Catra Milenia

Overthinking: Kecemasan yang Dianggap Kedewasaan

catrawarta.com — Belakangan ini, berpikir terlalu lama tidak lagi dianggap sebagai masalah. Ia justru sering dipersepsikan sebagai tanda kedalaman. Orang yang ragu-ragu...

Orang overthinking
Orang Overthinking

catrawarta.comBelakangan ini, berpikir terlalu lama tidak lagi dianggap sebagai masalah. Ia justru sering dipersepsikan sebagai tanda kedalaman. Orang yang ragu-ragu merasa lebih dewasa daripada mereka yang tegas. Mereka yang lama berkutat dalam pikiran sendiri dianggap lebih reflektif daripada yang berani mengambil keputusan. Seolah-olah kebingungan adalah kebijaksanaan, sementara kepastian adalah bentuk kecerobohan emosional.

Overthinking pun naik pangkat: dari gangguan psikologis menjadi identitas sosial.

Di ruang digital, overthinking tampil rapi dan estetik. Ia hadir dalam kalimat ambigu, unggahan larut malam, dan pengakuan lelah yang disusun seolah refleksi diri. Kecemasan tidak lagi dipahami sebagai sinyal yang perlu diolah, melainkan sebagai bukti bahwa seseorang “punya kedalaman batin”. Semakin rumit pikirannya, semakin ia merasa matang.

Padahal, dalam psikologi, overthinking dikenal sebagai rumination: pola pikir berulang yang tidak mengarah pada solusi. Ia berkorelasi dengan kecemasan, bukan kedewasaan. Namun dalam budaya kita hari ini, rumination justru dipuji. Bukan lagi “aku cemas”, melainkan “aku tipe orang yang mikir dalam”.

Di sinilah kekeliruan itu bermula.

Kedewasaan emosional selalu berhubungan dengan kemampuan mengambil keputusan, menerima konsekuensi, dan berdiri di atas pilihan sendiri. Overthinking justru sering bergerak ke arah sebaliknya. Ia menunda, menghindar, dan berputar di tempat. Ia bukan refleksi, melainkan ketakutan yang diberi bahasa intelektual agar terdengar masuk akal.

Takut salah.
Takut dinilai.
Takut bertanggung jawab.

Namun ketakutan ini jarang diakui apa adanya. Ia dibungkus sebagai kehati-hatian, empati, atau kepekaan emosional. Ketegasan dicurigai sebagai sikap keras, sementara keraguan diperlakukan sebagai tanda kebijaksanaan. Akibatnya, ragu-ragu lebih dihargai daripada berani memilih.

Ironisnya, dalam praktik sehari-hari, overthinking sering tampak kekanak-kanakan. Hal-hal sederhana diperlakukan seperti dilema eksistensial. Keputusan kecil menjadi beban besar. Kritik ringan ditafsirkan sebagai serangan personal. Namun semua itu dimaafkan dengan satu kalimat pamungkas “Aku cuma kebanyakan mikir.”

Anak kecil juga kebanyakan mikir sebelum memilih. Bedanya, anak kecil belum belajar bahwa memilih berarti siap menyesal.

Fenomena ini makin kuat karena overthinking jarang disimpan dalam diam. Ia dipertontonkan. Bukan untuk mencari solusi, melainkan untuk mencari validasi. Pikiran tidak diproses, hanya dipublikasikan. Kesedihan tidak diurai, hanya dikurasi. Kecemasan tidak dihadapi, tetapi dipercantik agar tampak bermakna.

Di titik ini, overthinking berhenti menjadi proses mental. Ia berubah menjadi performa sosial.

Seseorang merasa “dalam” bukan karena ia memahami hidup, tetapi karena hidupnya terlihat rumit di layar. Padahal, kedalaman sejati hampir selalu tenang. Ia tidak memerlukan pengakuan terus-menerus. Ia bekerja dalam diam, melahirkan keteguhan, bukan kebimbangan yang berulang.

Budaya yang terlalu memuja overthinking pada akhirnya menghasilkan ilusi kedewasaan. Banyak bicara tentang refleksi diri, tetapi minim keberanian mengambil langkah. Banyak membahas kesehatan mental, tetapi enggan menghadapi ketidaknyamanan yang justru menjadi bagian penting dari pertumbuhan.

Kita perlu membedakan dengan jujur: tidak semua yang rumit itu matang. Tidak semua yang sensitif itu dewasa. Dan tidak semua yang banyak berpikir itu sedang bertumbuh.

Sebagian hanya sedang menunda hidupnya sendiri.

Karena hidup, sesederhana apa pun, selalu menuntut satu hal yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun—termasuk mereka yang terlalu lama berpikir: keberanian untuk memilih, kesiapan untuk salah, dan kedewasaan untuk menanggung akibatnya.

Tanpa itu, overthinking bukanlah tanda kedalaman, melainkan kecemasan yang belum berani berdiri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *