Etalase

Afnan Malay, Transformasi Penyintas Menuju “Energi Rupa”

catrawarta.com — Tuhan kadang menekan dan menutup satu pintu, lalu membuka pintu lain untuk dijalani. Boleh jadi itu akan berat, tetapi, dengan...

Afnan malay
Afnan Malay di depan karyanya (Dok. Penulis)

catrawarta.comTuhan kadang menekan dan menutup satu pintu, lalu membuka pintu lain untuk dijalani. Boleh jadi itu akan berat, tetapi, dengan keseriusan dan ketekunan, akan mengajak kita menemukan cakrawala baru. Sebuah etape perjalanan yang tak pernah dibayangkan, tetapi memberi kita daya hidup.

Begitu pun dengan tubuh kita. Susunan organ dan metabolismenya sudah ditata, sedemikian rupa, oleh Tuhan dengan masing-masing fungsi yang bisa kita gunakan untuk menapaki kehidupan dan membangun kebudayaan. Bangsa dengan peradaban agung, konon, diwarnai oleh kehadiran orang-orang yang, tidak saja memahami fungsi organ tubuh, tetapi mengoptimalkan inderanya untuk melahirkan karya.

Dunia mencatat antara lain ada Ludwig van Beethoven, Chieko Shiokawa atau David Call. Kita punya Sabar Subadri, Wahyu Senayadi, atau Muhammad Haryanto, sekedar sebagai contoh. Karya-karya mereka tidak saja mendunia tetapi juga memantulkan sebuah kesadaran spiritual bahwa kesempurnaan hidup tak harus diukur dari urusan artifisial fisik semata tetapi pada ada tidaknya, kata penyair WS. Rendra, daya hidup.

Dalam beberapa hal, konteks di atas bisa kita gunakan untuk membaca Afnan Malay. Tak henti bertransformasi, meledak-ledak, dari seorang aktivis kampus dengan Sumpah Mahasiswa-nya, politisi, penyair dan kini perupa, Afnan jujur mengakui pragmatisme dalam hidup, “Aku wis tuwo, nek wis tuwo ki ngopo wae bener”. Dalam bahasa lain, Afnan mengatakan hidupnya mengalir.

Satu hal yang, mungkin, tak bisa kita bayangkan adalah bagaimana dia mengolah dan mengelola energi dan daya hidup itu setelah terkena stroke pada 2018. Yang bisa kita saksikan, dan kemudian bisa sedikit memahaminya, adalah energi sakit itu mengarahkannya ke kanvas, merekam segala memori ke dalam bentuk lukisan, sesuai kehendak tangan. Ke mana tangan bergerak, ke sana gurat-gurat pengalaman hidup terbahasakan.

Dalam bahasa Faizol Reza, Wakil Menteri Perindustrian yang membuka pameran tunggal Afnan Malay di Kembang Jati Art House 18 Juli 2026, kita seperti melihat “kegagalan” Afnan. Konteksnya, masalah konsistensi hidup yang dijalani Afnan. Nyaring menjadi seorang demonstran, lalu tiba-tiba menjadi politisi, beberapa saat kemudian lantang menjadi penyair, dan akhirnya menari-nari menjadi seorang pelukis. Kasat mata memang terlihat Afnan kompromis atas perjalanan hidup, tetapi ada satu hal yang dilupakan Faizol, Afnan tidak pernah kompromi dengan penindasan. “Lawan!”.

Tak mudah bagi khalayak memahami karya-karya yang dia pamerkan. Sebagai sebuah karya abstrak, tafsir terbuka lebar untuk membaca dan membahasakannya. Dan untuk itu, Afnan tak pernah takut untuk dicibir siapapun setelah melihat karyanya. Sehingga dia merasa perlu mengomentari celetukan Anang Batas, dalam nada guyon, yang mengaitkan penyintas sebagai pelukis yang adol welas. Jujur Afnan mengatakan, dengan cuan kok malu. Tetapi, seperti di atas telah ditulis, itu adalah daya hidup Afnan dalam mengelola energi, yang boleh jadi jika kita yang menjadi penyintas stroke, tak akan mampu melakukan apa yang dikerjakan Afnan.

Penghormatan layak diberikan kepada Afnan meski dia sendiri mengakui sudah tak mempan dengan pujian. Bilapun Faizol Reza rela terbang dari Jakarta ke Yogyakarta, yang diakuinya tidak berkompeten, untuk membuka pameran, bisa dimaknai lebih dari sekedar kehangatan sosial sesama aktivis. Juga puluhan teman tidak saja kalangan aktivis tetapi juga seniman dan budayawan yang datang, sesungguhnya, diam-diam, sedang cemburu dengan daya hidup Afnan yang tetap meledak-ledak, puitis dan belum ada tanda-tanda mau menyerah.

Selamat atas pencapaiannya Bung. Tetaplah menjadi rajawali, jika harus mengatakan rasa sakit sebagai sangkar, sebagaimana ditulis WS. Rendra dalam Sajak Rajawali:

Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah seekor rajawali
menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
Rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti

Ksatrian Sendaren, 19 Juli 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *