catrawarta.com — Bicara soal Kediri, mungkin banyak orang yang cukup mengenalnya dengan Kota Tahu, Monumen Simpang Lima Gumul, atau juga Kampung Inggris Pare. Namun, tak banyak yang tahu jika cikal bakal Kota Kediri ini justru lahir dari penemuan Prasasti Kwak tertanggal 27 Juli 879 M di Ngabean, Magelang, Jawa Tengah.
Dalam prasasti ini disebut soal pemberian tanah perdikan berstatus Tanah Sima yang bebas pajak di daerah Kwak Kediri kepada warga di Wanua Kwak atau Desa Kwak. Pemberian secara cuma-cuma ini tercatat lantaran warganya memiliki ketaatan luar biasa kepada Sri Maharaja Rakai Kyuwangi (Dyah Lokapala) dari Kerajaan Medang atau Mataram Kuno.
Prasasti ini juga dikeluarkan oleh orang nomor satu di Kerajaan Medang kala itu. Pemberian anugerah istimewa dari raja ini bisa disebut sebagai hal yang menarik.
Sebab, di tengah maraknya kewajiban setor upeti, warga di sana justru terbebas dari pajak dan bisa mengolah lahan secara mandiri sebagai persawahan yang subur. Sebab, area ini sejak zaman dahulu memang dialiri air dari patirtan Tirtayasa.
Intruksi ini diserahkan langsung kepada wilayah Watak Wka di bawah kepemimpnan Pucatura. Kebijakan sang raja ini juga disebut merupakan bentuk penghargaan atas keteladanan dan loyalitas kepemimpinan Pucatura dalam memajukan wilayah tersebut.
Prasasti ini juga memuat klausul perlindungan hukum yang ketat. Di dalamnya tertulis sejumlah larangan keras di luar anggota kepemimpinan Pucatura.
Bagi para Mangilala drwya haji, yaitu para abdi dalem atau petugas pemungut pajak resmi kerajaan, mereka dilarang keras menginjakkan kaki atau memungut pungutan apa pun di wilayah perdikan Kwak ini. Dengan aturan itu, kesejahteraan masyarakat lokal dijamin penuh oleh hukum kerajaan.
Prasastinya sendiri yakni berupa satu lempengan tembaga berukuran 35,7 x 32,8 cm. Dibuat dan dipahat di atas lempengan tembaga mengisyaratkan agar keputusan di atasnya nanti menjadi legal bagi siapa saja yang terkait di dalamnya.
Selain itu, ada juga tulisan berupa 17 baris di bagian depan dan 14 baris di bagian belakang serta ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno.
Sebagai pelengkap, terbit pula Prasasti Kwak II (Ngabean III) yang berukuran lebih kecil, yakni 34,2 x 6,5 sentimeter. Lempengan ini memuat 6 baris tulisan di kedua sisinya dan dikeluarkan secara resmi oleh pejabat tinggi bernama Rakarayan i Wka Pu Catura atas perintah langsung dari sang raja.
Dokumen kuno ini merupakan bukti tertulis paling awal mengenai keberadaan tata pemerintahan dan pemukiman di wilayah yang kini dikenal sebagai Kota Kediri, menjadikannya salah satu kota tertua di Jawa Timur.
Saat ini, prasasti tersebut diketahui tersimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris E6.
Ada Manusuk Sima, Napak Tilas Setiap Tahun

Untuk memperingati Hari Jadi Kota Kediri, setiap tahunnya Pemkot Kediri diketahui menggelar acara prosesi Manusuk Sima di Halaman Taman Tirtayasa, Kota Kediri. Dari tahun ke tahun pun, prosesinya selalu diadakan di Lingkungan Kuwak, tepatnya di kawasan mata air ini.
Hal ini seperti yang diungkap akademisi sejarah dan budaya Sigit Widiatmoko yang sejak diberikannya prasasti ini, masyarakat memang mendapat mandat untuk menjaga kesuburan tanah dan keselamatan sumber mata air. Sehingga, saat ini sekalipun, perayaan dan peringatan selalu berpusat di kawasan sumber air.
“Karena Pucatura diberikan tugas untuk menjaga kesuburan dan sumber mata air, jadi pusatnya di sekitar sumber air di Kwak. Karena itu merupakan wilayah yang tua. Termasuk di daerah perkuburan Ngadisimo,” terang Sigit.
Hal ini jelas sekaligus mengisyaratkan bahwa wilayah di sepanjang aliran air dari sumber Tirtayasa itu dimaksud sebagai kawasan tanah sima yang luas dan subur. Cikal bakal peradaban Kota Kediri.
Prosesi Manusuk Sima sendiri ibarat napak tilas pada lahirnya kota penuh sejarah ini. Agenda tahunan itu pasti selalu diawali dengan kirab prasasti oleh para seniman dan budayawan menuju panggung yang telah disediakan untuk berlangsungnya prosesi inti.
Setelah itu, kemudian dibacakan naskah jawa yang menggambarkan awal mula Kediri dan prosesi Manusuk Sima itu juga diiringi dengan tarian-tarian yang kental dengan tradisi di Kediri.

Polisi Tetapkan 5 Tersangka Pengeroyokan Pencuri Ayam di Tabanan Bali 