catrawarta.com — Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indinesia (BEM SI) memberi ultimatum pada pemerintah untuk menyelesaikan berbagai persoalan utamanya ekonomi dan juga berbagai praktik penyimpangan bernegara.
Mereka juga mengecam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang menjadi ajang praktik penyimpangan. Bahkan mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto menyebut MBG sebagai Maling Berkedok Gizi.
Terbukti, pimpinan MBG dan dua wakilnya menjadi tersangka kasus korupsi di MBG. Menurut Tiyo, tinggal menunggu waktu para pejabat lain di BGN yang ikut menikmati korupsi akan segera terungkap.
Mahasiswa dalam aksinya di depan Kantor Bank Indonesia Jawa Tengah menyampaikan kritik keras atas ketidakmampuan pemerintah mencari solusi melemahnya nilai rupiah. Hal itu mengakibatkan tekanan ekonomi luar biasa pada masyarakat.
Ketua BEM UNS, Kailani Rizqi Pratama seperti juga teman-temannya memberi waktu 18 hari pada pemerintah untuk mengembalikan kondisi rupiah dan juga sector lain. Angka 18 merujuk pada pelemahan rupiah yang sudah mencapai Rp 18.000an per dolar AS.
Bakal Tembus Rp 20.000
Para pakar menyatakan rupiah akan tembus Rp 20.000 dalam waktu dekat. Perlahan tetapi pasti rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Meskipun sempat mengalami sedikit penguatan, tetapi masih fluktuatif.
Melihat kondisi demikian, mahasiswa menegaskan akan menggelar aksi lebih besar. Mereka sedang mempersiapkan diri karena melihat pemerintah yang tak segera melakukan evaluasi dan perbaikan-perbaikan program.
Salah satu program yang sangat menyita keuangan serta membuat kepercayaan asing melemah yakni MBG. Para pelaku keuangan dan juga pakar menyebut, penghentian MBG merupakan salah satu langkah efisiensi sekaligus mengembalikan kepercayaan pasar.
Merespons tuntutan mahasiswa, pemerintah menyatakan bukan hal mudah mengembalikan rupiah. Ada banyak faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi fluktuasi rupiah. Yang jelas, pemerintah terus berusaha melakukan langkah-langkah guna membuat rupiah stabil.

Fokus Efisiensi, Kepala BGN Baru Ingin Program MBG Diarahkan Lebih Tepat Sasaran 