyedot/menjadi magnet bagi pengunjung di berbagai destinasi wisata di DIY.
Tidak terkecuali penyediaan tempat-tempat apik untuk pengunjung bisa berswafoto, termasuk berswafoto dengan mengenakan busana adat Jawa. Seperti yang terlihat di sepanjang jalan Malioboro dengan Titik Nol, Istana Kepresidenan, Museum Perjuangan Nasional (Benteng VREDEBURG) dan Pasar Beringharjo.
Pengunjung juga bisa menikmati lagu-lagu dan ikut berjoget bersama group musik di titik-titik tertentu di sepanjang jalan Malioboro. Tidak kalah pentingnya adalah dukungan kondisi lingkungan yang aman dan nyaman, keramahan warga, kebersihan (meskipun sampah meningkat hampir dua kali lipat, akan tetapi masih dapat tertangani dengan baik) serta fasilitas akomodasi (penginapan) dan beragam kuliner yang memadai dan terjangkau secara finansial (ramah kantong).

Revolusi Mental, Menata Arah Menuju Target di 2026 