catrawarta.com —
Oleh: Wahjudi Djaja
Kepongahan AS di panggung politik dunia kembali menyeruak. Wajah baru yang sempat diperagakan Obama dan Bidden dibalikkan begitu saja oleh Trump. Taring pemimpin tambun AS itu menyeringai begitu Nicolas Maduro terpilih menjadi pemimpin Venezuela ketiga kalinya pada 10 Januari 2025.
Atas nama kampanye antinarkoba, AS menggerakkan operasi intelejen, blokade ekonomi hingga penangkapan Maduro pada Sabtu (3/1/2026). Dunia, yang tengah dilanda sejumlah ketegangan, terhenyak. PBB, meski menyatakan keprihatinannya, tak bisa berbuat banyak. Rusia, entah kenapa belum juga mengambil sikap atas arogansi Trump.
Sejarah Berulang
Apa yang dilakukan Trump sejatinya bukan hal baru dalam sejarah. Indonesia sempat merasakan bagaimana manuver CIA dalam mempreteli kekuasaan Bung Karno. Sejumlah peristiwa hingga pemberontakan kasat mata keteribatan agen AS. Sejak era 1950-an hingga meletusnya peristiwa 1965, menyisakan tanda tanya besar atas keterlibatan CIA.
Masih segar dalam ingatan bagaimana Saddam Husein digantung pada 30 Desember 2006. Bukan saja Irak yang berduka tetapi juga warga dunia. AS tanpa etika hubungan internasional membombardir negara lain. Sebelum digantung, Saddam berpesan kepada rakyatnya agar jangan mau dipecah belah Amerika. “Hidup jihad dan mujahidin melawan penjajah!”.
Jauh sebelumnya, atas nama pelanggaran HAM, pemimpin Libya Moammar Qaddafi dibunuh pada 20 Oktober 2011. AS melalui NATO secara brutal memburu pemimpin legendaris itu. Qaddafi dan Saddam menjadi simbol mendunia. Tetapi tak cukup mampu menghadang aksi tentara AS.
Apakah kasus-kasus di atas murni urusan individu para pemimpinnya? Terlalu dini jika menyimpulkan hal itu karena masalah ketaksukaan pemimpin AS pada Saddam, Qaddafi, Maduro atau Bung Karno. Ada latar belakang dan kepentingan lain yang menyebabkannya. Irak, Libya dan Venezuela lebih ke soal minyak, sedangkan Indonesia ke urusan tambang Papua dan upaya menghadang pengaruh komunis.
Buto Sabrang vs Ksatria Pandawa
Serangkaian peristiwa di atas jelas mengubah kontelasi dunia dan memengaruhi Indonesia. Apa yang dilakukan Trump hanya mengonfirmasi narasi Buto Sabrang dalam kisah pewayangan kita. Mereka adalah gerombolan raksasa yang tak mau ada matahari kembar. Takluk tunduk dan menyerahkan seluruh asetnya, atau “digecak” peperangan melalui invasi militer. Mereka bisa mendesain alasan apa saja untuk bisa menganeksasi negara lain. Kita ingat sekuat apapun Soeharto memimpin Indonesia, tetap saja keder manakala yang diangkat Barat adalah pelanggaran HAM.
Lalu bagaimana dampak dan respon yang harus diberikan Indonesia? Presiden Prabowo Subianto yang berulang kali mendaku sebagai ksatria dan patriot yang siap mati membela kepentingan rakyat, belum mendeskripsikan lakon dan tokoh yang tepat untuk menghadapinya. Menteri Luar Negeri Sugiyono belum juga mampu mengikuti jejak diplomat ulung kita. Jangankan di forum PBB, sedang di level bilateral regional pun dia belum menunjukkan kemampuan sebagai senopati Nusantara.
Boleh jadi Buto Sabrang hanya bisa dihadapi oleh elite yang merepresentasikan jiwa Pandawa. Tetapi siapakah mereka? Ini yang ditunggu rakyat. Sosok nasionalis, berintegritas dan bernyali yang mampu menjaga integrasi dan integritas bangsa bangsa di tengah panggung dunia yang koyak moyak oleh kepentingan AS dan sekutunya serta China yang kian mendominasi (lebensraum).
Yang kita miliki baru elite yang, bahkan, gagal membaca aspirasi rakyat dan tanda-tanda alam. Elite yang asyik dengan kepentingan diri dan partainya. Saat Buto Sabrang mengganas dan kelir dunia yang terkoyak, wajar jika anak-anak bangsa gelisah menatap sejarah. Terngiang di telinga bahwa negeri ini (bisa) bubar pada 2030. Wallahualam
*Budayawan Sleman, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama)

Refleksi 52 Tahun, PPP & Politik Tanpa Keberanian 