catrawarta.com — Perdebatan mengenai pentingnya akhlak dibanding pendidikan formal kembali muncul setelah viral nya sebuah keluarga dengan jumlah anak yang banyak. Menanggapi reaksi netizen, sang ayah menyatakan bahwa sekolah tinggi tidak menjamin seseorang menjadi baik sebab yang paling utama adalah pendidikan akhlak dalam keluarga.
Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Pendidikan formal memang bukan satu-satunya indikator kualitas manusia. Banyak individu berpendidikan tinggi namun gagal menunjukkan integritas, empati, maupun tanggung jawab sosial. Persoalannya akhlak versus pendidikan ini menjadi problematis keduanya ditempatkan seolah-olah saling bertentangan.
Ada realitas panjang yang jarang dibicarakan. Apakah masyarakat kita benar-benar siap membesarkan banyak anak, bukan hanya secara ekonomi. Namun juga secara pendidikan psikologis dan kesehatan harus siap. Anak dianggap investasi sosial dan spiritual.
Akhlak dalam konteks sosial modern, justru membutuhkan pengetahuan agar dapat dijalankan secara relevan dan bertanggung jawab. Anak tidak cukup hanya diajarkan kepatuhan tetapi juga kemampuan berpikir, berdialog dan memahami realitas sosial. Harapannya agar kelak ketika dewasa mampu mengatasi peroalan dan mengambil keputusan secara matang.
Ukuran anak baik perlu dalam banyak kultur keluarga Patriaki. Anak yang dianggap berakhlak seringkali hanya anak yang diam patuh dan tidak membantah orang tua. Kepatuhan absolut dapat menghilangkan ruang ekspresi dan kebebasan berpikir. Mereka mungkin terlihat tenang di permukaan. Namun menyimpan tekanan psikologis, ketakutan, atau bahkan kehilangan kemampuan menyampaikan pendapat secara sehat.
Psikolog memandang bahwa perkembangan anak membutuhkan ruang komunikasi yang aman agar mampu tumbuh menjadi individu yang matang secara emosional. Artinya, pendidikan anak seharusnya menghasilkan relasi yang tidak otoriter, relasi yang tetap memberi ruang dialog dalam batas etika dan penghormatan kepada orang yang lebih tua.
Jarak kelahiran yang terlalu dekat juga berpotensi mengganggu optimalisasi ASI eksklusif dan pengasuhan pada masa awal tumbuh kembang anak. Islam memperbolehkan pengaturan jarak kelahiran selama dilakukan dengan cara yang ma’ruf dan tidak bertentangan dalam syariat.
Islam menempatkan pencarian ilmu sebagai kewajiban. Hadis tholabul ilmi faridatun ala kulli muslim menegaskan bahwa mencari ilmu merupakan tanggung jawab setiap muslim. Kepala keluarga tidak cukup hanya menanamkan akhlak tetapi juga wajib memfasilitasi keluarganya untuk memperoleh pendidikan dan pengetahuan yang memadai sesuai perkembangan zaman.
Ini bukan tentang memilih antara akhlak dengan pendidikan. Keduanya merupakan unsur yang saling melengkapi. Akhlak tanpa pengetahuan beresiko melahirkan kepatuhan tanpa kritis. Kita membutuhkan keduanya sekaligus. Nilai moral kuat dan kapasitas intelektual yang memadai agar mampu hidup secara mandiri dan bertanggung jawab di tengah masyarakat.
Akhlak adalah pondasi. Namun fondasi saja tidak otomatis menjadi rumah yang utuh. Sekolah formal memang bukan satu-satunya jalan menuju kecerdasan. Belajar dan sekolah adalah dua hal yang berbeda. Orang boleh tidak sekolah formal tapi tidak boleh berhenti belajar.
Masalahnya dalam kultur masyarakat kita tidak semua orang tua siap menjadi guru bagi anak-anaknya sendiri. Mengajar itu bukan sekedar memindahkan informasi. Mengajar membutuhkan kesabaran metodologi kemampuan komunikasi literasi yang terus diperbaharui. Bahkan pemahaman memahami karakter psikologi setiap anak.
Kita memang hidup di zaman yang unik. Di satu sisi, banyak orang mengkritik pendidikan formal karena dianggap gagal membentuk karakter. Namun di sisi lain masyarakat juga makin sadar bahwa dunia modern membutuhkan kapasitas intelektual yang lebih tinggi. Akhlak tanpa pengetahuan bisa membuat seseorang baik tapi mudah tertinggal.
Pengetahuan tanpa ahlak bisa melahirkan manusia yang kehilangan nurani. Anak-anak butuh keduanya, hati yang baik dan pikiran yang terlatih. Membesarkan anak bukan sekedar melahirkan banyak kehidupan. Tetapi juga menanggung tanggung jawab besar untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia.

Mengenal Virus Hanta yang Sedang Viral 