Pena Catra

Harimau Jawa Punah karena Tak Masuk Imajinasi Manusia

catrawarta.com — Harimau Jawa tidak punah dalam satu peristiwa besar yang menandai akhir sejarahnya. Ia tidak lenyap dalam tragedi spektakuler yang dicatat...

Harimau jawa  tropenmuseum belanda
Harimau Jawa – Tropenmuseum, Belanda

catrawarta.comHarimau Jawa tidak punah dalam satu peristiwa besar yang menandai akhir sejarahnya. Ia tidak lenyap dalam tragedi spektakuler yang dicatat sebagai momen nasional. Tidak ada tanggal peringatan, tidak ada monumen, bahkan tidak ada kesedihan kolektif yang sungguh-sungguh dirawat. Harimau Jawa menghilang dengan cara yang paling sunyi. Ia lenyap karena berhenti dianggap penting, karena tak pernah benar-benar masuk ke dalam imajinasi manusia.

Selama ini, kepunahannya kerap dijelaskan melalui bahasa yang rapi dan rasional, seperti penyempitan hutan, pertumbuhan penduduk, konflik manusia dan satwa. Penjelasan itu masuk akal. Namun justru karena terlalu masuk akal, ia menutup pertanyaan yang lebih mendasar. Bukan semata kegagalan konservasi, melainkan kegagalan membayangkan dunia yang cukup luas untuk memberi ruang bagi sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.

Pada titik ini, Harimau Jawa bukan lagi soal biologi, melainkan soal imajinasi moral.

Manusia modern hidup dari imajinasi. Kita membayangkan masa depan, menyusun rencana pembangunan, dan menentukan apa yang layak dipertahankan. Namun imajinasi ini selektif. Ia menyukai yang berguna, aman, produktif, dan bisa diatur. Segala yang tidak memenuhi kriteria itu perlahan dikeluarkan dari horizon kepedulian.

Harimau Jawa tidak pernah masuk ke dalam imajinasi tersebut. Ia tidak menawarkan manfaat langsung, tidak bisa dijinakkan, dan tidak sepenuhnya dapat diprediksi. Keberadaannya menuntut ruang, kesabaran, serta penerimaan terhadap risiko, tiga hal yang ditolak oleh logika pembangunan modern. Maka, tanpa kebencian eksplisit dan tanpa keputusan tunggal yang kejam, Harimau Jawa tersingkir oleh cara berpikir yang menganggap dunia hanya layak dihuni oleh yang patuh.

Dalam filsafat, dikenal gagasan tentang yang lain—sesuatu yang berbeda secara radikal dan tidak bisa diserap tanpa kehilangan hakikatnya. Harimau Jawa adalah “yang lain” itu. Ia bukan sekadar satwa liar, melainkan representasi dari kehidupan yang menolak sepenuhnya tunduk pada kehendak manusia. Ia hanya bisa hidup sebagai makhluk liar; ketika dijinakkan, ia berhenti menjadi dirinya sendiri.

Masalahnya, dunia modern dibangun di atas ketakutan terhadap ketidakpastian. Segala yang liar harus ditertibkan, diberi pagar, atau disingkirkan. Hutan dipahami sebagai lahan potensial, sungai sebagai saluran teknis, dan predator sebagai ancaman. Dalam kerangka ini, tidak ada ruang bagi keberadaan yang tidak bisa dibenarkan secara ekonomis atau administratif.

Ironisnya, Harimau Jawa justru bertahan lama sebagai simbol. Ia hidup dalam mitologi dan imajinasi kebudayaan. Kita memuja citranya sebagai lambang kekuatan, tetapi menolak keberadaannya sebagai makhluk hidup yang membutuhkan ruang dan kebebasan. Kita menerima harimau sebagai metafora, namun tidak sebagai kenyataan. Yang abadi adalah bayangannya, sementara tubuhnya lenyap tanpa upacara.

Pulau Jawa hari ini adalah ruang yang hampir sepenuhnya terisi. Setiap jengkal tanah dituntut memiliki fungsi, setiap ruang harus memberi hasil. Dalam logika semacam ini, hutan tidak lagi dipahami sebagai rumah bagi kehidupan lain, melainkan sebagai “lahan tidur” yang menunggu dimanfaatkan. Satwa liar tidak dilihat sebagai sesama penghuni bumi, melainkan sebagai masalah yang harus diselesaikan.

Harimau Jawa tidak kalah kuat. Ia kalah karena manusia tidak mampu membayangkan hidup berdampingan dengan sesuatu yang tidak tunduk. Ia punah bukan karena kurangnya pengetahuan atau teknologi, melainkan karena tidak pernah diberi tempat dalam gambaran dunia yang ingin kita bangun.

Yang lebih mengkhawatirkan, kepunahan ini terjadi tanpa proses berkabung kolektif. Harimau Jawa tidak menjadi luka nasional, tidak menjadi trauma ekologis yang diwariskan. Ia menghilang tanpa meninggalkan beban moral yang terasa. Ketika kehilangan semacam ini dapat diterima tanpa rasa bersalah, itu pertanda bahwa sesuatu telah lama dikeluarkan dari lingkaran empati kita.

Dalam keheningan itulah Harimau Jawa berubah menjadi cermin. Ia memantulkan cara manusia memperlakukan dunia: hanya yang bisa diatur dianggap layak hidup. Yang liar, yang menuntut ruang tanpa kompromi—dihapus bukan dengan kekerasan terbuka, melainkan dengan kelalaian yang sistematis dan berjangka panjang.

Pertanyaan yang tersisa bukan lagi apakah Harimau Jawa bisa diselamatkan. Pertanyaan itu telah usang. Yang lebih mendesak adalah: spesies apa lagi, cara hidup apa lagi, bahkan nilai apa lagi yang akan hilang akibat kegagalan imajinasi yang sama?

Dalam dunia yang dikuasai manusia, yang menentukan bukan apakah suatu makhluk jinak atau buas, melainkan apakah keberadaannya bisa dibenarkan. Yang tak bisa dibenarkan—baik oleh ketakutan maupun manfaat—akan lenyap dengan cara yang sama sunyinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *