catrawarta.com — Yogyakarta memang sering dipandang sebagai kota romantis: penuh kenangan, pelan, ramah, dan eksotis. Narasi ini bukan hanya berkembang dalam komentar wisatawan atau netizen, tetapi juga mewarnai sastra dan musik tentang Jogja sebagai simbol cinta dan kesederhanaan. Studi tentang romantisasi kota menyebut Yogyakarta sebagai salah satu kota yang sering digambarkan dengan intensitas emosi tinggi dan estetika yang memikat dalam lagu maupun puisi.
Namun, ada beberapa romantisasi yang perlu dilihat ulang karena jelas tidak merepresentasikan realitas sosial urban kota Jogja hari ini, sehingga justru menjadi narasi yang memudarkan pemahaman kita tentang tantangan kota.
1. Romantisasi Masalah Urban sebagai Keindahan
Salah satu contoh paling sering adalah cara orang menggambarkan ruang kota yang rumit—macet, padat, dan sempit—seolah itu bagian dari keindahan hidup sederhana. Padahal, kondisi tersebut adalah realitas tekanan urban yang serius, bukan estetika hidup. Mengemasnya sebagai romantisme terasa seperti memaksa kota untuk tampil “tenang” di media sosial, sementara kenyataannya warga masih berjuang dengan biaya hidup dan ruang publik yang terbatas.
2. Romantisasi Kenangan Kolektif Bahwa Jogja Selalu “Tenang dan Sederhana”
Narasi bahwa Jogja itu otomatis lebih pelan atau lebih sederhana — dibanding kota-kota lain — bukanlah sesuatu yang mutlak terjadi setiap hari. Banyak pendatang melaporkan pengalaman culture shock saat pertama kali tiba di Jogja: fase initial honeymoon cepat berubah menjadi kesadaran ritme kota yang sesungguhnya. Kenangan dan citra “tenang” sering kali lebih erat dengan harapan daripada pengalaman nyata.
3. Romantisasi Identitas Budaya sebagai Objek Nostalgia
Simbol-simbol budaya seperti Keraton, batik, atau Malioboro sering dipoles menjadi ikon nostalgia yang “tidak berubah.” Padahal warisan budaya itu hidup dan dinamis, bukan hanya sebuah ikon pariwisata atau foto estetik. Ketika budaya menjadi objek konsumsi visual semata, penggunaannya dalam narasi romantik justru bisa mengaburkan kompleksitas sejarah dan perjuangan pelestari budaya itu sendiri.
Romantisasi yang Layak Dirayakan: Ketika Pengalaman Nyata Lebih Bernilai
Romantisasi bukan selalu buruk. Ada aspek-aspek Jogja yang memang layak mendapatkan apresiasi emosional, karena mereka menyentuh pengalaman nyata, bukan sekadar narasi yang dipoles.
1. Komunitas & Solidaritas Sosial
Salah satu hal yang layak diromantisasi di Jogja adalah bagaimana komunitas menguatkan identitas dan solidaritas sosial. Misalnya, fenomena nightlife di Jogja tidak hanya soal hiburan, tetapi juga tentang ruang di mana orang bisa berbagi pengalaman, ekspresi, dan persahabatan. Studi tentang nightlife tourism di Jogja menunjukkan bahwa pengalaman ini sering menciptakan kenangan emosional yang otentik, bukan sekadar citra estetis.
2. Estetika Publik yang Memperkuat Keterikatan
Public art dan estetika kota seperti instalasi seni di ruang publik membentuk hubungan emosional warga dengan lingkungan mereka. Penelitian menunjukkan bahwa karya seni publik di Malioboro memiliki dampak signifikan terhadap keterikatan warga dengan lingkungan mereka — pengalaman nyata yang terkadang lebih bermakna daripada sekadar gambar Instagram.
3. Warisan Budaya yang Hidup dan Dinamis
Budaya tradisional seperti arsitektur Keraton, pertunjukan wayang, atau batik memang layak dirayakan — tetapi bukan sebagai monumen statis. Mereka adalah bagian dari kehidupan sosial yang terus berkembang. Daripada dijadikan simbol estetika belaka, pendekatan yang lebih bernas adalah melihat budaya ini sebagai praktik yang terus beradaptasi, berkontribusi pada identitas, dan membuka dialog lintas generasi.
Kenapa Ini Penting: Menjaga Romantisasi yang Menyambungkan, Bukan Mengaburkan
Romantisasi tidak harus dihapus. Yang perlu dikritisi adalah romantisasi yang mengaburkan kenyataan sosial, menutupi tantangan urban, atau menjual nostalgia sebagai pengalaman nyata. Ketika suatu fenomena hanya dimaknai dari sisi estetika tanpa melihat realitas struktural — seperti biaya hidup, tekanan ruang kota, hingga dinamika budaya yang berubah — kita secara tidak sadar ikut membentuk narasi yang tidak sehat secara sosial maupun kultural.
Sebaliknya, ketika kita meromantisasi hal-hal yang benar-benar memberi nilai emosional tulen — seperti solidaritas komunitas, pengalaman artistik, atau keterikatan terhadap ruang publik — kita justru memperkuat apa yang membuat suatu tempat tetap bermakna bagi kehidupan banyak orang.

Gairahkan Perfilman Indonesia, Netflix Bangun Ruang untuk Berkembang 