Catra Budaya

Ketika Nyadran Menjawab Zaman yang Kian Individualistik

catrawarta.com — Di tengah masyarakat yang kian individualistik dan relasi sosial yang makin rapuh, sebuah tradisi lokal di Jawa justru menyimpan etika...

Wakil rektor uin sunan kalijaga bidang administrasi umum perencanaan dan keuangan prof Dr Mochamad sodik s Sos  m Si
Wakil Rektor UIN Sunan Kalijaga Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan: Prof. Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si.

catrawarta.comDi tengah masyarakat yang kian individualistik dan relasi sosial yang makin rapuh, sebuah tradisi lokal di Jawa justru menyimpan etika hidup bersama yang kian langka. Nyadran—yang selama ini kerap dipandang sebagai ritual budaya—menawarkan lebih dari sekadar ingatan pada leluhur: ia mengajarkan gotong royong, kesalingan, dan kesadaran spiritual sebagai fondasi kemanusiaan.

Di banyak desa di Jawa, Nyadran hadir menjelang Ramadan atau musim panen. Warga datang ke makam leluhur, membawa makanan, doa, dan ingatan yang diwariskan lintas generasi. Namun di balik keramaian itu, Nyadran sejatinya bekerja sebagai ruang sosial: tempat manusia belajar hadir bagi yang lain, bukan sekadar menjalankan tradisi turun-temurun.

Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Mochamad Sodik, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa Nyadran tidak bisa dibaca secara dangkal sebagai seremoni budaya semata. “Nyadran harus kita maknai sebagai sebuah nilai yang sangat dalam, dengan filosofi gotong royong yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat, dan ini sangat fundamental,” ujarnya.

Gotong royong dalam Nyadran bukan hanya kerja kolektif menyiapkan acara atau berbagi makanan. Ia merupakan fondasi etika sosial yang menyatukan warga tanpa sekat status sosial, usia, maupun latar belakang. Dalam praktiknya, semua orang hadir sebagai sesama—tanpa hierarki—membangun kebersamaan yang hari ini kian jarang ditemukan dalam kehidupan modern.

Mubadalah: Etika Kesalingan dari Tradisi Lokal

Dari gotong royong itulah lahir semangat mubadalah, prinsip kesalingan yang menempatkan relasi manusia pada posisi setara. “Dari gotong royong itu kemudian muncul semangat mubadalah, semangat kesalingan—saling membantu, saling mendoakan, dan saling memahami,” kata Prof. Sodik.

Di tengah kehidupan yang makin kompetitif dan transaksional, Nyadran justru mengajarkan logika sebaliknya. Ia tidak menilai siapa yang paling berhasil, melainkan siapa yang paling bersedia hadir. Tidak menonjolkan kepemilikan, tetapi berbagi. Tidak mengedepankan pencapaian individual, melainkan keberlangsungan hidup bersama.

Nyadran juga tidak berhenti pada dimensi sosial dan budaya. Di dalamnya terdapat perenungan spiritual yang mendalam. “Nyadran tidak hanya menumbuhkan nilai sosial dan budaya, tetapi juga spiritualitas, karena di sana kita diajak merenungkan bahwa kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah,” ujar Prof. Sodik.

Kesadaran ini menjadikan Nyadran sebagai ruang refleksi kolektif. Di antara doa-doa dan ingatan pada mereka yang telah tiada, manusia diajak menyadari keterbatasannya sekaligus tanggung jawabnya sebagai bagian dari semesta. “Dengan kesadaran tentang kemanusiaan, ketuhanan, dan alam, kita dapat mencintai kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, sehingga martabat kita sebagai manusia yang seutuhnya semakin kuat,” kata dia.

Di titik inilah Nyadran menemukan relevansinya hari ini. Ia bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan tawaran etika hidup bersama di tengah zaman yang kian terpecah. Tradisi ini mengingatkan bahwa menjadi manusia seutuhnya berarti hidup dalam kesalingan—merawat hubungan dengan sesama, alam, dan Tuhan—sebuah nilai yang justru paling dibutuhkan di era modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *