catrawarta.com — Penggulingan kekuasaan oleh kekuatan reformasi yang sebagian besar merupakan mahasiswa menjadi titik balik perjalanan politik Orde Baru. Peristiwa 28 tahun tersebut memiliki banyak agenda yang sampai sekarang belum usai.
Sampai kapan reformasi akan mencapai final? Agenda reformasi belum selesai tetapi tampaknya sudah bakal kembali ke era Orde Baru? Pertanyaan semacam itu muncul ketika melihat pergulatan politik yang membuat agenda reformasi menjukkkan arah jalan di tempat.
Salah satu tokoh yang tidak bisa dilepaskan dari reformasi, Amien Rais, pernah mengungkapkan agenda penting menuju masyarakat madani. Cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara demkrasi yang pernah menjadi cita-cita Bersama tampaknya belum tuntas.
Banyak orang menilai persoalan demokrasi selesai ketika semua orang bebas berbicara, ketika orang bisa menyampaikan kritik. Benarkah demikian? Harapannya memang seperti itu namun yang riil terjadi justru sebaliknya. Lihat saja kasus yang sedang viral yakni pemutaran film Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman Kita.
Keinginan masyarakat untuk melihat kenyataan di Tanah Papua ternyata sangat susah. Hanya untuk nonton film dokumenter, terjadi pelarangan dan pembubaran di sana-sini. Dan siapa pelaku pembubaran? Aparat bersama pemerintah daerah.
Reformasi Jalan di Tempat
Kondisi tersebut sudah cukup memberi gambaran mengapa muncul kekhawatiran bahwa reformasi jalan di tempat, atau malah mundur ke belakang menuju era Orde Baru. Kejadian-kejadian seperti pelarangan pemutaran film, pelarangaan diskusi, pembatasan media massa, tekanan, intimidasi, memperlihatkan pola yang sama.
Wakil Dekan Bidang Akademik FH UB, Milda Istiqomah PhD menegaskan dalam diskusi di kampusnya dalam rangka memperingati 28 tahun reformasi. Ia berpendapat reformasi belum usai. Bahkan ia melihat sejumlah indikator demokrasi dan penegakan hukum menurun.
Ia memberi contoh bagaimana pelemahan UU KPK. Berbagai bentuk intimidasi, teror, penghilangan nyawa masih juga terjadi. Sejarah telah membuktikan, sepanjang berdirinya Indonesia selalu ada individu, pribadi, kelompok yang memaksakan kehendaknya dan berusaha meraih kekuasaan cara-cara yang jauh dari nilai-nilai demokrasi.
Demokrasi memang tidak mati tetapi perlahan-lahan dimatikan. Bukan saja oleh kekuatan politik lama namun juga oleh mereka yang mengaku sebagai ”reformis” namun kemudian menjadi bagian dari politik lama. Wajar kalau banyak yang meragukan sepak terjang para ”reformis”, malah tak sedikit yang menilai mereka merupakan bagian dari pelanggengan kekuasaan lama.
Intervensi Persoalan Hukum
Pekuwaly dalam jurnal hukum (2012) telah menyatakan reformasi bidang hukum tidak mengalami perkembangan signifikan seperti halnya reformasi sektor lainnya. Berbagai intervensi dalam kasus hukum masih terjadi. Penilaian tersebut disampaikan belum lama setelah reformasi. Kini, setelah 28 tahun, tampaknya juga belum ada peningkatan perubahan.
Intervensi politik dan hukum, tentu akan diikuti sektor lain, secara kasat mata memperlihatkan posisi yang negatif. Tidak usah jauh-jauh, lihat saja kasus pembunuhan saksi kunci kasus korupsi di Semarang, Iwan Budi Prasetyo, yang sampai sekarang tidak terungkap. Tidak ada satu pun yang berani mengusut tuntas kasus tersebut.
Yang belum lama terjadi, penyiraman air keras pada aktivis demokrasi Andrie Yunus. Masyarakat melihat persidangann yang jauh dari berkeadilan. Banyak kritik, masukan dan saran tetapi tidak ada perubahan. Kekuasaan sedang memperlihatkan taringnya dan masyarakat tiada berdaya.
Reformasi belum usai, perjuangan belum selesai. Masih banyak agenda yang harus menjadi pekerjaan rumah generasi mendatang yang juga mulai terusik dengan kenyataan. Apabila mereka yang sedang berada di atas tidak mau mendengar, bom waktu bisa meledak kapan saja ketika seluruh elemen kekecewaan mencapai puncaknya.

Viral, Formulir Berantai Menyesal Memilih Prabowo-Gibran 