catrawarta.com — Harvard FAS CAMLab resmi mengumumkan peluncuran Digital Borobudur, sebuah inisiatif warisan budaya digital yang didedikasikan untuk Candi Borobudur, mahakarya arsitektur Buddha sekaligus Situs Warisan Dunia UNESCO.
Dalam keterangan resminya, Harvard menyebut CAMLab memiliki pengalaman dalam pengembangan warisan budaya digital dan media imersif. Inisiatif ini bertujuan mengeksplorasi pendekatan interdisipliner baru dalam mempelajari serta mengomunikasikan Kompleks Candi Borobudur.
“Tujuannya untuk mengeksplorasi pendekatan-pendekatan interdisipliner baru, serta mempelajari dan mengomunikasikan Kompleks Candi Borobudur,” demikian keterangan resmi CAMLab, Senin (22/6/2026).
Proyek ini dirancang untuk menghadirkan ekosistem digital yang mengintegrasikan teknologi tiga dimensi (3D), praktik artistik, dan penelitian akademis. Melalui pendekatan tersebut, Digital Borobudur diharapkan mampu menghadirkan cara-cara baru dalam melestarikan, menafsirkan, dan menghadirkan pengalaman warisan budaya dalam konteks global.
Dengan memadukan seni, teknologi, dan keilmuan, inisiatif ini juga membuka ruang dialog baru antara masa lalu dan masa kini dalam memahami warisan budaya dunia.

Proyek ini mendapat dukungan dari Tzu Chi Foundation, Tzu Chi Foundation Indonesia, serta PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko.
FAS CAMLab Harvard sendiri dikenal sebagai pusat riset yang mengembangkan pelestarian dan interpretasi digital situs-situs Buddha Mahayana. Lembaga ini memanfaatkan teknologi pemindaian tiga dimensi (3D), fotogrametri, serta rekonstruksi arsitektur untuk menghadirkan pengalaman virtual dan pameran interaktif bagi publik.
Pemerintah Indonesia menyambut positif inisiatif tersebut karena dinilai membuka peluang pemanfaatan teknologi digital mutakhir untuk memperluas promosi Candi Borobudur ke panggung dunia.
“Borobudur mempunyai banyak potensi untuk dieksplorasi. Kita tentu bisa bekerja sama untuk mempromosikan Candi Borobudur sebagai sebuah landmark sekaligus warisan hidup kepada masyarakat global,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat menerima kunjungan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dan FAS CAMLab Harvard di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Selain Borobudur, Menteri Kebudayaan juga menyoroti sejumlah situs bercorak Buddha lainnya yang tersebar di Indonesia, seperti Candi Mendut, Candi Plaosan, hingga kompleks Candi Muara Jambi.
Ia menyebutkan, Candi Muara Jambi merupakan salah satu kompleks candi Buddha terbesar di Indonesia yang berpotensi dikembangkan menjadi pusat ekosistem budaya.
“Indonesia memiliki banyak candi bercorak Buddha, seperti Candi Mendut, Candi Plaosan, hingga Muara Jambi. Bahkan Muara Jambi merupakan salah satu kompleks candi Buddha terbesar yang dapat berkembang menjadi pusat ekosistem budaya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menteri Kebudayaan juga mendorong pemanfaatan teknologi mutakhir dalam pelestarian situs bersejarah dan koleksi peninggalan kerajaan Buddha, termasuk digitalisasi manuskrip Buddhayana serta penerjemahannya ke dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Ia juga membuka peluang kerja sama untuk penyusunan buku komprehensif terkait manuskrip Buddha melalui kolaborasi dengan tim arkeologi Harvard.

UMKM Kuliner dan Kreatif Ramaikan Maraton 