catrawarta.com — Penetrasi ajaran-ajaran tertentu di internet sangat kuat di tengah perkembangan teknologi global. Termasuk potensi ajaran radikal. Namun demikian, ketahanan sosial masyarakat Yogyakarta cukup kuat. Dampaknya, indeks potensi radikalisme mengalami penurunan.
Hal itu terungkap saat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DIY menggelar kegiatan Internalisasi Hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025 dalam rangkaian Kajian Senin Kamis (KSK).
Kegiatan bertajuk ‘Strategi Kolaboratif Mempertahankan Jogja Damai’, berlangsung melalui zoom meeting, Senin (27/7/2026), diikuti sejumlah narasumber termasuk media massa.
Pertemuan daring tersebut menjadi forum strategis untuk mengoptimalkan pemanfaatan hasil survei IPR sebagai dasar penyusunan kebijakan pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme berbasis bukti.
Hasil Survei IPR Tahun 2025 menunjukkan Provinsi DIY mencatat nilai IPR sebesar 9,0, turun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 10,1. Penurunan tersebut terutama terjadi pada dimensi sikap dan tindakan, sehingga menempatkan DIY berada di bawah rata-rata nasional yang sebesar 10,4.
Ketahanan Sosial Baik
Menurut Direktur Pencegahan BNPT RI Brigjen TNI Dr Sigit Karyadi SH MH, capaian tersebut memperkuat citra Yogyakarta sebagai daerah yang memiliki ketahanan sosial baik dengan dukungan budaya toleransi, kehidupan masyarakat yang harmonis serta kolaborasi erat antara pemerintah daerah, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, media dan berbagai elemen masyarakat dalam menjaga kedamaian.
”Capaian ini patut kita syukuri dan apresiasi sebagai hasil kerja bersama antara pemerintah daerah, FKPT, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, media, dan seluruh elemen masyarakat dalam memperkuat ketahanan terhadap paham radikal,” paparnya.
Kendati demikian ia mengingatkan capaian tersebut tidak boleh membuat seluruh pihak lengah. Ancaman radikalisme terus bertransformasi melalui ruang digital, bahkan dipengaruhi dinamika geopolitik global yang dapat memicu munculnya simpatisan baru.
Ia menilai perlunya penguatan literasi digital, pengawasan penggunaan internet pada anak dan remaja, penguatan nilai kebangsaan serta percepatan implementasi Rencana Aksi Daerah Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAD PE) menjadi langkah strategis.
Peran Keluarga dan Masyarakat
Peneliti FKPT DIY Prof Zuly Qodir menambahkan salah satu kekuatan utama DIY yakni peran keluarga, rumah ibadah dan tokoh agama sebagai sumber utama informasi keagamaan lintas generasi. Kondisi tersebut menjadi modal sosial yang penting dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap pengaruh paham radikal.
Pada bagian lain, ia melihat tingginya penetrasi internet pada generasi muda, tingginya intensitas pencarian konten keagamaan di media sosial, serta rendahnya pengawasan penggunaan internet anak menjadi tantangan yang perlu antisipasi.
Ia tekankan pula pentingnya membangun ketahanan keluarga melalui pengawasan penggunaan gawai, pembatasan waktu penggunaan internet serta membentuk masyarakat yang kritis terhadap informasi. Hal ini agar anak tidak mudah terpapar narasi ekstremisme.

Festival Kali Brantas #5 Sambut Hari Sungai Nasional 