catrawarta.com — Generasi Z mulai menunjukkan perubahan sikap terhadap dunia kerja. Tren “anti hustle culture” kini semakin terlihat, terutama di kalangan pekerja muda di perkotaan. Survei global Deloitte (2025) menunjukkan 46% Gen Z merasa stres hampir setiap waktu, dengan faktor utama tekanan kerja dan ketidakpastian masa depan.
Di Indonesia, fenomena ini juga terasa. Data Katadata Insight Center mencatat lebih dari 70% Gen Z aktif di media sosial setiap hari, yang berkontribusi terhadap tekanan sosial dan perbandingan hidup. Psikolog klinis, A. Kasandra Putranto, menilai perubahan ini sebagai respons terhadap kondisi zaman.
“Ini bukan soal malas bekerja. Gen Z justru lebih sadar batas diri. Mereka ingin bekerja, tapi tidak mengorbankan kesehatan mental,” ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Dinda (23), seorang pekerja kreatif di Jakarta.
“Dulu saya merasa harus selalu produktif. Sekarang saya lebih pilih kerja yang jelas, tapi tetap punya waktu buat diri sendiri,” katanya.
Namun tidak semua pihak sepakat.Pengamat ketenagakerjaan, Hadi Subhan, mengingatkan bahwa perubahan ini perlu diimbangi dengan kesiapan kompetensi.
“Dunia kerja tetap kompetitif. Adaptasi penting, tapi tetap harus dibarengi peningkatan skill,” ujarnya.
Tren ini menunjukkan satu hal: definisi “sukses” bagi Gen Z sedang berubah.

Sosialisasi SSK: Menanam Masa Depan dari Ruang Kelas 