Catra Budaya

I Wayan Westa: Spirit Kebudayaan Bali Belum Mati

I Wayan Westa optimistis spirit kebudayaan Bali belum mati. Ia melihat karya seni dan kreativitas masyarakat Bali masih terus berkembang.

I wayan westa westa optimistis spirit kebudayaan bali belum mati
Tari Tradisi Bali telah ditetapkan masuk Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia UNESCO. (Dok Kementerian PMK)

catrawarta.comBudayawan Bali, I Wayan Westa, menilai kebudayaan akan terus bergerak dan berdinamika mengikuti perkembangan zaman, termasuk di tengah pesatnya perkembangan dunia digital dan kecerdasan buatan (AI).

Sastrawan modern Bali itu mengatakan setiap zaman memiliki visi dan tantangan tersendiri yang memengaruhi cara pandang manusia terhadap kebudayaan.

“Seluruh momen hidup dengan visi zamannya masing-masing memengaruhi cara pandang saya terhadap persoalan kebudayaan,” kata I Wayan Westa, Selasa (9/6/2026).

Menurut Westa, dunia saat ini bergerak menuju kebudayaan nir-kabel yang ditandai masifnya media sosial dan teknologi digital. Perkembangan AI bahkan dinilai nyaris melampaui kecepatan dan kemampuan otak manusia.

“Ini seperti pedang bermata dua. Teknologi bisa melumpuhkan kita dan perlahan menumpulkan daya pikir serta sensoris manusia. Namun di sisi lain, teknologi juga bisa membawa manusia pada pencapaian yang lebih luas tentang kerja dan makna kebudayaan itu sendiri,” ujarnya.

Black and white portrait of a man wearing a white head wrap and glasses resting his chin on his hand in a thoughtful pose
Budayawan Bali, I Wayan Westa (dok I Wayan Westa)

Meski demikian, Westa mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam menyerap konten di dunia digital. Menurutnya, ruang digital dipenuhi propaganda, berita bohong, hingga agitasi yang sulit dibedakan masyarakat awam.

“Ada agenda edukasi, ada agenda provokatif, bahkan ada agenda kejahatan terselubung. Ini yang hari ini mengondisikan kerja kebudayaan kita,” katanya.

Suasana Batin Manusia vs Mesin

Namun demikian, Westa meyakini masih ada sisi kemanusiaan yang belum mampu digantikan mesin, yakni rasa dan suasana batin manusia.

“Belum ada mesin yang bisa menyadap perasaan dan suasana hati manusia. Itulah sisa kekayaan manusia dalam konteks kerja kebudayaan,” ujarnya.

Peraih Penghargaan Sastra Rancage 2013 melalui karya Tutur Bali itu menegaskan kebudayaan bukan sekadar artefak, seni, bahasa, maupun sastra. Menurutnya, kebudayaan merupakan spirit yang berkaitan dengan proses pemanusiaan.

“Kebudayaan adalah soal bagaimana merawat daya budi manusia agar selalu berada dalam proses pemanusiaan,” katanya.

Ia menambahkan, merawat kebudayaan tidak cukup hanya menjaga tradisi dan benda-benda budaya, tetapi juga membangun manusia yang berbudaya dan berperadaban luhur.

“Merawat kebudayaan bukan cuma soal menjaga artefak dan tradisi, tetapi bagaimana manusia berkebudayaan membangun peradaban,” tegasnya.

A richly decorated ceremonial float with white and black bull statues engulfed in flames during a festival palm trees in the background
Upacara Ngaben (dok Pemkab Buleleng)

Spirit Kebudayaan Bali Belum Mati

Westa juga menyoroti sejumlah persoalan yang dihadapi Bali saat ini. Salah satunya dampak pariwisata yang dinilai membuat Bali semakin sesak akibat alih fungsi lahan dan melemahnya budaya agraris. Ia melihat rusaknya lingkungan, tercemarnya sungai, hingga terdesaknya organisasi subak menjadi tanda melemahnya daya dukung Bali secara utuh.

“Menjadi pertanyaan bagaimana orang Bali berkebudayaan jika tanah-tanah mereka hilang berganti hutan beton,” ujarnya.

Selain itu, Westa juga menilai terjadi pelemahan sumber daya manusia Bali yang terlihat dari terkikisnya memori kebudayaan, terutama terkait bahasa dan aksara Bali. Generasi muda dinilai semakin banyak yang tidak mampu membaca aksara Bali sehingga mengalami kesenjangan terhadap teks-teks kuno berbahasa Kawi.

“Teks-teks itu adalah gudang pengetahuan manusia,” katanya.

Meski demikian, Westa optimistis spirit kebudayaan Bali belum mati. Ia melihat karya seni dan kreativitas masyarakat Bali masih terus berkembang di bidang musik, seni rupa, hingga teater.

“Orang Bali selalu punya cara menjaga eksistensi kebudayaannya, meskipun memori kulturalnya mulai berkurang,” ujarnya penuh semangat.

Reinterpretasi Adat dan Tradisi Bali

Terkait relevansi adat Bali di tengah masyarakat modern, Westa menilai perlu ada reinterpretasi terhadap sejumlah adat dan tradisi agar tetap sesuai dengan semangat kemanusiaan dan perkembangan zaman.

Banyak adat dan tradisi perlu dimaknai ulang. Pengertiannya disegarkan, praktiknya juga sebaiknya tidak melawan semangat kemanusiaan.

“Adat dan tradisi harus mampu memberi solusi baru bagi Bali yang semakin modern,” katanya.

Ia pun mendorong para ahli, tokoh adat, pandita, hingga pemerintah duduk bersama untuk menjaga Bali tetap menjadi sumber inspirasi kebudayaan.

“Harus ada upaya bersama agar Bali tetap hadir memberi inspirasi bagi dunia,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *