catrawarta.com — Menulis novel perlu keahlian tersendiri. Apalagi jika alur cerita dalam novel itu berkisah tentang petualangan dan kemudian ada bumbu cinta. Namun, bagi seorang penulis seperti Ircham Machfoedz, hal itu tak masalah.
Kenapa? Karena, dalam novel tersebut, Ircham seperti berada di dalamnya. Ia memahami alur yang dibangun. Ircham memang pernah berada atau bertugas di lokasi yang diceritakan dalam novel tersebut.
Novel berjudul ‘Mumi Dinasti Kurulik’ karya Ircham Machfoedz diterbitkan kembali di tahun 2026. Latar belakang dalam novel ini adalah daerah Papua (atau dulu saat ia bertugas di sana bernama Irian Barat), yakni belantara Asmat, Balliem dan Pegunungan Jaya Wijaya.
Ircham dengan detail dan teliti menggambarkan adat istiadat, budaya dan kebiasaan suku-suku di tempat itu. Pada terbitan baru ini, Ircham ingin secara filmis mengungkapkan dunia masa lalu yang hadir di tengah dunia modern sekarang ini.
Pada tahun 1982, novel ini pernah diterbitkan Sinar Harapan, bahkan saat itu terpilih menjadi novel remaja terbaik nasional oleh Depdikbud Pusat melalui yayasan Buku Utama.
Sebelum diterbitkan Sinar harapan, novel ini pernah pula dimuat bersambung di Majalah Senang (1976) dan tahun 1977 sebagai dua novelet. Selain itu, juga pernah memenangkan lomba penulisan novel untuk dibuat film oleh PT International Cine & Studio Centre, 22 Mei 1978.
Seorang editor, penulis dan kritikus sastra Korrie Layun Rampan (1982) pernah memberikan catatan atas novel ini. Ia menilai positif terhadap novel ‘Mumi Dinasti Kurulik’. Karakteristik cerita yang diangkat menggambarkan suasana yang tegang, padat, mengharukan serta melukiskan alam yang panoramik dan idyllic.
Novel petualangan karya Ircham Machfoedz yang berlatar di pedalaman Irian Jaya (Papua) sebelum tahun 1960 ini, menonjolkan kekayaan adat, sosiologis dan budaya daerah tersebut. Gambaran yang demikian menjadikan novel ini memenangkan penghargaan sebagai novel remaja terbaik nasional pada tahun 1982 oleh Yayasan Buku Utama Pusat Pembinaan Perpustakaan Depdikbud Jakarta Pusat.
Novel ini sering dianggap memberikan pengalaman membaca yang visual, seperti menonton film, karena penggambaran cerita yang mendetail.
Berlatar belakang petualangan dan cinta. Ceritanya dihidupkan plotnya di belantara Asmat dan Baliem, Pegunungan Jaya Wijaya dengan mengangkat adat istiadat, budaya dan kebiasaan suku-suku di tempat itu, saat itu, yakni ketika suasana kisah itu berlangsung, dan kanibalisme masih menjadi bagian dari adat suku-suku di Belantara Irian Barat atau Papua.
Bila membaca judulnya novel ini merangsang keingintahuan soal mumi apa yang terdapat di Papua. Benarkah disana ada Dinasti Kurulik?
Memang isi novel ini mengisahkan petualangan seorang pencari kulit buaya yang bernama Rimbu. Dalam usahanya mencari kulit buaya, ia bertualang dari satu tempat ke tempat lain di hutan Papua waktu itu namanya Irian Barat semasa dalam penjajahan Belanda. Awalnya Rimbu tertarik untuk mencari tengkorak Robinson, karena harapannya akan menghasilkan uang besar karena Robinson adalah anak orang kaya di Amerika. Robinson hilang di Asmat, ditangkap penduduk asli yang saat itu nasih hidup dalam kanibalisme. Dalam pencariannya itu sangat banyak Rimbu mengalami rintangan yang berat, bahkan ia pernah tertangkap oleh suku yang semua penduduknya wanita, namun ia berhasil lolos.
Pada suatu peristiwa yang lain ketika terjadi peperangan di hutan untuk menyelamatkan seseorang, Rimbu sempat mendapatkan kecelakaan kehilangan ingatan selama beberapa bulan. Tetapi akhirnya dapat disembuhkan oleh seorang perawat yang bernama Dewie.
Dewie ini dikirim oleh seorang pendeta. Pendeta itu menyembuhkan Rimbu karena akan minta bantuan untuk melerai perang suku di pedalaman. Namun semua menjadi kacau, karena perang suku itu didalangi oleh orang asing, dengan tujuan membuat film tentang masyarakat primitif. Hal yang menjadi menarik lagi ialah, bahwa dalam perjalanan petualangannya ia selalu patuh dari nasehat orang tuanya sebegai perintis kemerdekaan yang ditahan Belanda di Boven Digul. Petuahnya ialah “jangan melupakan iman, ibadah dan salatmu kepada Allah swt.”
Dari settingnya, pengarang dapat menggambarkan watak para pelakunya sedemikian rupa, sehingga muncul watak keras dan cerdik dari Rimbu sebagai tokoh petualangan yang mendominasi seluruh cerita.
Dalam kisah ini pengarang mengungkapkan ragam adat istiadat sosiologis, antropologis seni budaya yang telah dipelajari secara mendalam dari berbagai buku dan perjalanan lapangan selama bekerja di Papua (1971-1978).
Ia telah menjelajahi Asmat, hutan belantara Asue Gondu, Boven Digul Tanah Merah, Mindiptana, Domande di tepi Laut Arafuru, Wamena pusat Lembah Baliem di wilayah Jayawijaya sampai ke Kampung Piramid. Novel ini juga terinspirasi peristiwa hilangnya Michael Clark Rockefeller.

Integrasikan Data Kemiskinan, Pemda DIY Matangkan ‘Manunggal Raharja’ 