catrawarta.com — Fenomena “sibuk tapi tidak berkembang” semakin sering dirasakan oleh generasi muda, terutama Gen Z yang baru memasuki dunia kerja. Di tengah tuntutan produktivitas yang tinggi, banyak yang merasa terus bekerja, tetapi tidak benar-benar bergerak menuju tujuan yang jelas.
Laporan Global Gen Z and Millennial Survey dari Deloitte mencatat bahwa sekitar 46% Gen Z merasa stres hampir sepanjang waktu, dengan salah satu pemicunya adalah tekanan untuk terus produktif dan berkembang cepat.Di Indonesia, fenomena ini juga terlihat dari percakapan di media sosial, di mana istilah seperti burnout, overworked, hingga “capek tapi nggak ke mana-mana” semakin sering muncul.
Dika (24), karyawan di sektor kreatif di Yogyakarta, mengaku merasakan kondisi tersebut dalam kesehariannya.
“Kerjaan banyak, tapi kadang ngerasa nggak maju. Kayak sibuk terus, tapi nggak tahu sebenarnya lagi ngejar apa,” ujarnya.
Sibuk Hanya Menjadi Identitas
Dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas tidak lagi hanya soal hasil, tetapi juga soal persepsi.Seseorang dianggap produktif ketika terlihat aktif—mengerjakan banyak hal, memiliki jadwal padat, dan terus bergerak. Media sosial turut memperkuat pola ini, dengan menampilkan rutinitas kerja dan pencapaian secara terus-menerus.
Namun, tidak semua aktivitas membawa seseorang lebih dekat pada tujuan.Psikolog klinis A. Kasandra Putranto menilai bahwa tekanan untuk selalu produktif dapat memicu kelelahan mental, terutama jika tidak diimbangi dengan arah yang jelas.
Kondisi ini menciptakan apa yang sering disebut sebagai “ilusi produktivitas”—di mana seseorang terlihat sibuk, tetapi tidak mengalami perkembangan yang signifikan.—Bergerak Tanpa Arah
Fenomena ini juga dipengaruhi oleh perubahan pola kerja di era digital. Pekerjaan tidak lagi terbatas oleh waktu dan tempat, sementara ekspektasi untuk selalu responsif semakin meningkat.Akibatnya, batas antara bekerja dan hidup menjadi semakin kabur.
Bagi sebagian Gen Z, kondisi ini menciptakan tekanan tersendiri. Mereka tidak hanya dituntut untuk bekerja, tetapi juga untuk terus berkembang, belajar hal baru, dan tetap relevan di tengah persaingan.Namun tanpa arah yang jelas, aktivitas yang dilakukan justru berisiko menjadi rutinitas tanpa makna.
Batas Produktivitas dan Kesadaran
Di tengah situasi ini, muncul kesadaran baru bahwa produktivitas tidak selalu identik dengan kesibukan.Bagi sebagian generasi muda, mulai muncul upaya untuk menata ulang cara bekerja—lebih selektif, lebih sadar, dan lebih fokus pada tujuan jangka panjang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukan hanya bagaimana bekerja lebih banyak, tetapi bagaimana bekerja dengan arah.Karena pada akhirnya, produktivitas bukan tentang seberapa sibuk seseorang terlihat,tetapi seberapa jauh ia benar-benar bergerak.

Dari Titik dan Garis: Warisan Abadi Samuel Morse di Era Digital 