Pena Catra

Pendidikan Tanpa Keteladanan: Kita Kehilangan Ki Hadjar di Dalam Diri Kita

catrawarta.com — Tanggal 26 April seharusnya tidak sekadar menjadi penanda wafatnya Ki Hadjar Dewantara. Meninggalnya Ki Hadjar 67 tahun lalu adalah cermin—sejauh...

Classroom scene with students at desks and a large framed portrait of ki hajar dewantara on the wall sunlight casting diagonal shadows
Ilustrasi Refleksi 67 Tahun meninggalnya Tokoh pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara, 26 April 1959 - 2026. Sumber: catrawarta

catrawarta.comTanggal 26 April seharusnya tidak sekadar menjadi penanda wafatnya Ki Hadjar Dewantara. Meninggalnya Ki Hadjar 67 tahun lalu adalah cermin—sejauh mana kita masih setia pada ruh pendidikan yang diwariskan. Problem pendidikan yang sedang kita hadapi hari ini bukan sekadar krisis sistem pendidikan, melainkan krisis keteladanan.

Ki Hadjar tidak membangun pendidikan dari situasi nyaman. Lahir di lingkungan Pakualaman, ia justru meninggalkan privilese bangsawan. Dengan mengganti nama dari Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar turun ke rakyat, membongkar sekat sosial, dan mendirikan Perguruan Taman Siswa. Ini sebentuk perlawanan terhadap pendidikan kolonial yang diskriminatif. Pendidikan, bagi Ki Hadjar, adalah alat pembebasan—bukan sekadar alat produksi.

Namun hari ini, arah itu tampak bergeser. Pendidikan semakin terjebak dalam logika pasar, cepat, instan, terukur, dan berorientasi hasil. Sekolah menjadi pabrik nilai. Guru didorong mengejar target administratif. Siswa dipacu mengejar angka. Sementara kejujuran, adab, budaya, dan karakter justru terpinggirkan.

Di titik inilah gagasan Ki Hadjar terasa semakin relevan—dan sekaligus semakin diabaikan. Trilogi pendidikan yang ia rumuskan bukan slogan kosong. Ing Ngarsa Sung Tulada menuntut keteladanan nyata. Ing Madya Mangun Karsa menegaskan pentingnya membangun semangat dari dalam. Tut Wuri Handayani mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses mendampingi, bukan mengendalikan. Ini adalah filosofi yang menempatkan manusia sebagai pusat, bukan angka.

Sayangnya, yang terjadi hari ini justru sebaliknya. Keteladanan semakin langka. Otoritas moral pendidik melemah. Relasi guru dan murid merenggang. Di banyak kasus, siswa tidak lagi melihat guru sebagai figur yang “digugu lan ditiru”. Di sisi lain, keluarga sebagai basis pendidikan pertama juga menghadapi krisis peran. Pendidikan menjadi tanggung jawab semua, tetapi dijalankan setengah hati.

Kita sedang menyaksikan paradoks, akses pendidikan semakin luas, tetapi kualitas karakter semakin rapuh.

Ki Hadjar telah mengingatkan bahwa pendidikan tidak bisa instan. Pendidikan adalah proses panjang yang berakar pada budaya, berjalan seiring zaman, dan bertumpu pada keteladanan. Sistem Among yang ia tawarkan bahkan melampaui zamannya. Mendidik tanpa paksaan, menuntun tanpa menekan, membangun tanpa merusak kemerdekaan anak.

Bandingkan dengan praktik hari ini yang masih sering mengedepankan tekanan, hukuman, dan standar seragam. Anak dipaksa masuk dalam cetakan, bukan dituntun sesuai kodratnya. Kreativitas dibatasi, keunikan diabaikan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pendidikan hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara kognitif, tetapi rapuh secara moral. Generasi yang mampu bersaing, tetapi kehilangan arah. Generasi yang pintar, tetapi tidak bijak.

Pertanyaannya kemudian menjadi mendesak: masih adakah ruang bagi lahirnya “Ki Hadjar” di era milenial?

Jawabannya bergantung pada keberanian kita untuk mengoreksi arah. Ki Hadjar tidak lahir dari sistem yang ideal. Ia lahir dari kegelisahan dan keberanian melawan arus. Artinya, peluang itu selalu ada—selama masih ada pendidik yang memilih menjadi teladan, bukan sekadar pengajar; selama masih ada ruang yang memanusiakan manusia, bukan sekadar mencetak lulusan.

Pendidikan tidak boleh terus diseret menjadi proyek jangka pendek. Ia adalah investasi peradaban. Ia menuntut kesabaran, konsistensi, dan integritas.

Jika tidak, kita bukan hanya kehilangan Ki Hadjar sebagai tokoh sejarah. Kita kehilangan Ki Hadjar di dalam diri kita sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *