catrawarta.com — Dia tak mengenal Pancasila, ajaran hamemayu hayuning bawana, apalagi jual-jual ayat yang mengaitkan peran manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dia hanya seorang perempuan, ibu, dan kebetulan Tuhan memberinya jalan untuk menapaki kesuksesan di dunia hiburan. Tapi soal kemanusiaan, kelestarian alam, kesederajatan, pendidikan, perdamaian, boleh jadi bisa dijadikan teladan.
Angelina Jolie. Lahir di Los Angeles 4 Juni 1975, mungkin akan dikenal sebagai perempuan pelestari alam. Komitmen dan keseriusannya dalam menjaga bumi tak diragukan. Terakhir, dia beli 60.000 ha hutan, 18 kali luas Daerah Istimewa Yogyakarta, di Kamboja untuk dijadikan cagar alam dan konservasi satwa liar. Kawasan di kawasan Samlout, Provinsi Battambang, Kamboja semula merupakan surga bagi para pemburu liar yang mengancam kelestarian satwa.
Entah bisikan gaib seperti apa yang didengar Jolie hingga begitu kepranan, jatuh cinta dengan totalitas lahir batin, pada Kamboja. Ada alasan teknis, memang, dia sedang menggarap film Lara Croft: Tomb Raider (2001). Namun, hatinya mengarahkan pada seorang anak di sebuah panti asuhan dan batinnya berbisik, “Anak saya ada di sini”, katanya pada sebuah media.
Akhirnya, kita tahu, Jolie mengambil Maddox Chivan, anak itu, sebagai anak angkat pada 2002. Sejak saat itu, hidup Jolie seolah diarahkan, menjadi begitu loma, menghibahkan kekayaannya untuk kemanusiaan dan pelestarian lingkungan alam, melalui Yayasan Maddox.
Kamboja, negeri yang mempunyai sejarah panjang penuh warna, menjadi titik balik dan kebangkitan Jolie, seorang aktris dengan perjalanan hidup yang tak semuanya bisa dipahami. Merangkak penuh ujian, berteman heroin dalam kehidupan jalanan, suka menyakiti diri, hingga bisa berdiri tegak di panggung Hollywood dengan bayaran tertinggi dan diakui sebagai Duta UNHCR.
Kita tinggalkan Jolie yang membesarkan enam anak, tiga anak kandung dan tiga anak angkat, sambil menyelesaikan statusnya dengan Brad Pitt, untuk melihat sebuah negeri di selatan Kamboja.
Lama dikenal sebagai zamrud khatulistiwa, setidaknya di buku-buku sekolah, Indonesia menghadapi permasalahan serius tentang lingkungan alam. Luas hutan kita saat ini sekitar 95,5 juta ha dengan tingkat deforestasi yang sulit terkendali. Pada 2024, menurut situs Kemenhut, angka deforestasi mencapai 175,4 ribu ha, terbesar meliputi wilayah Kalimantan, Sumatra dan Papua.
Dampaknya, selain kerusakan ekosistem juga punahnya beberapa satwa endemik seperti mamalia besar (orangutan, harimau, gajah, badak), juga komodo, anoa, elang, pesut dan tapir. Vegetasi langka juga seperti kayu ulin, raflesia, bunga bangkai, cendana, anggrek hitam, kantong semar, juga semakin hilang. Bencana ekologis pun sudah di depan mata.
Di tengah duka derita akibat bencana dan ancaman kekeringan serta badai panas, kita bertanya, dibawa kemana kekayaan yang dimiliki orang-orang kaya di Indonesia? Ada beberapa nama yang tercatat peduli pada kelestarian alam dan hutan, seperti Sukianto Lusli Rio Christiawan, Agus Budi Utomo, atau Yusup Cahyadin, tetapi mengapa eksploitasi hutan dan tambang kita seolah tak pernah berhenti? Bagaimana bisa pemerintah seolah tak melihat ribuan tongkang yang tiap hari lalu lalang di sungai Barito, Kapuas dan Mahakam?
Kita diminta mencintai negeri ini. Kita dilarang merusak alam dan hutan. Tetapi mengapa negara seolah abai dengan amanat konstitusi 1945? Beberapa pulau yang kaya dan indah seperti sudah dikapling untuk kepentingan yang kita tidak tahu kemana larinya. Suku-suku pedalaman, yang selama ini menjaga keseimbangan alam dengan mekanisme adat, menjadi terusir dari tanah kelahirannya.
Mereka dianggap musuh yang harus dihadapi oleh aparat tanpa tahu bagaimana nasib dan kehidupannya. Entah sampai kapan kita, juga anak cucu kita, akan sadar betapa anugerah alam indah ini benar-benar telah menjadi musibah.
Angelina Jolie, kapan kau akan ke Indonesia? Atau, tidak sama sekali?
Ksatrian Sendaren, 7 Juli 2026

Belalang Goreng: Jejak Kuliner Ekstrem Gunungkidul yang Mulai Punah di Tanah Sendiri 