catrawarta.com — Program Studi S-1 Seni Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Yogyakarta menggelar pameran seni rupa internasional bertajuk “SAE: Small Acts Everyday – International Postcard Art Exhibition” di Galeri Fadjar Sidik, Jurusan Seni Murni FSRD ISI Yogyakarta.
Dalam pameran yang berlangsung 24 hingga 31 Juli 2026 itu, publik dapat melihat keunikan dari sedikitnya 332 karya lukisan yang dijadikan kartu pos hasil kreasi dari 290 peserta yang berasal dari tujuh negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Tiongkok, Jerman, Polandia, Belarus, dan Uruguay.
Dalam ajang ini para peserta berasal dari latar belakang yang sangat beragam. Mulai dari seniman profesional, akademisi, dosen, mahasiswa, pelajar, alumni, hingga praktisi seni.
Kartu pos dipilih sebagai medium utama karena sifatnya yang personal, ringkas, dan mampu melintasi batas jarak. Di era komunikasi digital yang serba instan, bagian depan kartu pos difungsikan sebagai ruang ekspresi visual, sementara bagian belakang memuat tulisan tangan yang mempererat hubungan emosional antara gambar, pengalaman pribadi, dan penerima pesan.
Dikuratori oleh AC. Andre Tanama, pameran ini menantang para seniman berkarya dalam format bidang kecil yang terbatas namun kaya akan bahasa visual, teknik, serta isu budaya secara padat dan komunikatif.
Menariknya, proses pengiriman karya melalui jasa logistik pos dijadikan sebagai bagian dari proses artistik itu sendiri, sehingga elemen seperti perangko, cap pos, lipatan, hingga goresan selama perjalanan menjelma menjadi jejak perjalanan karya sebelum dipajang di ruang pamer.
“Perjumpaan lintas generasi dan budaya menjadikan pameran bukan sekadar ajang unjuk karya, tapi ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman artistik, serta perspektif kebudayaan,” kata Ketua Jurusan Seni Murni FSRD ISI Yogyakarta, Satrio Hari Wicaksono, S.Sn., M.Sn.
Ia nengatakan pameran ini membuktikan kelenturan pendidikan seni yang terus berkembang lewat kolaborasi dan eksplorasi medium yang dekat dengan keseharian masyarakat.
Kehadiran 290 peserta dari tujuh negara memperluas ruang belajar mahasiswa ini menjadi jembatan Jurusan Seni Murni ISI Yogyakarta membangun jejaring internasional yang relevan, terbuka, dan berdampak bagi publik.
“Melalui medium kartu pos, kami ingin menunjukkan bahwa gagasan besar dapat disampaikan melalui tindakan dan bentuk yang sederhana, personal, tetapi mampu menghubungkan banyak orang,” ujarnya.
Ia mengatakan tema “Small Acts Everyday” diusung untuk mengajak masyarakat memaknai kembali tindakan kecil bernilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Nama “SAE” sendiri memiliki makna ganda, yakni kata “sae” yang dalam bahasa Jawa berarti baik, sekaligus akronim bahasa Inggris dari Small Acts Everyday.
Gagasan tersebut diterjemahkan para seniman menjadi pesan kebaikan, kepedulian, harapan, dan tindakan sederhana yang memberi arti bagi sesama.
Pameran yang berkolaborasi dengan PT Pos Indonesia ini turut menghidupkan kembali budaya filateli dan sejarah komunikasi, bahkan pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan layanan filateli serta Prisma Perangko selama pameran berlangsung.
Bagi Program Studi S-1 Seni Murni FSRD ISI Yogyakarta, pameran ini dinilai memperkuat pembelajaran berbasis praktik di mana mahasiswa terlibat langsung dalam proses kuratorial, seleksi karya, tata pameran, publikasi, hingga manajemen jejaring dengan mitra eksternal.
Di samping memperluas fungsi galeri kampus sebagai pusat produksi pengetahuan dan interaksi publik, skala partisipasi pameran ini juga membawa ISI Yogyakarta menjalankan diplomasi budaya internasional secara efektif melalui karya berskala ringkas yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Profil Jubir Otorita IKN Troy Pantouw yang Ditemukan Meninggal di Rusun ASN 