Catra Cendekia, Warta

Sejarah 22 Juli: Biografi Adam Malik, Tokoh Pers yang Menjadi Wapres ke-3 RI

22 Juli merupakan hari kelahiran Adam Malik. Ada keteladanan hidup yang bisa dipetik dari sang jenius asal Pematangsiantar.

Adam malik ketika duduk di posisi menteri luar negeri
Adam Malik ketika duduk di posisi Menteri Luar Negeri.. (dok. Kominfo)

catrawarta.com22 Juli dalam sejarah Indonesia erat kaitannya dengan peringatan kelahiran dari salah satu wartawan sekaligus diplomat ulung. Siapa lagi jika bukan Adam Malik, pria bertubuh kecil asal Pematangsiantar yang begitu brilian di berbagai bidang.

Jejak kepiawaiannya dalam memperjuangkan kemerdekaan RI menjadikannya sosok Pahlawan Nasional yang dikenang berkat jasa-jasa besar dan buah pemikirannya. Ketertarikannya dengan bidang politik, sudah ada di benaknya sejak kecil hingga melintasi empat zaman seperti zaman kolonial Belanda, Jepang, hingga Pemerintahan Soekarno, dan bergilir ke Soeharto.

Berlandaskan semangat itu serta jiwa nasionalisme yang terus berdegup kencang, Adam Malik muda nekat memberanikan diri pergi dari kampung halaman ke Jakarta di usianya yang ke-20 tahun sebagai wartawan.

Dengan rekan sejawat seperti Pandu Katawiguna, Albert Manumpak, Sipahutar, hingga Mr. Sumanang, dia menjadi salah satu tokoh yang memprakarsai berdirinya kantor berita Antara, kini bahkan dijadikan sebagai Kantor Berita Nasional sejak 13 Desember 1937.

Menariknya, dia dengan teman-temannya membuka kantor berita hanya bermodalkan satu meja tulis, satu mesin tulis tua, hingga satu mesin ronco. Tapi jangan salah, semangatnya yang mengalahkan keterbatasan ini justru sukses membuat Antara memasok berbagai berita ke sejumlah surat kabar nasional kala itu,

Sebelum berkiprah di Antara, Adam Malik lebih dulu memang telah menduduki posisi sebagai ketua Partindo, partai politik terbesar saat itu. Sepak terjangnya ini membuat Adam Malik kian dekat dengan perjuangannya di balik kemerdekaan Indonesia.

Bahkan ketika bekerja sebagai wartawan di harian Jepang Domei, dia dapat dengan mudah memperoleh akses informasi tentang dunia internasional saat itu. Dengan informasi ini, dia dapat memberi masukan kepada para tokoh bangsa untuk merebut kemerdekaan.

Aktif di Pemerintahan

Man in a suit and glasses speaks at a podium reading papers into a microphone
Adam Malik ketika menjabat Menteri Luar Negeri, sedang berbicara di mimbar PBB pada tahun 1966. (dok. Wikipedia)

Di usianya yang masih belia, dia kian getol memperjuangkan nasib bangsa Indonesia. Dia bahkan menjadi tokoh muda yang berperan aktif di Peristiwa Rengasdengklok.

Pasca kemerdekaan sekalipun, Adam Malik tak luput turut serta aktif membangun pemerintahan awal. Dia sempat mewakili kelompok muda memimpin komite Van Aksi hingga terpilih sebagai Ketua III Komite Nasional Indonesia pusat. Perannya yakni untuk mempersiapkan susunan pemerintahan.

Hingga tahun 1950, dia lantas mulai berkarir di kancah internasional. Dia secara resmi ditunjuk Soekarno sebagai Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk negara Uni Soviet dan Polandia.

Tak cukup itu, Adam Malik yang punya kecerdasan istimewa ini lantas kian dilirik di dalam negeri. Dia didapuk menjadi Menteri Perdagangan hingga Menteri Luar Negeri selama lima kali berturut-turut.

Di tangan dinginnya, berdiri organisasi ASEAN melalui Deklarasi Bangkok yang diikutinya. Dia pun juga resmi menjadi orang Indonesia pertama yang memiliki posisi sebagai Presiden Majlies Umum PBB.

Pada tahun 1978 hingga 1983, Adam Malik lantas mendampingi Presiden ketiga RI Soeharto duduk di badan eksekutif negara. Dia menjadi Wakil Presiden ke-3 RI.

Kehidupan Masa Kecil hingga Remaja

Soal masa kecil, banyak sebenarnya yang tak cukup mengenal Adam Malik. Putra daerah ini lahir pada 22 Juli 1917 di Sumatera Utara dengan nama lengkap Adam Malik Batubara dari pasangan Abdul Malik Batubara dan Siti Salamah Lubis.

Tumbuh di lingkungan taat beragama, Adam Malik kecil sejatinya mendapat pendidikan agama yang baik. Saat itu juga, dia sempat mengenyam pendidikan di Hollands-Inlandsche School (HIS) Pematang Siantar, sebuah sekolah rendah pribumi pada era penjajahan Belanda.

Bersekolah dengan otak jenius, Adam Malik justru hanya menuntaskan sekolah hingga kelas 5 HIS. Dia mengaku enggan di sekolah Belanda dan lebih memilih membantu orangtua berjualan.

Meski masih kecil, Adam Malik selalu menyempatkan diri untuk melakukan hobinya yakni membaca banyak buku hingga majalah berpikiran progresif. Beberapa majalah yang mengantarkan Adam Malik remaja menjadi sosok kritis ini adalah ‘Seruan Azhar’ oleh mahasiswa Indonesia di Kairo, ‘Medan Muslim’ terbitan Yogyakarta, hingga surat kabar ‘Pewarta Deli’.

‘Seruan Azhar’ mengenalkan Adam Malik soal perjuangan bangsa Mesir yang dinilainya berlawanan dengan keadaan kaum kuli di Pematangsiantar. Sementara ‘Medan Muslim’ membukakan matanya soal kisah Haji Misbach yang meledakkan granat di siang hari sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *