catrawarta.com — Di bulan Ruwah ini, Kabupaten Temanggung seperti tiada hari tanpa kegiatan sadranan atau nyadran. Aktivitas sarat nilai budaya itu terus dilestarikan di hampir semua desa di kabupaten ini. Salah satunya di Dusun Tanggulangin, Desa Tanggulanom, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung.
Hujan seharian tak menghalangi warga masyarakat di desa itu untuk mengikuti prosesi ritual Nyadran di Makam pepunden Eyang Kiai dan Nyai Tanggul yang diyakini menjadi cikal bakal di daerah itu.
Prosesi diawali kirab Gunungan Agung berisi nasi kuning, hasil bumi dan berbagai produk pertanian. Gunungan diarak dari rumah kepala dusun menuju makam pepunden. Tenong-tenong berisi nasi bucu, ingkung ayam kampung, jajanan pasar dan buah-buahan turut mengiringi sebagai simbol kelimpahan rezeki dan kebersamaan.
Tanpa Sekat
Usai doa bersama, gunungan dan hidangan dibagikan kepada seluruh warga. Sapaan hangat dan rasa syukur mengalir di tengah udara dingin. Seluruh warga membaur tanpa sekat. Mereka hadir penuh kebersamaan.
Lantunan doa dipanjatkan dengan khusyuk kepada Tuhan Yang Maha Esa, memohon ampunan bagi arwah para leluhur serta perlindungan dan keselamatan bagi warga desa. Tradisi Nyadran yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat ini menjadi wujud syukur sekaligus pengikat hubungan antara manusia, alam dan Sang Pencipta.
Bagi warga Tanggulangin, Nyadran bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah simbol gotong royong, kesederhanaan dan rasa saling memiliki yang tumbuh dari proses panjang menjaga warisan leluhur. Bahkan hujan yang turun seolah menjadi saksi keteguhan warga dalam merawat nilai-nilai budaya.
Kepala Desa Tanggulanom, Raharjo, menegaskan, Nyadran adalah warisan budaya sarat makna. “Nyadran adalah ungkapan rasa syukur dan doa bersama. Harapannya, masyarakat selalu diberi keselamatan, panen yang melimpah dan kehidupan yang sejahtera,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi ini juga menjadi media pendidikan budaya bagi generasi muda agar tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
Menariknya, Nyadran di Makam Eyang Kiai dan Nyai Tanggul tidak hanya diikuti warga setempat. Masyarakat dari desa lain, bahkan lintas kepercayaan, turut hadir dan berbaur. Nilai toleransi dan kebersamaan terasa nyata.
Harus Dipertahankan
Bupati Temanggung, Agus Setyawan, menekankan, tradisi Nyadran harus dipertahankan karena mengandung nilai-nilai penting, seperti menjaga kerukunan antarumat meski berbeda keyakinan. “Masyarakat merasakan kebahagiaan dan kebanggaan atas kebersamaan tersebut,” katanya.
Ia meyakini, melalui doa dan ikhtiar, diharapkan Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan, keselamatan lahir batin serta kesejahteraan dunia dan akhirat. Agus menambahkan, rasa aman, tenteram dan nikmat sehat adalah anugerah yang patut disyukuri. Semangat gotong royong yang terus hidup menjadi warisan berharga yang memperkuat persatuan masyarakat sekaligus keistimewaan daerah.
Ketua DPRD Temanggung, Yunianto, turut menegaskan,Nyadran harus tetap hidup. Karena tradisi ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang harapan, bahwa nilai kebersamaan, syukur dan penghormatan kepada leluhur akan terus tumbuh di tengah perubahan zaman.

Hujan Angin Masih Tinggi, DIY Perpanjang Status Darurat 