catrawarta.com — Belakangan ini, obrolan mengenai absennya sosok kritikus seni rupa sering sekali melintas di lini masa media sosial, WAG, maupun obrolan santai pada perjumpaan dlm konteks seni. Fenomena tersebut sepertinya telah menjadi kegelisahan kolektif yang melibatkan hampir semua aktor di dunia seni, mulai dari seniman, kurator, pemerhati, hingga para pencinta seni.
Seolah-olah, dunia seni rupa kita sedang kehilangan salah satu pilar penyeimbang yang paling krusial dalam menjaga dinamika kreativitas tetap sehat.
Alasan utama di balik kelangkaan kritikus ini sebenarnya cukup klasik: ketakutan akan permusuhan. Menjadi kritikus sering kali dianggap berisiko secara sosial, terutama karena adanya persepsi bahwa mayoritas seniman tidak siap dikritik. Argumen bahwa kreator seni cenderung “tipis telinga” dalam menerima evaluasi pahit mungkin saja benar adanya, sehingga profesi kritikus pun perlahan memudar karena enggan mencari musuh dalam lingkaran pertemanan.
Terlepas dari apakah argumen tersebut hanya rumor atau fakta lapangan yang pahit, saya memilih untuk tidak bersembunyi di balik zona nyaman. Sejak awal menggulirkan wacana Hyperabstract melalui berbagai unggahan di media sosial – baik dalam bentuk tulisan maupun dokumentasi karya – saya justru menantang arus. Bagi saya, sebuah wacana seni yang baru lahir tidak dapat tumbuh dapat dlm ruang hampa tanpa ujian dari pihak luar yang memiliki otoritas keilmuan.
Strategi yang saya lakukan cukup provokatif: saya secara sengaja men-tag sejumlah besar tokoh yang kritis dan kompeten di bidang seni rupa dalam setiap postingan. Tujuan utamanya jelas, saya tidak mencari apresiasi kosong atau sekadar pengumpulan jumlah “like” digital. Saya justru secara sadar mengundang tanggapan dan kritikan tajam dari mereka sebagai bahan bakar utama dalam mematangkan konsep Hyperabstract yang sedang saya bangun.
Tanggapan dan kritik tersebut sangat saya butuhkan dalam dua dimensi utama. Pertama, agar konstruksi wacana Hyperabstract yang sedang saya susun dapat menjadi semakin tajam dan komprehensif. Tanpa benturan pemikiran dari orang lain, sebuah gagasan baru dapat terjebak dalam narsisme intelektual yang tidak memiliki fondasi kuat dalam diskursus seni rupa yang lebih luas dan terbuka.
Kedua, dari sisi pencapaian visual, masukan dari pihak luar dapat memperkaya berbagai kemungkinan dalam proses kreatif saya di atas kanvas. Kritikan yang tepat sasaran sering kali membuka pintu-pintu teknis yang sebelumnya tidak terpikirkan, memaksa saya untuk melampaui batasan visual yang selama ini terasa sudah cukup. Bagi saya, mata seorang kritikus dapat melihat celah yang mungkin luput dari pandangan subjektif saya sebagai kreator.
Namun, saya menyadari bahwa tidak semua suara harus diserap bulat-bulat. Kritikan yang saya perhatikan adwlah yang bersifat membangun dan substansial, bukan sekadar nyinyiran, ejekan, atau candaan hampa. Pada titik ini, kesiapan mental dan kejernihan pikiran menjadi prasyarat mutlak; seorang seniman harus dapat memisahkan mana masukan yang berharga bagi pertumbuhan karya dan mana yang sekadar kebisingan tanpa esensi.
Menariknya, dialog yang bermula dari interaksi di media sosial tersebut tidak jarang berlanjut menjadi perjumpaan nyata secara offline. Diskusi-diskusi tersebut sering kali bertransformasi menjadi perdebatan ilmiah dalam berbagai forum diskusi fisik. Inilah bukti bahwa kritikan adalah energi yang menghidupkan wacana Hyperabstract, mengubah sebuah gagasan personal menjadi bagian dari percakapan intelektual seni rupa yang lebih besar dan bermakna.

Unisa Jatuhkan Sanksi Pelaku Kekerasan, DO Apabila Ada Keputusan Hukum 