catrawarta.com — Beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia heboh informasi tentang virus Hanta atau Hantavirus. Meskipun tidak sehebat Covid-19 namun harus tetap mendapat perhatian lebih supaya tidak menular cepat dan masif.
Apa itu sebenarnya virus Hanta yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) disebut risiko pandemi global dari virus tersebut masih rendah. Pasalnya, penularannya memerlukan kontak erat dalam waktu lama.
Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM mencoa membedah virus Hanta melalui talkshow bertajuk ”Hantavirus: Ancaman Lama yang Kembali Mencuri Perhatian Dunia”.
Pakar Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi, dr Riris Andono Ahmad PhD yang menjadi narasumber memaparkan perkembangan wabah, karakteristik virus hingga risiko penyebarannya secara global di dunia.
Jenis Virus Andes
Riris memaparkan, hantavirus berasal dari jenis virus strain Andes yang dominan hidup di kawasan Pegunungan Andes, Amerika Selatan. Virus tersebut dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sindrom paru-paru yang berpotensi fatal.
Berbeda dengan sebagian besar hantavirus lainnya, strain Andes memiliki kemampuan menular antar manusia dengan masa inkubasi berkisar antara 4 hingga 42 hari.
”Penyebab dari hantavirus adalah strain Andes yang berasal dari daerah Amerika Selatan, Pegunungan Andes. Dia mampu menyebabkan sindrom paru-paru sehingga dapat menular antar manusia,” ungkapnya melalui Humas UGM.
Ia mengatakan, wabah dalam salah satu kapal pesiar yang menjadi viral melibatkan delapan kasus infeksi yang terdiri atas enam kasus terkonfirmasi dan dua kasus tersangka.
Terdapat tiga korban meninggal dunia dari total 147 penumpang dan awak kapal. Negara-negara terdampak meliputi Belanda, Afrika Selatan, Inggris, Jerman, Swiss, dan Argentina.
Dua Jalur Penularan
Menurut Riris, penularan Hantavirus terjadi melalui dua jalur, yakni primer dan sekunder. Jalur primer berasal dari kontak manusia dengan tikus, termasuk melalui kotoran, urin, gigitan tikus, air liur tikus.
Pada strain Andes, penularan sekunder dapat terjadi antarmanusia melalui droplet atau percikan cairan tubuh. Namun demikian, penularannya tidak semudah Covid-19 karena membutuhkan kontak erat dan berlangsung lama dengan penderita.
Antisipasi penularan, jelasnya, dapat dilakukan melalui penggunaan alat pelindung diri, menjaga kebersihan tangan, serta menjaga jarak dari individu yang terinfeksi. Hal ini penting terutama bagi tenaga kesehatan maupun individu. Terutama mereka yang berisiko tinggi ber paparan dengan tikus.

PBNU-UI Teken MoU Perkuat Pendidikan, Riset dan Layanan Sosial 