catrawarta.com — “Jadilah arsitek pembelajaran, bukan operator pembelajaran. Operator hanya mengulang proses yang sama, sementara arsitek memiliki kreativitas untuk menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak-anak”.
Kutipan paparan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A saat penguatan kompetensi guru di Garut (Siaran Pers, 6/6/2026) menarik dielaborasi. Peran sentral guru bagi kesuksesan pendidikan tak ada yang meragukan. Banyak teori yang mengangkat dan telah mengulasnya. Bukan lagi sumber kebenaran tetapi jembatan bagi anak-anak untuk menemukan ilmu, pengetahuan, keterampilan dan kebenaran.
Bahwa nasib guru belum juga mampu mendekati ideal, banyak alasan bisa dikemukakan. Tetapi mendorong guru menjadi arsitek pembelajaran sungguh bukan hal yang mudah dilakukan. Bukan saja karena guru dididik dalam kadar pedagogis yang ketat, tetapi menjadi arsitek itu harus memiliki kecerdasan lain menyangkut seni. Tidak saja harus responsif dan cekatan dalam melihat ruang dan waktu, tetapi juga mampu membangun imajinasi melalui beragam inspirasi. Dengan konstruk kurikulum sepadat seperti yang sekarang diberlakukan, ditambah tetek-bengek administrasi dan urusan rumah tangga, bisakah guru dalam waktu cepat berubah menjadi arsitek pembelajaran?
Jika kita menengok ke belakang, saat negara ini masih diperjuangkan kemerdekaannya, para tokoh pergerakan (memang) menjadikan dunia pendidikan sebagai media perjuangan. Mereka tidak saja menuangkan pemikirannya terkait pendidikan bangsa, tetapi kebanyakan nyambi menjadi guru. Ruang kerja atau kamar tidur mereka penuh dengan buku-buku berkualitas dari para ilmuwan dan penulis dunia. Tak aneh jika cakrawala pemikiran mereka sangat luas dan mendalam.
Suatu waktu Ir. Soekarno diminta untuk menjadi asisten guru besarnya, Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker, saat kuliah di Technische Hoogeschool te Bandung (ITB) pada 1922-1926. Terbayang, sebagai mahasiswa kesayangan yang cerdas dan tawaran masa depan yang mapan, Soekarno akan menyambut ajakan guru besarnya. Tetapi, bagaimana jawaban Soekarno? “Saya tidak yakin di kemudian hari akan menjadi pembangun rumah. Tujuan saya ialah menjadi pembangun sebuah bangsa”.
Tak sulit bagi Soekarno membangun rumah atau mengarsiteki sebuah bangunan. Karya-karyanya masih bisa ditemukan di Bandung. Tetapi mengarsiteki berdirinya sebuah bangsa yang hidup dalam keterbelakangan karena penjajahan, sungguh sebuah visi anak bangsa yang brilian dan bernyali. Soekarno, kemudian, memang menjadi guru terutama saat berada di pembuangan atau pengasingan, seperti di perguruan Muhammadiyah di Bengkulu (1938-1942) atau Ksatria Institute di Surabaya (1926). Namun, dia tidak melulu karena mencari pekerjaan tetapi membangkitkan kesadaran bangsanya.
Bukan hal yang aneh jika kemudian, tujuan negara ini didirikan antara lain adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (Preambule UUD 1945). Bayangkan, saat Indonesia merdeka penduduk yang buta huruf mencapai 90% dari total populasi. Dari 61 juta penduduk Indonesia, hanya sekitar 6 juta yang mampu membaca dan menulis. Itulah kenapa Bung Karno pada 14 Maret 1948 membuka gerakan pemberantasan buta huruf di Yogyakarta. Slogan yang dipasang, “Bantulah Usaha Pemberantasan Buta Huruf”.
Secara konsisten Bung Karno meletakkan pendidikan sebagai jalan menuju peradaban. Dalam banyak pidatonya, Bung Karno menekankan national program and character building. Pendidikan karakter menjadi kunci kemajuan bangsa. Dalam bahasa tokoh pendidikan, Anies Baswedan, pendidikan adalah eskalator. Ia mengangkat anak-anak dari keluarga kurang mampu ke strata sosial yang lebih tinggi. Masih mau mengabaikan pentingnya pendidikan bagi kehidupan dan peradaban?
Sudah saatnya bangsa dan negara ini, kembali, menekuni dan mempraktikkan konsep-konsep pendidikan yang telah ditulis dan digagas Ki Hajar Dewantara. Kita telah berkhianat tiga kali, kepada Ki Hajar Dewantara, para pendiri bangsa dan kepada para guru. Jika ingin melihat Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan, kini saatnya, sebelum semua terlambat.
Ksatrian Sendaren, 9 Juni 2026

I Wayan Westa: Spirit Kebudayaan Bali Belum Mati 