Catra Budaya

Asal-usul Marga Kolopaking, Berawal dari Raja Mataram

Nama Kolopaking mungkin lebih dikenal masyarakat melalui aktris sekaligus penyanyi Novia Kolopaking. Padahal memiliki jejak sejarah panjang.

Nama kolopaking mungkin lebih dikenal masyarakat melalui aktris sekaligus penyanyi novia kolopaking Nama kolopaking memiliki akar sejarah panjang
Makam Bupati Kebumen Tumenggung Kolopaking di Desa Kalijirek, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. (dok Wikipedia)

catrawarta.comNama Kolopaking mungkin lebih dikenal masyarakat melalui aktris sekaligus penyanyi Novia Kolopaking, istri budayawan Emha Ainun Nadjib. Namun, di balik nama tersebut tersimpan sejarah panjang yang berakar pada masa Kerajaan Mataram Islam.

Hal itu diungkap sastrawan dan penulis asal Banyumas, Nassirun Purwokartun, dalam salah satu tulisannya yang telah dibukukan, Babad Kolopaking. Selain membahas Babad Banyumas, Nassirun juga mengulas asal-usul lahirnya marga Kolopaking yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Kebumen dan Banjarnegara.

Menurut Nassirun, sosok pertama yang menyandang nama Kolopaking adalah Raden Bagus Kertawangsa, seorang Ngabehi Panjer. Panjer merupakan nama lama wilayah yang kemudian berkembang menjadi Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.

Pada masa lalu, Panjer merupakan sebuah kadipaten di bawah kekuasaan Kesultanan Demak dan kemudian Kerajaan Mataram. Pusat pemerintahannya berada di kawasan yang kini menjadi kompleks Makodim 0709/Kebumen. Nama Panjer resmi berganti menjadi Kebumen pada 1936.

Berawal dari Kelapa Tua hingga Dinasti Bupati

Kisah lahirnya nama Kolopaking bermula ketika Raden Bagus Kertawangsa berhasil menyembuhkan Raja Mataram, Sunan Amangkurat I, yang sedang sakit. Sang raja dikisahkan pulih setelah meminum air dari kelapa tua yang diberikan oleh Bagus Kertawangsa.

Sebagai bentuk penghargaan, Sunan Amangkurat I memberikan dua hadiah kepada Bagus Kertawangsa.

Pertama, ia menikahkan putrinya, Kleting Abang, dengan Bagus Kertawangsa. Kedua, ia menganugerahkan gelar Tumenggung beserta nama kehormatan Kalopo Aking, yang berarti kelapa tua atau kelapa kering.

“Dari kalopo aking ini, orang Jawa saat melafalkan menjadi klopoaking dan akhirnya menjadi Kolopaking,” tulis Nassirun.

Gelar Kolopaking kemudian diwariskan secara turun-temurun hingga generasi keenam.

Stone mossy staircase with green handrails leading up to a gated archway at a stone entrance surrounded by trees and stone walls sign above the arch is not legible
Makam Tumenggung Kolopaking (dok Wikipedia)

Keturunan Raden Bagus Kertawangsa melahirkan sejumlah tokoh penting di wilayah Kebumen. Salah satunya Kolopaking III, yang tercatat sebagai pejuang pengikut Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa.

Keluarga Kolopaking juga terus memegang jabatan Tumenggung hingga masa Kolopaking IV yang memimpin sekitar 1790–1833.

Jejak keluarga ini kemudian berlanjut ke Banjarnegara. Adipati Joyonegoro II atau Soemitro Kolopaking, putra sulung Adipati Joyonegoro I (Kolopaking V), menjabat sebagai Bupati Banjarnegara.

Sementara itu, Raden Soedjono Kolopaking, putra keenam Joyonegoro II atau Kolopaking VI, juga dipercaya menjadi Bupati Banjarnegara.

Dari garis keturunan inilah lahir Raden Soeprapto Kolopaking, putra ketujuh Raden Soedjono Kolopaking, yang merupakan ayah kandung Novia Kolopaking.

Para bupati Banjarnegara dari keluarga Kolopaking dimakamkan di kompleks makam keluarga Kuwondogiri, Blambangan, Kabupaten Banjarnegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *