Catra Milenia

Soft Life Bukan Malas, Tapi Cerdas Mengelola Hidup

catrawarta.com — Saat zaman semakin maju dan persaingan kian menuntut, bagi sebagian kalangan—terutama generasi muda—kondisi ini kerap dirasakan sebagai tekanan. Hidup dianggap...

Soft life untuk hidup yang lebih teratur dan nyaman
Soft Life untuk Hidup yang Lebih Teratur dan Nyaman

catrawarta.comSaat zaman semakin maju dan persaingan kian menuntut, bagi sebagian kalangan—terutama generasi muda—kondisi ini kerap dirasakan sebagai tekanan. Hidup dianggap sebagai kompetisi yang terus berulang. Dari situ, sebagian orang mencoba menghindarinya dengan mengusung apa yang disebut sebagai soft life.

Fenomena soft life muncul ketika sebagian orang memilih hidup dengan mengutamakan kenyamanan, ketenangan, relaksasi, dan kesejahteraan pribadi. Mereka ingin menikmati hidup tanpa terburu-buru, tanpa terus dikejar tenggat waktu yang ketat. Tren ini dipopulerkan oleh para influencer asal Nigeria sekitar tiga tahun silam melalui media sosial dan kemudian berkembang secara global, hingga akhirnya dijadikan gaya hidup oleh sebagian Gen Z.

Beberapa hal dianggap menjadi penyebabnya, di antaranya tekanan sosial yang menuntut kesuksesan segera serta pengalaman hidup pada masa pandemi. Mereka yang memilih soft life kerap dianggap lebih santai dan kurang produktif. Padahal, mereka tetap menjalani tanggung jawab dengan cara mereka sendiri. Meski begitu, muncul pula anggapan, jika hidup terlalu santai, bagaimana dengan kondisi finansial ke depan?

Psikolog Klinis Dewi Harun menilai, soft life sering kali disalahpahami. Menurutnya, ada kekeliruan dalam cara memaknai istilah tersebut.

“Orang mengira soft life itu leyeh-leyeh, santai tanpa mengerjakan apa-apa. Padahal bukan seperti itu,” ujar Dewi Harun, dalam sebuah siaran stasiun tv nasional.

Ia menjelaskan bahwa soft life berkaitan dengan engagement atau keterlibatan seseorang dalam hidupnya. Dalam kajian kebahagiaan, engagement merupakan salah satu dari lima komponen utama. Konsep ini juga sejalan dengan teori flow, yakni kondisi ketika seseorang benar-benar merasakan dan menghayati apa yang sedang dijalani.

“Hidup itu dirasakan. Kita tidak asal bekerja. Kita perhatikan, apakah yang kita kerjakan itu bernilai, bermakna, dan punya tujuan,” katanya.

Menurut Dewi Harun, selama ini banyak orang masuk dalam pusaran kehidupan tanpa benar-benar tahu arah yang dituju. Ikut alur, ikut standar sosial. Melalui soft life, seseorang justru diajak untuk mengamati hidupnya sendiri, hari demi hari, apakah masih bermakna atau tidak.

Anggapan bahwa soft life berarti tidak punya ambisi juga dinilai keliru. Dewi Harun menegaskan, ambisi tetap penting, selama disertai perencanaan dan pemahaman terhadap kebutuhan masing-masing individu.

“Kesalahan kita adalah menyamakan definisi sukses. Seolah semua orang harus mengejar materi yang sama,” ujarnya.

Tidak semua orang ingin kaya raya. Menurut Dewi Harun, ada orang yang memilih hidup di luar kota, berkebun, dan menjalani hidup dengan ritme yang lebih tenang, namun tetap merasa cukup dan nyaman.

Karena itu, soft life bukan berarti menghindari kerja keras. Dewi Harun sendiri tetap bekerja keras, termasuk saat menempuh pendidikan doktoral. Namun, ia menekankan pentingnya manajemen waktu dan prioritas.

“Bukan menunda, tapi mengatur. Bukan malas, tapi tahu mana yang penting,” katanya.

Menurut Dewi Harun, soft life tidak seharusnya dipandang sebagai konotasi negatif, termasuk ketika dikaitkan dengan Generasi Z. Gaya hidup ini lebih menekankan keseimbangan, manajemen waktu, dan kesadaran tujuan agar hidup terasa lebih teratur dan nyaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *