catrawarta.com — Generasi Z sering dipersepsikan sebagai generasi dengan peluang tak terbatas. Akses teknologi terbuka lebar, jalur karier semakin beragam, dan ekonomi digital menjanjikan fleksibilitas. Namun realitasnya tidak sesederhana itu. Bekerja tidak lagi otomatis berarti sejahtera.
Ekonomi yang Tidak Lagi Ramah bagi Pemula
Tekanan ekonomi yang dihadapi Gen Z kini terkonfirmasi secara global. Survei Deloitte Global 2025 mencatat bahwa biaya hidup menjadi kekhawatiran utama generasi muda selama empat tahun berturut-turut, dengan sekitar 39 persen Gen Z menempatkannya sebagai isu paling mendesak.
Bahkan, tingkat ketidakamanan finansial meningkat signifikan—hampir 48 persen Gen Z merasa tidak aman secara ekonomi dalam beberapa tahun terakhir.
Data ini menunjukkan satu hal: tekanan ekonomi bukan persepsi, tetapi realitas struktural.
Di saat yang sama, struktur kerja juga berubah. Ekonomi berbasis proyek atau gig economy berkembang pesat, memberi fleksibilitas sekaligus ketidakpastian. Tanpa jaminan pendapatan tetap, perlindungan sosial, atau kepastian karier, banyak anak muda harus menavigasi dunia kerja yang semakin cair.
Pakar keuangan Stoy Hall mengingatkan bahwa model kerja ini membawa risiko jangka panjang.
“Tanpa perencanaan yang matang, pekerja muda berisiko mengalami ketidakamanan finansial jangka panjang.”
Tekanan Gaya Hidup di Era Digital
Di luar persoalan pendapatan, Gen Z juga menghadapi tekanan lain yang lebih subtil: gaya hidup digital.
Sebagai generasi yang lahir dan tumbuh di internet, pola konsumsi mereka sangat dipengaruhi oleh tren, influencer, dan fenomena fear of missing out (FOMO).
Konsumsi tidak lagi semata soal kebutuhan, tetapi juga tentang eksistensi sosial.
Di sisi lain, kemudahan akses ke layanan keuangan digital—termasuk kredit instan—mendorong pola belanja yang semakin impulsif. Hal ini menciptakan paradoks: Gen Z adalah generasi paling melek informasi, tetapi juga paling terekspos pada tekanan konsumsi.
Bahkan dalam konteks global, tekanan ekonomi ini berdampak langsung pada kualitas hidup. Sebuah survei menunjukkan 72 persen Gen Z mengaku kehidupan sosialnya terganggu karena masalah finansial, sementara mayoritas lainnya mengalami dampak pada kesehatan mental dan fisik.
Di tengah situasi ini, Gen Z dituntut untuk beradaptasi lebih cepat dari generasi sebelumnya.
Mereka tidak hanya harus bekerja, tetapi juga mengelola ketidakpastian, menahan tekanan sosial, dan tetap menjaga stabilitas finansial di tengah sistem ekonomi yang terus berubah.
Realitas baru ini menegaskan satu hal: kerja keras saja tidak lagi cukup.
Bagi Generasi Z, kesejahteraan bukan hanya soal usaha, tetapi juga tentang bagaimana bertahan di tengah struktur ekonomi yang semakin kompleks—dan sering kali tidak berpihak.

Gen Z Makin Peka, Tapi Kenapa Makin Rapuh? 