catrawarta.com — Pada 14 Februari 1945 di Blitar, seorang komandan muda bernama Supriyadi memimpin pemberontakan terhadap tentara pendudukan Jepang. Tindakan itu secara militer berisiko tinggi dan secara politik nyaris mustahil dimenangkan. Namun sejarah tidak hanya diukur dari kemenangan taktis, melainkan dari keberanian moral yang melampaui rasa takut.
Pemberontakan tersebut lahir dari kontradiksi struktural pendudukan Jepang. PETA (Pembela Tanah Air) dibentuk untuk menopang ambisi Perang Asia Timur Raya, tetapi para anggotanya menyaksikan langsung eksploitasi romusha, kelaparan rakyat, dan kekerasan sistemik. Dari pengalaman itulah nasionalisme lahir. Ketika kekuasaan mengkhianati kemanusiaan, perlawanan menjadi pilihan moral.
Supriyadi masih sangat muda ketika mengambil keputusan historis itu. Pada usia ketika banyak orang masih mencari arah hidup, ia mempertaruhkan nyawanya demi martabat bangsa. Di sinilah relevansinya bagi Generasi Z, usia muda bukan alasan untuk apatis. Masa muda justru adalah energi moral yang paling jernih untuk membela keadilan.
Secara militer, gerakan itu gagal akibat infiltrasi dan isolasi satuan. Sejumlah anggota dihukum berat, sebagian dieksekusi di Ancol, dan Supriyadi sendiri menghilang dalam misteri sejarah. Namun dalam etika politik, keberanian yang kalah tetap lebih bermartabat daripada kepatuhan yang kompromistis. Nilai tidak gugur hanya karena strategi dipatahkan.
Bagi Generasi Z yang hidup di tengah banjir informasi dan aktivisme simbolik, warisan Supriyadi menuntut pendewasaan makna nasionalisme. Nasionalisme adalah praktik keberpihakan. Keberanian mengkritik ketimpangan, menolak normalisasi korupsi dan dehumanisasi, serta menjaga ruang publik tetap rasional dan beradab.
Supriyadi dan PETA menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia berakar pada solidaritas rakyat. Cinta tanah air adalah keberanian berpihak pada mereka yang tertindas. Setiap zaman memiliki medan juangnya sendiri. Jika dulu barak militer dan senapan menjadi arena perlawanan, hari ini medan itu bisa berupa kampus, ruang digital, komunitas sosial, atau dunia usaha. Yang diwariskan bukan bentuk perlawanannya, melainkan nilai dasarnya. empati sosial, keberanian moral, disiplin kolektif, dan kemandirian berpikir.
Nasionalisme tidak pernah usang. Ia hanya kehilangan makna ketika dipahami secara dangkal. Jika Gen Z mampu membaca sejarah secara kritis dan menerjemahkannya ke dalam praksis etis, maka api Supriyadi tidak akan padam. Ia akan menjelma menjadi energi intelektual dan moral yang menuntun bangsa. Bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi membentuk masa depan.

Pesawat Kepresidenan Era Pak Harto Jadin Koleksi Museum Dirgantara Mandala 