catrawarta.com — Memasuki bulan Ruwah (kalender Jawa) di Kabupaten Temanggung, Jateng banyak sekali agenda nyadran. Nyaris hampir semua desa mengadakan kegiatan yang sarat nilai budaya tradisional itu. Seperti yang terlihat pada Jumat (23/1/2026) di Dusun Pete, Desa Kembangsari Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung, warga sejak pagi warga mempersiapkan uba rampe untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Kabut pagi dan hawa dingin di desa mereka tak menyurutkan tekad mereka untuk melestarikan tradisi nenek moyang yang sudah dilakukan turun-temurun itu. Sebagian warga tampak menuntun kambing muda yang jumlahnya mencapai 94 ekor.
Dipimpin para tokoh desa, warga berjalan berarak membawa gunungan hasil bumi serta tumpeng nasi menuju kompleks makam desa, tempat dimakamkannya para leluhur, termasuk Kyai Keramat dan Kyai Yudho Kusumo, tokoh agama yang meninggal pada masa kolonial, karena membela bangsa dan negara.
Di kompleks makam, diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan penyembelihan kambing. Gunungan hasil bumi turut dibagikan kepada warga yang tak sabar menunggu dan akhirnya berebut tumpeng berikut kelengkapannya. Warga meyakini tradisi tersebut dipercaya sebagai simbol berkah dari para leluhur mereka.
Sementara para lelaki bertugas menyembelih kambing dan membersihkan daging, kaum ibu serta remaja putri memasak daging hewan tersebut. Tungku sederhana dibuat dengan melubangi tanah di sekitar makam. Kayu bakar disusun rapi, lalu kuali diletakkan langsung di atasnya diisi perapian.
Warga tampak guyub penuh kehangatan, sehingga menambah suasana menjadi kompak dan penuh kegembiraan. Setiap kali nyadran seperti ini diadakan, yang tergambar adalah gotong royong, apalagi di tengah-tengah mereka hadir Wakil Bupati Temanggung, Nadia Muna yang mengajak masyarakat untuk terus menjaga tradisi agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Menurutnya, Nyadran Pete merupakan identitas budaya desa yang sarat nilai spiritual dan sosial. “Tradisi ini mengajarkan tentang rasa syukur, kebersamaan, serta penghormatan kepada leluhur,” katanya.
Kepala Dusun Pete, Arif Fathoni, menyebutkan sebanyak 94 ekor kambing disembelih dalam pelaksanaan Nyadran Pete kali ini. Hewan-hewan tersebut berasal dari sumbangan warga, baik dari Dusun Pete maupun dari luar daerah. Selama tradisi ini dipertahankan, nilai kebersamaan, spiritualitas serta budaya lokal diyakini tetap hidup di dusun ini

Pariwisata Masih Penggerak Utama Ekonomi DIY 