catrawarta.com — Politikus senior Prof. Dr. HM. Amien Rais melontarkan kritik tajam dan keras terhadap lingkar dalam pemerintahan Prabowo Subianto. Di tengah iklim politik yang semakin dipenuhi kehati-hatian, kompromi, dan kalkulasi kekuasaan, kemunculan kritikan keras satu hal yang langka di republik ini. Inilah keberanian intelektual yang harus tetap dijaga.
Publik boleh tidak sepakat dengan gaya, pilihan diksi, maupun tuduhan-tuduhan kontroversial yang dilontarkannya. Namun satu hal yang sulit dibantah, Amien Rais tetap konsisten menjadi oposisi nurani yang tidak mau tunduk pada ketakutan politik.
Watak asli seorang intelektual organik tidak berubah. Pada usia lebih dari delapan dekade, Amien Rais tetap berbicara kritis – tajam – ketika banyak orang memilih diam. Dalam lanskap demokrasi yang makin jinak terhadap penguasa, keberanian seperti ini menjadi anomali.
Amien Rais bukan politikus biasa. Jejak sejarah Reformasi 1998 menempatkannya sebagai salah satu motor utama perubahan bangsa. Dia mengambil risiko besar ketika berhadapan dengan rezim Soeharto di masa ketika rasa takut menjadi budaya nasional. Keberanian itu ternyata tidak berhenti di masa muda. Hari ini, di usia senja, watak kritis itu tetap menyala. Ia tetap memilih berbicara keras, bahkan terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh yang dahulu juga menikmati hasil Reformasi.
Di sinilah letak konsistensi Amien Rais. Ia mungkin berubah kendaraan politik, tetapi tidak berubah karakter perjuangan. Ketika merasa Partai Amanat Nasional tidak lagi sejalan dengan idealismenya, Ketua MPR pertama pasca Reformasi 1998 keluar dan mendirikan Partai Ummat. Langkah itu menunjukkan bahwa baginya politik bukan semata soal kenyamanan kekuasaan. Bagi Amien Rais politik merupakan arena mempertahankan keyakinan moral dan intelektual.
Yang membuat Amien Rais berbeda adalah sumber keberaniannya. Ketua PP Muhammadiyah 1995-1998 ini berkali-kali menegaskan bahwa satu-satunya yang ia takuti hanyalah Allah. Murka Tuhan jauh lebih menakutkan baginya dibanding ancaman politik, tekanan kekuasaan, ataupun serangan publik. Dalam keyakinan itulah keberanian Amien Rais tampak melampaui batas lazim manusia politik modern. Ia tidak menggantungkan perlindungan pada oligarki, aparat, atau kekuatan modal. Sandarannya hanya pada Yang Maha Kuasa.
Karena itu, kritik-kritiknya sering tampil ekstrem, keras, bahkan mengguncang. Namun dari sudut pandang demokrasi, keberanian menyampaikan kritik tetap lebih sehat dibanding budaya takut yang membuat bangsa kehilangan akal sehat. Demokrasi tidak pernah tumbuh dari kepatuhan membabi buta kepada kekuasaan. Demokrasi justru hidup dari keberanian menguji, mempertanyakan, dan mengoreksi penguasa.
Tentu saja, negara hukum tetap harus dijunjung. Bila ada pihak yang merasa dirugikan oleh tudingan Amien Rais, jalur hukum adalah tempat paling tepat untuk menguji kebenaran. Namun proses hukum juga tidak boleh berubah menjadi alat membungkam kritik. Di sinilah kedewasaan demokrasi diuji. Apakah negara mampu membedakan antara ujaran kebencian dengan kritik politik yang keras?
Bangsa ini boleh setuju atau marah kepada Amien Rais. Tetapi republik ini tidak boleh kehilangan figur-figur yang berani bersuara tanpa rasa takut. Sebab ketika seluruh intelektual memilih aman, ketika seluruh elite memilih diam, dan ketika kritik hanya hidup di ruang bisik-bisik, saat itulah demokrasi sesungguhnya mulai sekarat.

Tawaran Damai Iran Ditolak Trump, Selat Hormuz Berubah Jadi Arena Tarik Ulur Kekuasaan Global 